Friday, July 11, 2008

Saat Aku Terlelap

Purnama masih setia membelai setiap kujur tubuhku dan tubuhnya malamitu, saat kami masih terbaring terlelap di atas ranjang yang takseberapa empuk itu. Kain putih yang hangat adalah satu-satunya kainyang melapisi tubuh kami dari dinginnya malam. Aku terlelap, namunfikiranku tak kunjung berkelana ke alam mimpi. Angan ini begitusetia pada tempat ini, ranjang ini, dan tubuh yang terbaring disebelahku saat ini.

Tapi ia masih terjaga, ada sisa-sisa romansa yang membuatnya tidakkuasa untuk menutup mata. Ia tidak terlihat letih, walaupun sudahterkonsumsi separuh energi kami untuk bercinta. Tatapan itu seolahmembelai setiap jengkal tubuh ini, saat ia mengawasi setiap tetesancahaya purnama yang jatuh ke tubuhku. Lalu dipeluknya tubuh ini.Kulitnya menggantikan tugas mata yang sejenak tadi begitu seksamamembelai kulitku. Dan kini kulitnya begitu seksama membelai kulitku.

Dan tanpa kusadari seberkas air liur sudah menempel di punggungku.Air liur yang tak sengaja menempel saat bibirnya yang basahmenyentuh punggung ini. Aku pun masih terlelap, namun aku tiadabermimpi. Belaian seksama dan seberkas air liur yang membuat anganini tak mau beranjak kemana-mana.

Direbahkannya kepalanya kepundakku, benar-benar kepala itu menyerahpada gravitasi. Dan untuk sejenak terpejamlah kedua bola mata itu.Namun ia tidak tertidur, ia memang tiada niatan untuk tertidur,seberat apapun kedua kelopak mata itu membujuknya untuk menyudahimalam, atau sejenuh apapun otak itu pada dunia dan ingin segeramelangkah jauh dari segala hal yang nyata. Ia tidak tertidur, iahanya ingin merebahkan kepalanya sejenak ke pundak seseorang,alangkah beruntungnya orang itu, dan aku adalah orang yang beruntung.

Rambut itu halus bagaikan sutra, dan licin bagaikan permukaan air disaat angin tidak berhembus. Helai demi helai mencoba membungkussetiap lekukan pundak, leher dan lenganku saat ia merebahkankepalanya ke pundak ini. Setiap helai berusaha mengambil setidaknyasatu tempat di tubuhku ini. Kulitkupun mulai bereaksi denganmemberikan sensasi yang cukup hebat untuk membuat jantung iniberdebar sedikit lebih cepat. Dan lebih cepat lagi setiap hembusannafas yang begitu dekat. Aku tak pernah merasakan hembusan nafasorang lain sedekat dan selama ini. Hembusan nafas manusia lain yangmerebahkan kepalanya di pundakku menggelitik telinga dengansuaranya. Sedekat ini memang membuat suara terkecil pun terasabegitu besar. Darah mengalir begitu cepat sehingga membuat semuasyaraf sarat akan energi, dan membuat semua rangsangan terhadapindera apapun terkesan terlipat ganda.

Lama, tetapi tidak cukup lama, ia angkat kembali kepala itu. Beratkepala itu meninggalkan bekas di pundakku, daging itu terasa sedikitmenyengat oleh beban sebanyak itu, namun aku tidak mengomel. Iniskenario yang aku harapkan, berkali kali tubuh kami bertemu. Tubuhkami sudah semakin akrab, bahkan otak kamipun juga begitu. Iamerebahkan kepalanya lama, tetapi tidak cukup lama.

Tak lama separuh tubuh itu sudah terangkat, ditopang oleh tangankiri, saat tangan yang satunya lagi menutupi payudara dengan sau-satunya kain yang melindungi kami dari dinginnya malam. Dan akumasih terlelap, sedangkan ia tidak sedikitpun terlintas untukberbuat sama. Sebaliknya ia diam-diam dibuainya, dengan usapanlembut di rambut. Tangan itu melintas dengan hati-hati dari ubun-ubun sampai dahi tempat rambutku berhenti. Ia tidak ingin akuterjaga dari mimpi. Namun ia tidak sadari bahwa anganku masihdisini, dan aku tiada bermimpi. Berulang kali tangan itu mengusaprambutku, saat kedua matanya memanjakan tatapan dengan memuaskankeinginan untuk menelusuri tiap sudut wajahku, dan tiap helairambutku.

Lama ia menatapku dan memperhatikan bagaimana cahaya purnama menaridiatas kulitku, tetapi tidak cukup lama. Waktu selalu menjadi musuhsaat aku berbaring di sampingnya. Lalu diberinya aku sebuah kecupanhangat selamat malam di dahiku. Kembali detakan jantung yang sempatmelambat saat ia tak lagi bernafas di dekatku, memompa darah lebihcepat. Dan kembali bibir basah itu meninggalkan seberkas liur kepermukaan kulitku.

Ranjang itu bertingkah berbeda dari sebelumnya, saat ia hanyamenopang berat tubuh satu orang manusia. Tingkah laku ranjang inilahyang membuatku sadar bahwa ia tak lagi ada di sampingku. Reaksirefleks membuat kedua mata ini terbuka dan mengumpulkan sisa-sisakesadaran yang ada. Aku membalikkan tubuhku ke arahnya, dan terlihatsosoknya di bibir ranjang, sedang memungut satu-persatu potonganpakaiannya yang berserakan di lantai dekat ranjang itu.

Ia hanya sempat memakai celana dalam dan menutup aurat lainnyadengan pakaian yang didekapnya erat ke dada, saat ia menyadari bahwaaku sedang menatapnya saat ini. Ia memalingkan kepalanya saat keduakakinya mengambil dan memasang sepasang sepatu hak tinggi yang iamiliki. Dan ia tersenyum kecil ke arahku mesra saat kakinya masihkasak-kusuk memasang sepatu itu.

Segera aku mencoba untuk bangun dari terbaringnya diriku, namunsecepat itu pula ia mencoba menghentikanku. Namun aku sudahterlanjur terduduk di ranjang itu. Dan ia pun mulai tersenyum lebihlebar dari sebelumnya dan lalu ia pun berkata.

"Jangan! Gak usah! Yang ini gratis kok."

May 15, 2004

Saat Aku Terlelap

Purnama masih setia membelai setiap kujur tubuhku dan tubuhnya malamitu, saat kami masih terbaring terlelap di atas ranjang yang takseberapa empuk itu. Kain putih yang hangat adalah satu-satunya kainyang melapisi tubuh kami dari dinginnya malam. Aku terlelap, namunfikiranku tak kunjung berkelana ke alam mimpi. Angan ini begitusetia pada tempat ini, ranjang ini, dan tubuh yang terbaring disebelahku saat ini.

Tapi ia masih terjaga, ada sisa-sisa romansa yang membuatnya tidakkuasa untuk menutup mata. Ia tidak terlihat letih, walaupun sudahterkonsumsi separuh energi kami untuk bercinta. Tatapan itu seolahmembelai setiap jengkal tubuh ini, saat ia mengawasi setiap tetesancahaya purnama yang jatuh ke tubuhku. Lalu dipeluknya tubuh ini.Kulitnya menggantikan tugas mata yang sejenak tadi begitu seksamamembelai kulitku. Dan kini kulitnya begitu seksama membelai kulitku.

Dan tanpa kusadari seberkas air liur sudah menempel di punggungku.Air liur yang tak sengaja menempel saat bibirnya yang basahmenyentuh punggung ini. Aku pun masih terlelap, namun aku tiadabermimpi. Belaian seksama dan seberkas air liur yang membuat anganini tak mau beranjak kemana-mana.

Direbahkannya kepalanya kepundakku, benar-benar kepala itu menyerahpada gravitasi. Dan untuk sejenak terpejamlah kedua bola mata itu.Namun ia tidak tertidur, ia memang tiada niatan untuk tertidur,seberat apapun kedua kelopak mata itu membujuknya untuk menyudahimalam, atau sejenuh apapun otak itu pada dunia dan ingin segeramelangkah jauh dari segala hal yang nyata. Ia tidak tertidur, iahanya ingin merebahkan kepalanya sejenak ke pundak seseorang,alangkah beruntungnya orang itu, dan aku adalah orang yang beruntung.

Rambut itu halus bagaikan sutra, dan licin bagaikan permukaan air disaat angin tidak berhembus. Helai demi helai mencoba membungkussetiap lekukan pundak, leher dan lenganku saat ia merebahkankepalanya ke pundak ini. Setiap helai berusaha mengambil setidaknyasatu tempat di tubuhku ini. Kulitkupun mulai bereaksi denganmemberikan sensasi yang cukup hebat untuk membuat jantung iniberdebar sedikit lebih cepat. Dan lebih cepat lagi setiap hembusannafas yang begitu dekat. Aku tak pernah merasakan hembusan nafasorang lain sedekat dan selama ini. Hembusan nafas manusia lain yangmerebahkan kepalanya di pundakku menggelitik telinga dengansuaranya. Sedekat ini memang membuat suara terkecil pun terasabegitu besar. Darah mengalir begitu cepat sehingga membuat semuasyaraf sarat akan energi, dan membuat semua rangsangan terhadapindera apapun terkesan terlipat ganda.

Lama, tetapi tidak cukup lama, ia angkat kembali kepala itu. Beratkepala itu meninggalkan bekas di pundakku, daging itu terasa sedikitmenyengat oleh beban sebanyak itu, namun aku tidak mengomel. Iniskenario yang aku harapkan, berkali kali tubuh kami bertemu. Tubuhkami sudah semakin akrab, bahkan otak kamipun juga begitu. Iamerebahkan kepalanya lama, tetapi tidak cukup lama.

Tak lama separuh tubuh itu sudah terangkat, ditopang oleh tangankiri, saat tangan yang satunya lagi menutupi payudara dengan sau-satunya kain yang melindungi kami dari dinginnya malam. Dan akumasih terlelap, sedangkan ia tidak sedikitpun terlintas untukberbuat sama. Sebaliknya ia diam-diam dibuainya, dengan usapanlembut di rambut. Tangan itu melintas dengan hati-hati dari ubun-ubun sampai dahi tempat rambutku berhenti. Ia tidak ingin akuterjaga dari mimpi. Namun ia tidak sadari bahwa anganku masihdisini, dan aku tiada bermimpi. Berulang kali tangan itu mengusaprambutku, saat kedua matanya memanjakan tatapan dengan memuaskankeinginan untuk menelusuri tiap sudut wajahku, dan tiap helairambutku.

Lama ia menatapku dan memperhatikan bagaimana cahaya purnama menaridiatas kulitku, tetapi tidak cukup lama. Waktu selalu menjadi musuhsaat aku berbaring di sampingnya. Lalu diberinya aku sebuah kecupanhangat selamat malam di dahiku. Kembali detakan jantung yang sempatmelambat saat ia tak lagi bernafas di dekatku, memompa darah lebihcepat. Dan kembali bibir basah itu meninggalkan seberkas liur kepermukaan kulitku.

Ranjang itu bertingkah berbeda dari sebelumnya, saat ia hanyamenopang berat tubuh satu orang manusia. Tingkah laku ranjang inilahyang membuatku sadar bahwa ia tak lagi ada di sampingku. Reaksirefleks membuat kedua mata ini terbuka dan mengumpulkan sisa-sisakesadaran yang ada. Aku membalikkan tubuhku ke arahnya, dan terlihatsosoknya di bibir ranjang, sedang memungut satu-persatu potonganpakaiannya yang berserakan di lantai dekat ranjang itu.

Ia hanya sempat memakai celana dalam dan menutup aurat lainnyadengan pakaian yang didekapnya erat ke dada, saat ia menyadari bahwaaku sedang menatapnya saat ini. Ia memalingkan kepalanya saat keduakakinya mengambil dan memasang sepasang sepatu hak tinggi yang iamiliki. Dan ia tersenyum kecil ke arahku mesra saat kakinya masihkasak-kusuk memasang sepatu itu.

Segera aku mencoba untuk bangun dari terbaringnya diriku, namunsecepat itu pula ia mencoba menghentikanku. Namun aku sudahterlanjur terduduk di ranjang itu. Dan ia pun mulai tersenyum lebihlebar dari sebelumnya dan lalu ia pun berkata.

"Jangan! Gak usah! Yang ini gratis kok."

May 15, 2004

SMS

+628161452…
25-Mar-2004
13:52:40
Halo, Indra! Apa kabar in? Lagi ngapain in? :)

Indra Jelek
25-Mar-2004
13:54:50
Baek-baek aja! Siapa nih? Sori bgt kalo gue lupa.

+628161452…
25-Mar-2004
14:02:05
Tebak dng! Ciri-cirinya: putih, tinggi, rambut kriting, suka jalanbareng ama farrah, temen km sma. Msk lupa si! :p

Indra Jelek
25-Mar-2004
14:09:36
yang kayak gitu waktu sma mah kiki namanya. Apa bnr ini Kiki? Pa kbr,bu?

+628161452…
25-Mar-2004
14:15:47
Tepat! Seratus untuk anda! Anda mendapatkan piring cantik, he3x. amasiapa skr? Ko km gak nelpon aku lg? Marah ya? Ampe no ku diapus gitu.Sori deh! Ngapain km skr?

Indra Jelek
25-Mar-2004
14:16:05
Duh, bukan maksud hati ni. Bukan gt ko, ampe segitunya! No km tu gaksengaja ke apus, swerr!!! Aku masi sendiri ko, masuk binus, kamu gmn?

+628161452…
25-Mar-2004
14:15:47
Buset, si iin. Sigap bgt jawabnya!:) aku nganggur nih, paling lesdoang. O masi sendiri, yakin? He3x! Well, ya ud kl gt, aku les dl ya!Taa..!

***

Indra Item
25-Mar-2004
14:17:53
Farrah, gw barusan di smsin Kiki. Dia udah punya cowo blon si?

Farrah
25-Mar-2004
14:20:53
Tringat masa lalu ni? Stau gw si dia blon ada. Yg deketin mah banyak.Knp, mo dktin juga, daftar dl ama gw! Beli formulir dl trus ngantridi loket!

Indra Item
25-Mar-2004
14:22:23
Rese lo! Dia masi sering jln ga si, ama lo? Dia masi suka curhat ga?Masi suka ngomongin gw ga? Rmhnya masi yg dulu ga?

Farrah
25-Mar-2004
14:25:31
Woi, lo bknnya masih ama Clarisa? Dasar lelaki! Iye, iye, iye daniye. Eh ngomong-ngomong info itu ga gratis ya!

Indra Item
25-Mar-2004
14:26:23
Ica? bete gw. Anaknya manja, untung cakep jd ga gw putusin d. hi3x.lagian siapa yg mau deketin Kiki, bu? orang gw cm pgn say hai aja.Gratis ga gratis gampang d! btw lo bilang ga gw masih jadian ama Ica?

Farrah
25-Mar-2004
14:25:31
Tidak bos! Gw uda insyaf jadi bigos. Lagian elo putus nyambung mulu.Kalo kiki nanya juga bingung gue.

***

Nunu Kritz
25-Mar-2004
16:17:20
Ndra, gw pinjem gtr lo dng! Gw bsk ngetake ni di ari. Yg strat kl bs,ga dipake kan? Ama kabel deh. Mlmnya lgsg gw blkin. Tlg bgt ni ya,plis! Gw ambil k rmh, lo ada jam brp?

IndraMorrelo
25-Mar-2004
16:25:20
Pake aja, lngsg blkin kan? Gw Sbtunya maen di Sahid. Tp lo gantisenar ya! Snar 1nya putus. Btw gw malem mau ke arah rmh lo. Jd lo gahrs ke sini. Ya abis magrib deh.

Nunu Kritz
25-Mar-2004
16:34:54
Ok, ndra! Thnx, emang lo mo kmn si? Mo jalan ama Ica?

IndraMorrelo
25-Mar-2004
16:36:09
Das, mls bgt. Lo liat sndri smlm. Gw abs ribut nu, ama Ica. Gw pgnjln ndiri dulu.

Nunu Kritz
25-Mar-2004
16:38:56
Waduh, cw mana lg yg jd korban lo skrng? Lo kl ada stok dioper napake gw! Stok lm, stok br? Gw kenal ga? Ica mo dikemanain?

IndraMorrelo
25-Mar-2004
16:39:54
kenal! Stok lm jg. Saskia, yang dulu sring jln brg farrah, kan sempetjadian juga ama gw. Ga serius ko, cuma temu kangen aja.

***

Clarisa Sayang
25-Mar-2004
17:20:34
Sayang, km lagi ngapain? km msh marah ama Ica? Ica pgn bilang Icakmrn salah, km masih mau maafin Ica kan? Ica jg pgn bilang, kl Icasayang bgt sama km. Maafin Ica ya! Kamu ntar kemana, mau ga nemeninIca makan?

Clarisa Sayang
25-Mar-2004
17:30:15
Ndra ko ga dijawab? Masi marah ya?

Indra Ndut
25-Mar-2004
17:46:12
Ya, aku maafin km, sorri aku br selesai mandi. Aku jg sayang amakamu. Tapi aku udah keburu janji ama wisnu kriting. Mau latian,bandnya dia butuh gitaris tambahan. Laen kali aja ya sayang!

***

IndraMorrelo
25-Mar-2004
18:19:54
nunu, gue udah mo jalan nih. Tungguin yap! Kalo elo ditanyain Icabilang gw latian ama elo. Oks?

***

Indra Jelek
25-Mar-2004
18:16:25
Ki, aku kebetulan lg di rumah wisnu kriting ni. Kalo aku mampir ketempat kamu boleh?

Saskia
25-Mar-2004
18:17:48
Duh, aku lagi di ps ni ama farrah, km kesini aja! Lagi makan di hokben.

***

Indra Item
25-Mar-2004
18:18:33
Farrah, lo jgn bilang kiki gw masi ama Ica ya! Ntar brabe ni!

***

Indra Jelek
25-Mar-2004
18:34:25
Ki, masi di hok ben? aku udah di parkiran ni.

Saskia
25-Mar-2004
18:35:45
Masi, kesini aja!

***

Clarisa Sayang
25-Mar-2004
18:49:47
Indra, sayang. Kalo km mo gebet si kiki bilang aja! Ica udah tausemuanya. Kamu ga usah bohong dan kamu ga usah ngomong ama ica lagi!Tadi ica ke hok ben ps dan ketemu kiki and farrah. Ica uda dngrsemuanya dr mereka. Bahkan detik ini ica lagi dengerin smuaomonganmu. Ica duduk persis di blkng km skr ini. Good bye!

Mar 26, 2004

Mati Lampu # 10

Pertandingan yang seru membuat semua orang duduk terpaku di pinggiranbibir kursi sofa di ruang tamu sebuah kos-kosan yang dihunikebanyakan oleh civitas akademika sebuah universitas negeri di daerahDepok. Duduk tiga sekawan semua mahasiswa, mereka teman satu kos yangselalu bersama walaupun kuliah mereka berbeda. Tiga sekawan dudukterpana, menahan nafas saat mereka menatap dewa bermata satu, kotakyang membuat orang dapat duduk diam membatu, kotak yang mereka sebuttelevisi.

Kos-kosan itu sepi sekali, maklum hari minggu dini hari. Semua oranglebih memilih untuk menonton bola di rumah masing-masing. Dan bagiyang tidak begitu berminat dengan sepak bola, lebih memilih tidur.Ditambah lagi saat ini musim liburan semester. Maka tak heran jikasepertinya hanya mereka bertiga yang menghuni kos-kosan ini.

Kedudukan sementara masih tanpa gol bahkan setelah dua kaliperpanjangan waktu. Hasil imbang ini tidak boleh dibiarkan begitusaja. Ini bukan liga, dan ini bukan babak penyisihan. Semua kerjakeras mereka, berkampanye dari negara ke negara harus berakhir disini di Amerika Serikat. Semua jerih payah meloloskan diri ke putaranperdelapan final, perempat finat, dan semi final akan segera terbayardisini, saat ini juga. Atau sebaliknya salah satu dari mereka, akanpulang dengan tangan hampa, hanya membawa luka memar, dan kepahitandunia sepak bola profesional.

Dua negara raksasa sepakbola. Dua-duanya penuh bertaburan bintang-bintang sepakbola. Sarat akan nama-nama yang sudah tidak asing lagidengan tiga sekawan yang maniak sepakbola ini. Dua negara ini sama-sama besar dan sama-sama kuat. Mereka berdua lebih dari pantas untukmenjadi juara. Sayang sekali tidak ada istilah juara bersama dalamkamus sepakbola.

Pertandingan berlangsung cemerlang dan sengit. Penuhdengan taktik bermain dan kepiawaian dalam menggiring si kulitbundar. Lapangan penuh dengan aksi-aksi spektakuler dari detikpertama peluit dibunyikan. Sayang sekali tidak ada istilah remisdalam kamus sepakbola. Semua harus berakhir dalam beberapa menit ini.Salah satu dari mereka akan selamanya diingat orang sebagai juaradunia 94. Salah satu dari negara ini akan dapat mengumbar-umbar titelyang mereka dapat. Salah satu dari negara ini akan dapat memamerkanpiala berlapis emas dari FIFA yang selangkah lagi dapat mereka raih.Dan setidaknya untuk empat tahun kedepan mereka dapat menyombongkandiri bahwa merekalah negara sepakbola terbesar di dunia.

Dua babak perpanjangan waktu itu teramat kering tanpa gol. Padahalbila salah satu negara dapat menyarangkan bola ke belakang jaring,maka otomatis negara itu menjadi juara dunia. Sayang tak ada satupemain pun yang bisa menerobos ketatnya pertahanan lawan mereka. Dankini mereka menerima ganjarannya, mereka harus diadu dalam adupenalti. Adu penalti tak lebih dari sebuah kontes keberuntungandaripada unjuk bakat bersepak bola. Mereka harus pintar menebak arahlaju bola sementara sang eksekutor harus menebak kemana arah lajukiper dan mengecohinya. Sungguh sayang harus berakhir seperti ini.Ditambah lagi nasib negaramu ditentukan oleh sekeping koin. Koin itumemberi tahu negara mana yang mengeksekusi terlebih dahulu. Dalam adupenalti hal ini sangat krusial, karena berhubungan dengan tekanan danbeban para pemain dari negara yang dapat giliran belakangan. Dan saatini tim biru "Azzuri"lah negara yang tidak beruntung itu.

Walau ini tak lebih dari kontes keberuntungan, dalam dunia sepakbolaataupun olahraga manapun menang adalah menang. Terutama dalam sebuahpesta dan ajang bergengsi setaraf piala dunia yang hanya terjadiempat tahun sekali. Menang adalah menang, tidak ada istilah menangkarena faktor keberuntungan atau adu penalti dalam dunia sepakbola.Dan tidak ada juga istilah kalah dengan terhormat atau kalah karenafaktor sial saat adu penalti. Kalah adalah kalah dan selama empattahun ke depan negara yang kalah akan di cap sebagai pecundang. Kauhanya bisa terdiam bungkam dan mungkin mengeluarkan sedikit air mata,sementara jutaan penggemar sepakbola di negara asalmu akan menganggapkamu sebagai seorang pecundang. Semua jerih payah sampai ke babakfinal tidak akan dihargai. Tidak ada bonus, tidak ada interview,tidak ada pesta. Yang ada hanya celaan dan penyesalan. Dalam duniaolahraga sekelas piala dunia, ataupun sekelas piala RT orang tidakakan menganggapmu sebagai orang yang memenangkan medali perak, tetapiakan selalu mengingatmu sebagai orang yang tidak mampu meraih medaliemas.

Semua pemain di lapangan hijau sekarang sedang beristirahat menantisaat pertama eksekusi. Para pemain terlihat sedang meregangkan otot,bersiap-siap untuk mengeksekusi tendangan penalti. Untuk sejenak tigasekawan bisa bernafas kembali setelah dua kali sembilan puluh menitditambah dua kali lima belas menit perpanjangan waktu mereka dudukterpana dan menahan nafas di setiap detik-detik pertandingan.

Tiap kali turun minum, selalu saja Bayu bolak-balik kamar mandi yanghanya satu-satunya di kos-kosan kecil berkamar empat ini terkadangsampai dua atau tiga kali. Maklum Bayu memang selalu beser di saat-saat menegangkan seperti ini. Bayu adalah mahasiswa tingkat dua diFakultas Teknik. Ia mengambil elektro karena hobinya sejak keciladalah elektronik, dan semenjak mengenyam bangku kuliah, hobinyakomputer. Karena kecintaannya itulah ia berencana mengambilkonsentrasi arus lemah ataupun komputer. Kecintaannya itu jugalahyang membuat ia agak terbelakang dalam masalah sosial tapi tidak soalsepak bola.
Bayu adalah sebuah nama yang sangat umum di jurusannya. Diangkatannya sendiri ada tiga Bayu. Yang satu dipanggil "Ba'is",karena singkatan dari Bayu Ismaya, satu lagi akrab dengansebuatan "Ubay", sedangkan ia dipanggil teman-temannya denganjulukan "Bayu Pantat Botol". Kacamata itu seperti betul-betul sepertipantat botol. Bobotnya luar biasa membuatnya ia tak bisa mingkemkarena menahan agar tidak jatuh. Minus tujuh, ditambah dengansilindris yang entah berapa. Bila lepas kacamata itu ia sama sekalibuta.

Turun minum ini seperti yang sudah-sudah Bayu langsung pergi ke kamarmandi. Gerakannya kikuk ciri khas Bayu, mungkin ia sudah terlalusering duduk di depan komputer sehingga ia sudah tidak waras lagidalam berjalan. Ia juga tidak waras lagi dalam berpakaian. Bajukemeja kaus garis-garis dengan warna sedikit mentereng seperti itusudah lama ditinggalkan orang. Apalagi celana baggy itu, aduh…soalmode memang bayu seolah masih hidup di tahun 80an. Apalagi rambutklimis yang rapi tersisir ke samping itu tak berubah semenjak Bayumasih di sekolah dasar. Soal mode Bayu memang tertinggal, bahkandalam hal-hal lain kecuali komputer dan sepak bola.

Tubuh kecil mungil dan sedikit bungkuk itu berlari-lari dalam langkahyang kecil dan kikuk, menuju ke kamar mandi. Menarik perhatian Muktiyang sedang duduk bersantai, di depan TV. Melihat Bayu sudah beradadi ambang pintu kamar mandi, Mukti yang juga ingin menggunakan kamarmandi bangun dari selonjoran ke posisi duduk yang benar lalu iaberteriak ke Bayu.

"Bay! Elo WC mulu…gantian napa!"

Bayu lalu menoleh ke arah datangnya suara itu. Dalam gerakan yangkikuk dan sedikit lambat. Dengan nada yang penuh dengan kecanggungania membalas dengan suara yang melulu lemah.

"Aduh, kebelet nih."

Tiga kata selesai terucap dari mulutnya. Dengan gerakan kikuk danpenuh keraguan ia pun masuk ke kamar mandi. Ia memang selalu kikuktapi kini teriakan Mukti membuatnya lebih kikuk dan tenggelam dalamkeraguan.

Mukti yang kini makin kesal oleh ulah teman satu kosnya itu berjalanke arah kamar mandi. Mukti mahasiswa jurusan Metalurgi, jurusan yangsebetulnya adalah pilihan terakhir saat di UMPTN, makanya ia lebihsering terlihat di kantin bermain kartu atau rapat di Pusgiwa,daripada belajar. Mukti adalah penghuni paling lama di kos-kosan ini,tapi tidak yang paling tua. Suara besar dan badannya yang gemuk danhitam legam itulah yang membuat Bayu kini semakin kikuk. Ia takselalu pasang muka garang, namun sepakbola dan ketegangan ini yangmemaksanya demikian. Hanya selembar kain sarung yang menemani saat iaberada di ambang pintu kamar mandi itu. Ia pun tak sabar menggedorpintu berkali-kali pintu dari alumunium itu sehingga membuatkegaduhan yang teramat sangat.

"Buruan napa!"

Sahut Mukti dengan logat betawi yang kental. Sebetulnya ia taksedikitpun berdarah betawi namun ia dibesarkan di Pondok Kelapa didaerah yang penuh dengan orang-orang betawi yang sudah semakinterpinggir.

"Mukti! Masya Allah…!"

Mukti ditegur Emil, mahasiswa tingkat akhir Fakultas MIPA. Emilmemang kerap melerai pertengkaran antara kedua manusia ini. Ia bukanorang yang sangat arif dan bijaksana, namun senantiasa mengajak orang-orang di sekitarnya untuk kebajikan. Maklum masa-masanya habis dimesjid dalam resital ayat-ayat suci. Cuma karena sekarang musim bolaia sering terlihat di kos-kosan.

Baru sebentar saja Bayu di dalam sana ia sudah keluar lagi. Mungkinia takut dengan Mukti yang besar, hitam, seram dan garang itu. Takterdengar suara ia buang air, tiba-tiba saja langsung ada suarasiraman kloset. Dengan tampang yang bingung dan kikuk ia menyambutmuka Mukti. Sejenak mereka hening terdiam, bertukar tatapan. Emiljuga ikut hening.

"Gak bisa keluar" kata Bayu polos.

"Rese' lo, gantian sana" Mukti yang semakin geram mendorong badanBayu yang tipis kesamping hingga Bayu hampir terjatuh dibuatnya. Bayuyang kikuk langsung spontan membetulkan posisi kacamatanya yang kinisudah miring, setelah itu barulah ia menutup kembali celana yangbelum sempat ia tutup itu.

"Bayu…! Gila lo! Air kloset elo abisin. Ngepeeettttt…..!" suara Muktiyang penuh gaung dari kamar mandi itu.

"Astaghfirullah! Mukti, antum bisa lebih sopan sedikit apa tidak?"

Suara si Emil. Emil memang orang yang selalu bertutur penuhkesantunan, seperti sunnah rasul. Bahkan semua tindak-tanduknyaberusaha mengikuti sunnah rasul. Mulai dari memelihara jenggot,memakai celak mata, berbaju gamis, bahkan ia pun lebih memilihbersiwak daripada bersikat gigi. Bahkan aksen yang ia keluarkan sudahhilang dari bau Indonesia. Aksen itu berbau kurma yang ia dapatkandari kunjungan berulang ke mesjid kebun jeruk yang sarat akan imigrandari negara timur tengah yang terkoyak oleh perang.Imigran itu juga bertanggung jawab dengan perbendaharaan kata-kataEmil, "antum" dan "ana", "astaghfirurullah" dan banyak lainnya.

Turun minum Emil tidak sedang berhasrat untuk menggunakan kamarmandi. Ia sedang sibuk menyiapkan makanan-makanan kecil untuk dicemilsemasa pertandingan nanti. Ia juga sedang membuat minum untuk dirinyasendiri. Dapur itu tidak berjauhan dari ruang tamu, dan bersebelahanpersis dengan kamar mandi. Maklum ini kos-kosan yang kecil.
Terlihat Bayu masih mondar-mandir di depan WC. Ia menjadi plin-plankarena masih ada urusan yang belum terselesaikan di sana. Ia bingungmemilih antara menggunakan kamar mandi atau tidak. Karena sebetulnyaia tidak terlalu berhasrat untuk ke belakang, tetapi di lain pihak iatidak ingin hasrat itu timbul di tengah-tengah pertandingan. Ia tidakdapat membuat keputusan. Karena keputusan yang salah bisa berakibatsemprotan dari Mukti. Atau lebih parah lagi membuat ia kehilangandetik-detik yang paling menentukan dalam pertandingan ini.
Mukti hamper menabrak Bayu yang masih mondar-mandir di depan kamarmandi saat ia keluar dari kamar mandi. Ia terlihat semakin kesaldengan kelakuan Bayu yang plin-plan membuat ia tak sabaran untukmemarahinya. Dengan nada keras dan galak dan mata terbelak iamembentak Bayu.

"Nape…?"

Bayu tak berani melihat langsung ke wajah Mukti yang semakin galakitu. Ia hanya terdiam mentap lantai seperti sedang mencari kecoa.Tubuhnya tertutupi oleh kedua tangannya seolah melindungi sesuatu danberpaling dari tubuh gelap dan gendut itu. Bayu memang selalu begitutiap kali hadapi kekesalan orang terhadap tingkahnya yang plin-plan.Dan gerakan itu tercipta sebagai reaksi walau terhitung lambatsebagai aksi yang spontan. Melihat itu Emil yang selalu bijak melototke arah Mukti, mengingatkan ia akan dosa orang yang menzalimi pihakyang lebih lemah.

"Mukti! Masya Allah!"

Mukti cuma merangut, memasang muka masam saat ia membalas tatapanEmil yang bijak dengan sebuah lirikan. Lalu dengan sengaja ia tabraktubuh Bayu yang semakin erat terselimuti kedua tangan.

Tiba-tiba dari televisi terdengar riuh sorak penonton. Dan langsungdapat terlihat penyebab keriuhan itu. Gianluca Pagliuca berjalanmengambil posisnya yang persis di bawah mistar itu. Tim Samba sedangbersiap untuk mengeksekusi tendangan. Keriuhan dan suara komentatorseolah memanggil mereka. Dan seketika mereka langsung berlarianmengambil posisi tempat duduk. Mukti yang pertama kali sampai dikursi sofa, walaupun tubuh gemuk itu terbatasi gerakannya olehsehelai sarung. Ia langsung saja mengambil tongkat kendali danmembesarkan suara televisi.

Emil segera menyelesaikan urusan makanan kecil dan minumannya danbergegas menyusul Mukti. Saking buru-burunya ia hampir menumpahkanminumannya ke pangkuan Mukti.
"Astaghfirullah! Hampir minuman Ana jatuh di sarung Antum."
Mukti lagi-lagi pasang muka masam ke arah Emil. Emil hanya tersenyummalu. Bayu yang terakhir mengambil posisi. Lari tubuh bungkuk itukecil dan kikuk. Gerakannya memang kikuk dan lambat kecuali saatmemencet tuts komputer. Ia duduk lamabat saat melihat muka Mukti,berjaga-jaga untuk tidak lebih menambah kesal Mukti pada dirirnya.
Brazil menyarangkan si kulit bundar ke belakang jaring gawang. Sorak-sorai seketika mereka bertiga yang memang menggandrungi tim sambaini. Mukti melambung tinggi sementara Bayu tersenyum lebar bertepuktangan yang setia membungkus badan itu. Sementara Emil seperti biasamelantunkan puja dan puji untuk Yang Maha Kuasa.

"Alahamdullillah!"

Itali juga berhasil mencetak gol. Lalu Brazil kembali mengeksekusidengan sempurna.

"Cihui!" teriak Mukti

"Horree!" sahut Bayu

"Alhamdullillah!" seru Emil

Kiper Brazil gagal menahan tendangan dari Del Piero

"Adu…hhh!" Teriak Mukti kesal. Bayu hanya terdiam. Dan Emil sepertibiasa

"Masya Allah!"

Kedudukan empat tiga untuk keuntungan Brazil. Saat ini Roberto Baggiomenjadi algojo tendangan terakhir ini. Bila bola ini ditepis kiperBrazil maka tidak ada kesempatan lagi untuk Itali mengejarketertinggalan mereka, dan otomatis Brazil menang. Beban berada dipundak Baggio sekarang. Seluruh orang menahan nafas saat ia mulaigerakan menedang.
Dalam sepersekian detik kaki Baggio menyentuh bola, seketika itu pularuangan itu menjadi gelap gulita karena kehilangan energi. Laluterdengar teriakan dari sesorang saat dua yang lain terdiam.

"Ngentoooo….tttt!"

Suara itu adalah suara Emil. Mulut itu terbiasa mengucapkan kata-katamulia. Adalah hal yang ganjil bila ia mengeluarkan kata-kata yangbegitu kotor, bahkan tak berani diucapkan Mukti sekalipun. Ternyatasepak bola bisa menyebabkan orang suci bisa jadi lupa diri.

Mar 25, 2004

Reinkarnasi

Dari kali pertama aku melek, aku langsung tahu ini bukan rumah sakit.Aku dilahirkan kembali bukan sebagai manusia. Aku bukan bayi manusiayang menangis di pelukan ibu dan ayah. Aku tidak merasakan keberadaantali pusar yang menjadi penyambung hidupku selama aku di kandungan.Berbeda di kehidupanku yang sebelumnya. Bila aku tidak bertali pusar,maka mungkin juga tak ada yang mengandungku. Kehidupan macam apa ini?Pastilah bukan manusia, atau juga bukan mamalia. Apakah aku reptilia,yang lahir dari telur? Ataukah aku sejenis unggas, yang diperamsekian lama dan akhirnya aku menetas? Aku tidak tahu apa dirikusebenarnya, dan dijaman apa aku dilahirkan kembali.

Tidak ada induk, ayah maupun ibu atau sekilas cinta kasih yangmenyayangiku, atau setidaknya menyambut kelahiranku. Tidak ada bidanataupun suster yang membantu kelahiranku. Kulihat di kejauhan, adabeberapa orang berdiri di tempat yang tinggi mengawasi setiap gerak-gerikku. Apakah mereka ayah-ayahku? Ataukah aku diciptakan olehmereka. Tidak. Mereka bukan ayahku, mereka tidak menyambut dengangembira kehadiranku, mereka terus memasang muka masam, tiada candatawa memperhatikanku.

Beberapa kali ku lewati lorong sempit dan gelap, menggencet,meratakanku dengan titian tempat aku berbaring saat ini. Makhluk apamereka? Mengapa mereka menggencetku? Apakah mereka lakukan itu atasdasar kasih sayang atau kah benci? Apa mungkin merekalah ayah ibuku.
Pembaringanku berjalan sendiri, digerakkan oleh tenaga-tenaga magisyang tidak aku pahami, tak pernah kutemukan di kehidupan akusebelumnya. Lalu aku diletakkan kedalam sebuah bejana dari besi, danmakhluk-makhluk itu menumpukkanku bersama dengan aku-aku lainnya.Dari aku-aku lainnyalah kesempatan yang pertama aku memahami wujudasliku. Seperti inikah wujudku sekarang? Lembaran tipis lebih tipisdari kulit cecak, putih seperti susu, berserat halus seperti kain,pipih, lebar dan ringan seperti bulu. Aku menduga bahwa aku terbuatdari serat-serat halus yang dulunya bernyawa. Aku dapat mencium bau-bau yang sangat khas yang dulu sering kutemui di kehidupanku yangsebelumnya. Aku ingat sekarang…kertas…ini adalah bau kertas, dan akuadalah selembar kertas.

Tidak lama satu persatu dari kami, diambil, oleh sebuah makhluk anehlainnya. Di baringkan lagi ke titian yang berjalan sendiri, sepertiketika aku dilahirkan. Tak lama lagi giliranku. Cemas dan antusiasbercampur aduk membentuk suatu perasaan baru yang tak menentu.Kulihat mata-mata garang tanpa senyum dan canda tawa masih setiamengawasi setiap gerak-gerikku.
Akhirnya giliranku tiba. Tangan-tangan itu dingin, dan beku. Akupernah berkenalan dengan sentuhan itu di kehidupanku yang sebelumnya.Ah…aku ingat lagi sekarang itu adalah bahan logam yang biasaditemukan di mana-mana…Besi. Besi-besi itu meletakkan aku ke titianpembaringan yang berjalan oleh tenaga aneh yang sekarang aku tidaklagi peduli. Aku sudah diselimuti rasa senang, karena aku sekarangmengetahui hal-hal yang sebelumnya aku tidak pahami, hasil ingatandari kehidupanku yang sebelumnya yang masih tersisa.

Aku lalu diggencet lagi oleh makhluk itu, lagi dan lagi. Diputar-putar, dibolak-balik muka dibawah, punggung diatas, telungkup laluterbaring kembali. Lalu hal yang mengerikan terjadi. Sesuatumenimpaku dengan cepat dan begitu tiba-tiba. Aku sempoyongan, namunmasih sempat kulihat apa yang menimpaku. Pelat besi yang menghitamoleh lendir hitam pekat dengan figur seseorang yang pernah aku kenalsebelumnya. Lalu ada sesuatu yang lain menyerangku dari belakang.Perasan yang sama dengan yang sebelumnya. Pasti pelat besi lainnya.

Lalu akhirnya aku melihat matahari. Dan mata-mata yang sejak tadimengawasi setiap tindak-tandukku, tidak lagi berwajah masam, tanpacanda tawa. Mereka tersenyum kearahku, dan ku tak kuasa bertanyakenapa. Senyuman itu begitu mencurigakan, kenapa? Apa yang berubahdariku? Aku merasakan lendir hitam pekat oleh-oleh pelat besi, mulaimengering dan meresap kedalam serat-serat tubuhku. Secepat kilatkuperhatikan perubahan yang terjadi di dalam diriku. Ah…aku sekarangmerasa bernyawa. Lendir-lendir hitam yang sempat memberikan akutrauma, ternyata dengan sukses memberikan aku nyawa. Dan aku akhirnyamengetahui dari pengalaman hidupku yang sebelumnya apa lendir-lendirhitam itu sebenarnya…tinta. Ya, tinta. Kertas adalah tubuhku dantinta adalah nyawaku.

Belum sempat aku bersenang-senang atas penemuan itu. Makhluk lainnyasudah menunggu diriku. Namun aku tak gentar, aku sudah siap untuktemui apalagi yang jadi pelengkap diriku yang terlahir kembali.Ternyata ada bilah, bilah besi yang sangat tajam di dalamnya,mengiris-iris tubuhku membujur lalu melintang. Aku tidak rasakankesakitan apalagi berdarah. Malah aku merasa utuh. Keutuhan yang anehmenghampiri justru saat aku telah dibagi-bagi oleh bilah-bilah besiyang tajam itu. Aku kini selembar kertas, tak lebih satu jengkalpanjangnya, kertas adalah tubuhku dan tinta adalah nyawaku.

Tinta itu yang memeberikanku sebuah figur tubuh untukku bersarang.Sebuah figur yang anehnya aku kenali, begitu akrab di kehidupankuyang sebelumnya. Begitu familiar menggelitik dan merangsang jiwakuuntuk mengingat-ingat kembali. Oh…aku ingat sekarang…figur itu, wajahitu, begitu akrab kutemui di kehidupanku yang sebelumnya. Setiaphari, sepanjang hari, setiap aku berdiam diri, statis di depan kaca.Itu adalah wajahku di kehidupan yang sebelumnya. Walaupun tidaksekilas aku ingat siapa namaku dulu, ataupun siapa diriku.

Figurku terkepung oleh banyak tulisan, jelas-jelas aku bukan sebuahlukisan, mungkin selebaran, poster atau majalah kuning. Tulisan yangpertama bisa aku pahami 1999, mungkin memberi tahu jaman apa sekarangini. Tetapi tulisan kedua "Gubernur" apa ini? seperti "Goebernoer"yang salah eja. Tetapi sepertinya bukan salah eja buktinya munculkembali tulisan itu "Deputi Gubernur" bukannya "Depoeti Goebernoer".Apa sekarang ejaannya sudah berbeda, tidak lagi mengadopsi ejaanBelanda.

Diantara tulisan-tulisan itu ada tanda-tangan orang-orang tanpa nama.Siapa mereka? Apa mereka gubernur dan deputinya? Gubernur apa? VOC?Jepang? Apakah negeri ini sudah merdeka, seperti yang dicita-citakankolega-kolegaku di kehidupanku yang sebelumnya? Pasti…buktinya adatulisan "Bank Indonesia", berarti Indonesia sekarang adalah sebuahnegara yang merdeka dan berdaulat. Diantara tulisan tulisan tadi adatulisan "Lima Puluh Ribu Rupiah". Apa itu Rupiah? Apakah ia mata uangpengganti Gulden?

Apa itu di pojok sebelah kanan atas? Ada burung aneh, sepertinyabukan elang, ataupun rajawali. Sepertinya sebuah burung fiktif yangsakti dan muncul dari legenda-legenda. Ia memakai tameng, yangmenunjukkan ia doyan berperang, atau menunjukkan kerapuhan yang perludilindungi agar lestari. Burung aneh, seingatku aku tidak pernahmelihatnya di kehidupanku yang sebelumnya, sampai detik-detik akumenutup mata untuk terakhir kalinya.
Dibelakang figur itu ada corak-corak warna-warni yang sedikit buramnamun masih terlihat spektrumnya, bahwa yang ini hijau, yang itumerah, dan yang itu biru. Dan disana juga ada garis-garis melintas-lintas di atas corak-corak itu. Bergerak bebas semaunya tanpa artiyang jelas dan makna yang dapat kupahami.

Aku dapat merasakan sesuatu di punggungku. Aha…ternyata figur dirikutidak sendirian. Ada enam orang lainnya, sedang berkumpul di depantiang bendera. Empat diantara mereka berpakaian putih, sedangkan dualainnya berpakaian hitam dan bersenjata. Salah seorang dari merekasedang mengibarkan bendera, merah dan putih warnanya. Aha…aku ingatsekarang itu adalah Sang Saka Bendera Merah Putih, yang kami rancangbersama kolega-kolegaku di kehidupanku yang sebelumnya.

Dan kulihat sebuah tulisan yang anehnya begitu familiar di benakku.Wage Rudolph Supratman? Nama itu tak begitu asing. Wage Rudolph! Ya…Aku ingat sekarang, Di kehidupanku yang dahulu itulah sebutan untukmemanggil diriku sendiri.

Aku berfikir, apa jadinya diriku di kehidupanku yang sekarang. Uang…ya…aku adalah selembar uang kertas dengan nominal lima puluh ribu,dan wajahku di kehidupanku yang sebelumnya terpampang disana. Wah…jasa apa di kehidupanku dahulu sehingga aku mendapat tempat di uangkertas seperti ini? Dan karma apa yang telah aku jalani sehingga akuterlahir kembali sebagai benda mati? Benda mati, berarti aku tidakmungkin reinkarnasi lagi. Untuk reinkarnasi aku harus jalani hidupdan mati terlebih dahulu, baru kemudian baru terlahir kembali.Sedangkan sekarang aku benda mati, mana mungkin mati lagi?

Tetapi apa semua benda mati seperti ini? Ataukah aku istimewa? Akubisa melihat apa yang terjadi dihadapanku. Walaupun pandangankufrontal, lurus ke satu arah, tidak bisa lirik kanan dan kiri, dan takbisa mengedip. Apa yang terjadi di belakangku aku tidak tahu, danenam orang yang ada dibelakangku juga sepertinya juga tidak mau tahu.Mereka selalu sibuk mengibarkan Sang Saka Dwiwarna Merah Putih, yangtak kunjung sampai di pucuk tiang bendera dan berkibar.

Aku masih bisa mencium, semua bau yang ada disekitaku. Dan aku tidakusah khawatir pilek dan keluar ingus. Aku masih bisa mendengar walaukini kupingku cuma satu, entah kemana yang satu lagi. Aku masih bisakedinginan, maupun kepanasan, tetapi tidak kesakitan, aku tahu manayang halus, kasar, kering ataupun lembab. Aku juga bisa berfikir,berpendapat seperti di kehidupanku yang sebelumnya, bedanya aku tidakmampu bereaksi terhadap apa yang terjadi, tidak bisa bergerak ataupunsekedar berbicara. Aku seperti orang lumpuh dan gagu yang tak mampuberbuat apa-apa, terpenjara dalam angan dan fikirannya sendiri. AkuWR Supratman yang kini bertubuh kertas ini, hanya mampumengkoleksikan kenangan-kenangan sebagai WR Supratman yang bertubuhmanusia di kehidupanku yang sebelumnya.

---akhir babak pertama

Entah bagaimana aku bisa sampai di sini, tempat apa ini? Aku hanyaingat dimasukkan ke sebuah makhluk yang mengumpulkan aku dengan WR-WRSupratman lainnya. Kami disatukan, dan kemudian dibagi menurutkelompok-kelompok. Kelompok kami berisi seratus buah WR Supratman,dan tampaknya begitu juga kelompok-kelompok lainnya. Sebuah kertaslain kualitasnya lebih rendah dariku, mengikat kami kencang.Melingkari kami dalam satu rumpun ikatan. Ikatan itu kencang tetapitidak menyesakkan. Kertas yang melingkari kami seperti sabuk tanpakepala itu, menjadi kuat mengikat bukan oleh simpul dalam bentukapapun. Tetapi oleh besi kecil sebesar kelingking memanjang dandibengkokkan seperti huruf "B".

Lalu aku dan seratus WR Supratman lainnya, dimasukkan oleh beberapapria berkumis berwajah garang kedalam karung putih yang sudah lamamenganga menunggu kehadiran kami. Pria-pria berkumis dengan pakaianserba hitam legam itu bersenjata. Menjaga kami dari hal-hal yang takterduga. Di sana aku bertemu lebih banyak kelompok seperti kelompokkuini. Mereka semua juga berisi WR Supratman sejumlah seratus buah.Begitu banyak WR Supratman disini, ada ribuan mungkin jutaanjumlahnya.

Meski jutaan WR Supratman berada di dalam karung itu, namun suasanadi sana teramat sangat bisu. Kami tak saling berkomunikasi. Taksepatah katapun yang dapat keluar dari sekian juta mulut dari tintaitu. Apa mereka juga dapat berfikir seperti aku? Apa mereka dapatmelihat seperti aku? Apa mereka dapat merasa seperti aku? Ataukah akuistimewa? Kami hanya saling bertatap-tatapan, bisu dan gagu. Seolahberusaha berkomunikasi lewat tatapan itu.
Kami kehilangan jejak waktu, entah berapa lama kami berada di karungitu saling bertatap-tapan, berusaha memahami fikiran masing-masing.Kudengar suara meraung seperti bunyi makhluk-makhluk yangmelahirkanku. Kurasakan kami sudah bergerak, kami pasti berada disebuah alat transportasi. Dari hebatnya guncangan yang kami alami kumenduga bahwa kami bergerak dengan cukup cepat.

Karung itu tebal sekali. Sepertinya terbuat dari kulit yang tebal,dan kaku. Pasti bahannya kuat. Karena dapat menampung besarnya bebankami tanpa adanya tanda-tanda akan kebocoran, atau jahitan yanglepas. Penjahitnya pasti orang yang sangat tekun. Karena dapatkulihat tiga lajur jahitan ganda menyatukan dua lembar kulit itumenjadikannya sebuah karung. Pasti ia menjahitnya dengan mesin Singerkeluaran terbaru, karena kulit itu begitu tebalnya. Pastilah kekuatanmanusia tidak mungkin menusukkan jarum sampai menembus, apalagiberulang-ulang dan begitu rapi sampai tiga lajur begitu.

Mulut karung itu tidak begitu tertutup rapat. Masih ada cahaya yangmenembus kedalam dan menjadi penerangan bagi kami penguni isi karungsaat ini. Dapat kulihat ada seseorang tak berkumis dengan pakaianserba hitam, seperti orang-orang yang memasukkan kami kedalam karungini. Dapat kulihat ia juga bersenjata laras panjang, bukan revolverseperti punyaku di kehidupan sebelumnya. Sesekali keperhatikanmulutnya bergerak, seperti sedang bersenda gurau. Kuperhatikanwajahnya yang masih muda. Ia tidak lebih dari dua lima tampangnyatidak garang seperti wajah pria berkumis yang memasukkanku ke dalamkarung itu, atau masam seperti pria-pria yang mengawasi setiap gerak-gerikku saat aku berubah wujud menjadi seperti ini. Ia sepertinyaseorang periang yang menikmati pekerjaannya.

Tiba tiba sebuah kekuatan yang tak kumengerti membuat karung ituterlempar maju kearah kami bergerak. Dan kulihat pria muda periangtadi juga jatuh tersungkur. Kami berhenti bergerak secara tiba-tiba.Kudengar suara-suara dari kejauhan samar-samar. Suara itu suaramanusia, saling bercakap-cakapan, tapi dari nada yang merekalontarkan, aku langsung tahu mereka bukan sedang beramah tamah.Mereka saling bertengkar, lima atau enam suara berlainan dapatkudengar. Kulihat raut muka pria muda, ia tak sedang riang gembiraseperti biasanya. Ia sedang menyiapkan senjata laras panjangnyaseperti bersiap menghadapi musuh.
Lalu kudengar suara ledakan dan letusan senjata. Berkali-kali,mungkin seratus kali memberondong pria muda periang itu dan beberapatemannya. Beberapa tembakan itu sempat mengenai salah satu dari kami.Kulihat pemuda periang itu mengeluarkan darah belum sempat iamengeluarkan satu tembakan pun dari laras panjangnya itu. Ia terpaku,menyatu dengan tembok, dan perlahan-lahan tubuhnya bergerak jatuh kebawah, sambil tubuh muda itu melukiskan warna merah pada dindingkendaraan kami. Dapat kuambil sekilas tatapan matanya. Mata itukosong dan tak bernyawa, mulutnya menganga tak percaya apa yangterjadi, memungkiri fakta bahwa dirinya sudah tiada.

Seseorang melompat masuk, dapat kurasakan getarannya. Ia jugabersenjata, tak kalah saktinya dengan laras panjang pemuda itu. Takbisa kulihat kepalanya, hanya tubuh dan tangannya yang memegangsenjata. Ia mengacungkan senjata itu, sepertinya ia ingin menghabisipemuda itu, walaupun aku tahu bahwa ia paham pemuda itu sudah takbernyawa. Berondongan peluru yang kedua terlancarkan dari senjataitu. Diantara suara keras berondongan itu samar terdengar suaratertawa, kepuasan nafsu yang sadis berasal dari orang itu.

Karung itu dibukanya, matahari bertubi-tubi masuk ke dalam kantungini. Dan dapat kulihat tampangnya tersembunyi oleh kedok hitam, daribahan wol bulu domba. Membungkus erat seluruh kepala kecuali sebagiankecil matanya. Dari matanya tersirat kesenangan yang jahat. Aku takdapat melihat mulutnya tapi kuyakin ia sedang tersenyum lebar melihatbegitu banyaknya WR Supratman di dalam kantung ini.

Dan kantung itu pun tertutup, memalingkan kami dari matahari. Kamisaling bertatap-tapan, saling bertanya-tanya lewat hati, apa yangsebenarnya terjadi.

---Akhir babak kedua

Karung itu terbuka, untuk sekali lagi aku melihat cahaya. Namunberbeda dari sebelumnya cahaya yang menghujani kami bukanlah cahayamentari tetapi cahaya lampu, yang malas-malasan menyala. Lampu ituberpendar secara aneh, aku tidak pernah melihat lampu seperti itu, dikehidupanku sebelumnya ataupun selama persinggahanku di duniasekarang. Bentuknya aneh, panjang memanjang, tidak bulat seperti bolayang lazim kutemui saatku pergi ke bangunan-bangunan pemerintahanHindia Belanda di kota Batavia. Cahayanya pun aneh, putih bersihseperti susu bukan bercahaya kuning seperti yang kami punya dulu,berpendar mengisi seluruh permukaan tabung memanjang itu, bukanmembakar filamen kawat tipis seperti yang ada di lampu bulat sepertibola yang menghiasi malam kota Batavia dahulu.

Lampu itu menyebar ke seluruh ruangan, memberikan penerangan ke semuabenda apa adanya. Yang putih tetap putih, dan biru tetap biru.Kuperhatikan tiap jengkal ruangan itu. Kecil dan sangat sederhana.Tidak ada perabotan macam-macam di sana, hanya ada sebuah meja yangdikepung oleh empat kursi dan persis di hadapanku jauh di sebrangsana sebuah sofa yang lapuk dan busuk. Semua noda yang menjijikkanada disana, noda bocor, makanan tumpah, tahi tikus, dan bahkan adanoda darah, entah siapa pemiliknya. Sofa itu sarang kecoa, berkali-kali kulihat ada kecoa yang mondar-mandir di depannya dan keluarmasuk kolong sofa itu. Aku meragukan itu kecoa yang sama, karenaperawakannya dan perilakunya tiap kali keluar masuk berbeda-beda.

Seluruh ruangan ini sarang kecoa. Dengan cahaya aneh dari satu sumberyang tunggal, sangatlah mudah bagi kecoa untuk menemukan daerah yangterteduhi oleh bayang-bayang tempat mangkal favorit kecoa. Ruanganini begitu lusuh, penuh jamur dan lubang. Air menetes taktertahankan, perlahan-lahan merayap di sekeliling tembok turun kebumi, meninggalkan jejak yang semakin melebar kesamping kanan dankiri. Langit-langit itu seakan mau jatuh menghatam kami semua,mengubur kami dalam reruntuhan.

Lantai ruangan ini begitu jorok, membuatku harus menahan jijikku.Untungnya aku tidak punya perut yang dapat bergejolak dan memuntahkansegala isinya setiap kali aku melihat kejorokan seperti ruangan ini.Ruangan ini penuh debu, sisa-sisa hasil, peninggalan kulit-kulit matikecoa-kecoa penghuni ruangan ini yang sebenarnya. Manusia pasti hanyasesekali datang ke tempat ini. Terlihat dari betapa tak terawatnyaruangan yang tidak pernah sekalipun berkenalan dengan sapu atau kainpel.

Kecoa-kecoa melirik sesekali ke arah kami menatap kami penuh curigadan tanda tanya. Mereka saling berbisik entah asik mentertawakan ataumalah merasa kasihan terhadap kami. Begitu asiknya mereka berbisik,mereka terinjak, terlumati oleh kaki seekor kecoa besar jenislainnya. Kecoa besar ini ada empat jumlahnya, satu per satu merekamembuka kedok wol hitam mereka. Kecoa-kecoa ini adalah pembunuh-pembunuh berdarah dingin, keji tanpa belas kasihan, seolah merekakebal akan dosa dan neraka. Seketika ruangan yang lembab dan baupesing ini terisi oleh kabut keabuan yang pekat akibat rokok kretekyang mereka hisap.

Lalu mereka membalikkan karung kami dan puluhan karung lainnya,menjatuhkan kami sehingga tubuh kami yang rapuh menghantam keras-keras bahan aneh yang membuat meja itu. Meluncurlah satu persatuberikat-ikat WR Supratman dari karung itu berhamburan ke seluruhmeja. Meja itu menjadi penuh sesak oleh puluhan ribu WR Supratmanmenutupi seluruh permukaan meja itu. Bagi kami yang tidak beruntung,harus berserakan mengecup lantai yang menjijikkan itu.

Di sela asap rokok yang mengepul di mulut-mulut mereka tersemburgelak tawa yang lebih menjijikkan dari kotornya ruangan dan kecoa.Gelak tawa yang timbul akan kehausan akan harta benda dan kuasa.Gelak tawa yang diraih diatas tumpahnya darah muda yang merah. Gelaktawa yang diperoleh dari senjata dan kekerasan. Mereka tertawasemakin keras ketika beberapa diantara kami harus rela dicium-ciumoleh bibir-bibir basah yang mengeluarkan asap rokok dan gelak tawayang menjijikkan itu.

Aku tidak habis berfikir, apakah seperti ini citra Indonesia merdeka?Yang dulu mati-matian kami memperjuangkannya. Di kehidupanku yangdahulu, aku dan para pemikir dan pelajar bertarung dengan moncong-moncong senjata Hindia Belanda, yang ingin Indonesia tetap bodoh danberpecah belah agar mudah ditumpaskan segala bentuk pembrontakanterhadap pemerintahan Hindia Belanda. Bekerja keras untukmempersatukan ideologi dan faham kedaerahan dan meleburnya menjadisatu wadah bernama Indonesia. Kami berjuang untuk membuka mata rakyatjelata agar mereka melihat kebanggaan sebagi orang pribumi danmenyadarkan bahwa satu-satunya jalan agar mereka sejahtera adalahmelalui kemerdekaan.
Aku sekarang tidak tahu lagi apa arti kemerdekaan. Di jaman HindiaBelanda dan pendudukan Jepang dahulu, kita semua bersatu di bawahtirani. Kami saling bekerja sama karena nasib kita sama. Inikah hasilperjuangan kami? Indonesia menjadi terpecah belah seperti dahululagi. Tidak lagi dipersatukan oleh senasib sepenanggungan, tergesernilai itu dan sekarang dipersatukan oleh uang dan kekuasaan. Saudarabunuh saudara. Kini uang dan senjata jadi saudara.
Kulihat lagi mereka sekarang lebih menjijikkan. Dengan uang di tanganmereka berpesta pora larut dalam gelak tawa, mabuk-mabukan.Seperti SiBrewok yang mabuk oleh pilsenir. Si Brewok sebetulnya lebih muda daritampangnya. Tak kulihat tanda-tanda kedewasaan dalam tindak-tanduknya. Penampilannya yang urakan dan brewok yang lebat membuat iaterlihat sekilas berumur tiga puluhan, tetapi kuyakin ia tak setuaitu. Badan Si Brewok agak berlebih dari proporsi tubuh ideal orangkebanyakan. Rambutnya rapi tersisir kebelakang, licin dan berkilauan.Satu set gigi yang rapi adalah satu-satunya benda berwarna putihdiantara deretan rambut-rambut wajah yang hitam legam itu.

Ada juga yang mabuk oleh wiski. Seperti Si Kaca Mata. Ia tidakterlihat tampang seorang penjahat sama sekali. Tapi itu adalah kedok,saat penembakan itu terjadi, dibalik kedok wol hitam itu wajah itulahkedoknya yang kedua. Aku ingat suara tertawanya. Tawa itu adalah tawayang sama di saat ratusan peluru memberondong pemuda berbaju hitam-hitam itu. Dari semua yang ada di ruangan ini, ialah yang palingkeji. Rambutnya tertutup oleh kedok ketiga, sebuah topi seperti yangbiasa dipakai para santri. Dan ia memakai kedok keempat berupakacamata, agar orang melihatnya sebagai orang yang alim danterpelajar. Aku yakin sebetulnya tak ada yang salah dengan matanya,ia hanya memakainya agar ia terlihat lebih seperti manusia, namun akubisa melihat dibalik semua kedok itu, tersembunyi sebuah monster yangmengerikan tanpa belas kasih, dan penyesalan.

Ada juga yang mabuk oleh ganja. Seperti Si Kurus, yang tidakberdaging. Otot dan kekuatan bukanlah senjatanya tetapi otak. Yadapat terlihat dari rautan di wajahnya bahwa ia adalah seorangpemikir. Bisa jadi ialah otak perencana perampokan dan pembantaianyang terjadi. Ia terlihat sangat mabuk, dan larut dalam pengaruh zat-zat kimia yang mengalir dalam darah otaknya sekarang. Tetapi bukandialah pemimpinnya. Dari wajahnya tidak terpancar, sosok dan kharismayang diperlukan untuk menjadi pemimpin. Ia semata-mata perencana dankonseptor.
Bukan juga, Si Muda. Tersirat dari raut mukanya, ia belum lamaberkenalan dengan dunia kejahatan. Muka itu penuh dengan hantu-hantudi kepalanya. Hantu-hantu penyesalan, dan muka-muka tak berdosa yangmati akibat perampokan bersenjata itu. Sudah beberapa tegukan vodkadiminumnya, namun tetap hantu-hantu itu tak mau pergi. Setia menemanimasa mudanya. Dua atau tiga lagi nyawa melayang oleh tangannya, makarasa sesal itu akan pergi selamanya. Dan bila saat itu tiba, akuyakin ia akan tertawa sama kerasnya dengan yang lain.

Lalu di tengah gelak tawa dan kemabukan datanglah sebuah sosok yanglama mereka tunggu. Adalah sosok seorang pemimpin ia datang bersamakewibawaan, kewibawaan yang merasuk kedalam tulang-tulang sumsum anakbuah, membiarkan mereka tertegun dalam kesunyian. Di balik hadirnyatersirat sebuah rencana yang tak terduga, jahat lebih jahat, sangatjahat yang tak terbaca oleh anak buahnya. Kulihat anak buahnya jugapunya rencana tersendiri, dan Si Pemimpin pun menyadari akan itu,pengalaman mengajarkan ia cara-cara untuk membaca mimik dan perubahanudara, yang sekarang semakin dingin.

Kulihat anak buahnya mengangkat gelas satu persatu menghormatikehadiran Si Pemimpin. Pemimpin pun membalas kehormatan itu dengansebuah senyuman. Bukan hangat, tetapi yang dingin tenang danmenghanyutkan. Ia lalu mengutarakan kesenangan dan kebanggaannyakepada hasil kerja anak buahnya.

Ucapannya sangat tenang, minim dalam intonasi yang berlebih. Kulihatdari cara ia bertutur dan berbusana, ia adalah orang yang sangatterpelajar, tapi bukan oleh buku dan kesusastraan, tetapi olehdedikasi dan pengalaman. Kudengar ia sedang berpidato, mengangkatmoral anak buahnya.
Ia terus menerus menatap ke arah anak buahnya, tenang danmenghanyutkan, tanpa sedetikpun ia tergoda untuk melihat tumpukan WRSupratman yang tergeletak di atas meja dari bahan aneh ini. Iasengaja mengulur-ulur waktu dengan pidatonya itu, agar ia punya cukupwaktu untuk mempelajari segala tindak tanduk anak buahnya. Ia tahupersis apa yang akan terjadi, hanya dengan membaca mimik danperubahan udara.

Makin ia berbicara, makin anak buahnya gelisah. Mereka saling bercuripandang, dengan tatapan yang mencurigakan. Ya, tatapan inilah yangsedari tadi dapat terbaca oleh Si Pemimpin. Tatapan seorang pembunuh,yang penuh akan dosa dan nafsu. Tersirat segala daya dan upaya untukmemusnahkan Si Pemimpin, agar empat kecoa besar itu dapat menguasaisegalanya. Mereka sudah merencanakan ini dengan lama, bahkan sebelumperampokan berdarah itu sempat tereksekusi. Mereka ingin membunuh SiPemimpin dan merebut semua WR Supratman untuk diri mereka sendiri.

Pemimpin adalah orang yang sangat terpelajar, dari pengalaman yang iapunya ia dapat menyimpulkan arti dari perubahan mimik anak buahnyadan udara yang semakin dingin ini. Namun tetap ia tenang bagaikanbatu. Tak sedikitpun nada dalam bicaranya sempat berubah. Ia begituahli dalam menyembunyikan kecurigaan, agar anak buahnya merasa lebihunggul dan akhirnya lengah. Mereka sedang berada dalam sebuahpermainan yang berbahaya, nyawa menjadi taruhannya.

Si Muda, belum becus dalam dunia ini. Keringat sebesar biji jagungkeluar dari setiap pori-pori kulit wajahnya yang ketakutan. SiPemimpin menatap ke arahnya, mengintimidasinya hanya dengan sebuahsorotan mata. Si Muda bergetar begitu hebatnya dan begitu kentara. Iatak kuasa untuk membela diri. Perlahan tangan mudanya mencoba merogohsebilah periuk api yang tersembunyi di sabuk pinggangnya. Dan sebuahkeringat jatuh dari muka yang muda itu. Jatuh, dan siap bumimenyambut jatuhnya keringat itu.

Diantara bentang waktu jatuhnya tetesan keringat sang muda, ada tigabuah tembakan. Belum sempat keringat itu menetes menghantam lantaiyang menjijikkan itu sudah tiga peluru melesat secepat suaramelintasi dinginnya udara. Diantara bentang waktu yang teramatsempit, tiga tubuh tersungkur tak berdaya, diam tak bernyawa, matisia-sia. Keringat itu pun akhirnya sampai di pangkuan bumi menandakankepergian empat nyawa Si Brewok, Si Kacamata, Si Kurus.

Si Muda menutup mata. Periuk api di pinggang belum sempat tercabut.Tiga temannya sudah terbaring, terdiam, dan tak bernyawa. Masih adapeluru tersisa di dalam senjata Si Pemimpin. Ia menatap Si Pemimpindengan penuh tanya saat senjata itu tertodongkan tepat di mukanyayang muda. Adakah satu diantara peluru-peluru itu tertuliskan namanya?
Pasti! Si Pemimpin terlalu pintar untuk ambil resiko.

---Akhir babak ketiga

Mar 7, 2004

Dua mata neraka

Wati mengira ia telah mengenal kedua mata itu begitu lama. Ia tidakpernah begitu salah. Kedua mata itu mengundang begitu banyakpertanyaan. Ada yang lain dari mereka. Ada api yang menyala-nyala.Siap untuk membakar semua keindahan dunia. Begitu terang api itumenyala, menyilaukan siapapun yang berani menatapnya. Api itu bukanterbakar oleh cinta atau semangat jiwa muda. Tetapi oleh amarah dandendam. Wati telah menatap neraka. Dan neraka selama ini ada di keduamata itu.

Wati menggigil tiada henti. Ingin ia sembunyikan rasa takut itu.Namun semuanya berakhir dengan percuma. Mata itu terlanjur menatapdirinya. Mulut tak perlu bicara, tatapan itu menjelaskansegalanya: "Aku lapar, dan engkau makan malamku."

Perlahan kedua mata itu mulai mendekati tubuh Wati yang molek danmuda. Seperti macan mendekati buruannya. Wati Cuma bisa menggigil,lebih hebat dari sebelumnya. Ia tidak bisa lari, walau kakinya sudahmengambil ancang-ancang untuk pergi. Lagipula mau kemana ia lari.Wati sudah lama berada di cengkraman kedua mata itu, dari haripertama ia injakkan kakinya di rumah itu. Wati hanyalah orang bodohyang tersesat di negeri asing, sama seperti ribuan saudaranya yangalami nasib sama.

Mata itu semakin mendekat, waktu seolah berhenti berjalan. Mendadakseisi ruangan menjadi pekat oleh udara yang jahat. Begitu berbedadari ketika pertama kali ia berkenalan dengan kedua mata itu. Dulumata itu dapat dipercaya. Sekarang tidak lah demikian. Ia sudah taktahu lagi apakah mata itu dapat dipercaya lagi. Ia tidak tahu lagiapa yang bisa ia percaya. Perkataan orang tua? Kitab suci? Matamenyala?

Ia terdiam, benar-benar tak bergerak, tidak lagi menggigil. Sepertipatung berhala yang tak dapat menolong dirinya sendiri saatdihancurkan Ibrahim. Seperti batu kali yang pasrah ditempa deras arussungai. Ia hanya berpikir apa lagi yang dapat ia lakukan. Ia cumaingin agar udara jahat ini tidak lagi harus dihirupnya. Tapi apadaya, mata itu semakin mendekat, langkah demi langkah.

Terakhir kali ia bertemu dengan kedua mata itu. Ia datang sebagaiteman. Tidak sedikitpun ia curiga ada neraka di dalamnya, menungguuntuk keluar. Mata itu coba memangsanya dengan tipu daya. Tetapi Watidapat segera mencium segala gelagatnya, menepis semua hasutan tipudaya, agar ia tidak menjadi mangsa. Namun secepat Wati berkata tidak,secepat itulah kedua mata itu berubah.

Mata itu melayangkan sebuah tamparan tepat di mukanya. Dan Wati puntersungkur jatuh ke sudut ruangan, membentur tembok keras dari marmerCarera. Belum sempat ia bangun, berdiri dan melawan, kembali sebuahtamparan, lebih keras dari sebelumnya, terlayangkan ke pipinya. Mataitu menyebut Wati sebagai pelacur, yang tak tahu terima kasih.Berkata bahwa ia beruntung dapat bekerja di rumah yang mewah sepertiini. Dan alasan-alasan yang lain untuk membenarkan tindak-tanduknya.Ciri khas sebuah tirani.

Wati ingin sekali memberontak waktu itu, lebih dari apapun di dunia.Namun semuanya telah terlambat. Mata itu sudah mengusainya,menurunkannya dari tempat yang terhormat, mencabik-cabik hartanyayang paling berharga, hingga habis tak tersisa.

Rahim itu berarti kasih sayang. Dan mata itu telah menodai kasihsayang Wati, denga perlakuannya malam itu. Dari semua bangsa didunia, harusnya bangsa darimana mata itu berasal-lah yang pelingmemahami arti kata kasih sayang. Karena dari merekalah kata rahim ituberasal.

Kedua mata itu meninggalkan tubuhnya yang molek dan muda, sambiltersenyum lebar, tertawa keras dan terpuaskan birahi pemburunya.Namun Wati tidak menangis. Ia terlalu bingung untuk meangis. Kejadianini terlalu cepat menimpa dirinya. Ia terlalu takut untuk berbuat apa-apa. Lari? Lari kemana? Semua surat-surat yang menunjukkan bahwadirinya ada, sudah lama menjadi kekuasan kedua mata itu. Mengadu?Mengadu kemana? Wati hanyalah orang bodoh yang buta hukum, tersesatdi negeri orang. Bisa-bisa nasibnya lebih terpuruk dari sebelumnya.
Ingin sekali dirinya kembali ke masa silam, jauh sebelum ia menatapkedua mata itu. Jauh sebelum ia menginjakkan kakinya di rumah ini.Jauh sebelum ia diinterogasi pihak imigrasi. Jauh sebelum ia melayang-layang di angkasa setengah hari penuh lamanya. Jauh sebelumkarantina, asrama, ditumpuk-tumpuk seperti ikan sarden. Jauh sebelumia membayar sekian juta demi impian yang palsu. Jauh sebelum ibunya,dan seluruh orang kampung mengfatwakan kepergiannya dan beberapateman sebayanya. Jauh kemasa ia masih sekolah menengah yang taksempat diselesaikannya. Waktu itu semuanya masih sederhana, dan iamasih bisa tertawa dan bercanda.

Ingin sekali ia mengikuti nasib saudara-saudaranya, yang mati ditangan mereka sendiri. Semata-mata agar kedua mata itu tidak dapatlagi memangsanya. Agar ia terbebas dari udara yang jahat yang selamaini mencekiknya. Agar ia dapat kembali sebagai arwah yang penasarandan menghantui kedua mata itu.

Ia juga ingin sekali mengikuti saudara-saudaranya yang lain, yangmati di tiang gantungan, atau mati dengan cara dipisahkan secarapaksa tubuh dan kepalanya. Agar kedua mata itu tidak lagi dapatmenjamahnya. Ia yakin akan pilihannya. Tekadnya sudah bulat. Matidengan cara ini lebih mulia daripada hidup di bawah bayang-bayangketakutan.

Ia tidak boleh hanya tinggal diam, demi almarhum ayah yang selalumengajarkannya kejujuran. Demi ibu yang selalu menyayanginya walauapapun. Demi adik-adiknya agar tidak terjerumus ke liang yang sama.Demi teman-teman sekampung yang beradu nasib di negeri orang. Demisaudara-saudaranya yang bernasib sama. Atas nama keadilan ia tidakboleh tinggal diam. Salah satu dari mereka harus ada yang berhentibernafas, dirinya atau mata itu, bagi Wati kini sama saja. Apapunhasilnya, mata itu tidak boleh lagi menyentuh tubuhnya. Wati yakinmalaikat pencatat keburukan akan menutup mata, hidung dan telinga,saat ia menutup mata neraka itu untuk terakhir kalinya.

Kali ini kedua mata itu sudah tinggal beberapa langkah lagi daritubuhnya yang molek dan muda. Tapi kali ini ia tidak menggigilketakutan. Kali ini ia bukan patung tak berdaya. Hanya ketenanganyang berbahaya, yang absen dari cinta, dan belas kasih. Tangisan danketakutan sudah sirna, hanyalah lubang hitam tak berdasar yangtinggal di hatinya. Ada api yang sama kini terpancar dari mata Wati.Siapa berani tataplah mata itu, dan akan terlihat olehmu kejahatanyang sama! Wati kini telah menjadi buas seperti kedua mata itu,bahkan lebih buas lagi.
Kedua mata itu telah sampai di hadapan Wati. Lalu mata itu memasangmuka yang garang, dan menghardiknya tanpa alasan. Mata itumelancarkan serangan bertubi-tubi, terus-menerus menuduh Wati atassesuatu yang tidak ia lakukan. Mata itu mencari-cari alasan demialasan untuk kembali memangsa Wati. Wati hanya menjawabnya dengantenang, sebuah ketenangan yang berbahaya. Ia tidak takut lagi, karenakali ini Wati tidak sendiri. Kali ini ada sebilah pisau yang menemanitubuh Wati yang molek dan muda. Namun nafsu kedua mata itu untukmemangsa dirinya, telah membutakan mata itu dari teman barunya Wati.Ia hanya asik menghardik

"Kamu yang memecahkan vas bunga saya?"

Suara mata itu sungguh menggelegar, penuh amarah, penuh tipu daya,penuh nafsu untuk memangsa. Namun tidak sedikitpun mampu membuatgentar hati Wati dan teman barunya.

"Tidak tuan! Nyonya tidak pernah mengijinkan saya mendekati vas bungaitu. Lagipula vas itu beratnya luar biasa, saya sendirian tidak mampuuntuk sekedar menggesernya, apalagi menjatuhkannya."

"Kalau begitu kamu yang mencuri emas-emas saya?"

Lagi-lagi mata itu mencari-cari alasan, ciri khas sebuah tirani.

"Tidak tuan! Di rumah ini tidak pernah ada emas. Tuan sendiri yangpernah bilang bahwa orang Islam tidak pernah boleh menyimpan emaswalau secuil."
Lagi-lagi kujawab dengan tenang, namun ketenanganku membuat iasemakin geram.

"Kalau begitu kamu mencuri uang saya?"

"Tidak tuan! Uang tuan tidak laku di negara saya."

Ia bertambah geram, sudah habis semua alasannya, yang tinggalhanyalah keinginan polos untuk memangsa.

"Diam kamu! Beraninya kamu melawanku. Dasar pelacur tidak tahu terimakasih."

"Saya bukan pelacur tuan. Saya calon pembunuh."

Feb 23, 2004

MatiLampu#9

Yang ditunggu-tunggu datang juga hari ini. Terbungkus rapi sampulputih bertuliskan "express". Tidak cuma itu tulisannya. Ada jugaalamat pengirimnya, yang berada di belahan lain dunia, "Gibson GuitarCo. Custom Shop Division". Akhirnya gitar pesanan itu datang juga.
Maestro membuka sampul putih itu dengan cepat dan tergesa, sepertianak kecil di hari natal. Gitar itu tersembunyi dalam peti kerasplastik tahan banting berwarna abu-abu. Didalam cangkangnya masihdilapisi lagi oleh kayu yang keras dan rangka besi. Melindungi gitarpesanannya dari bahaya gravitasi bumi, dan gaya-gaya lainnya yangmungkin bekerja pada gitar itu.

Seperti perompak dan harta karun Maestro membuka peti itu. Perlahandan berharap cemas apakah gitarnya akan seperti yang selalu iaidamkan, ataukah akan cacat dan mengerikan, layaknya ibu yang sedangmelahirkan. Namun dari saat pertama ia layangkan pandangannya ia tahubahwa gitar pesanannya benar-benar sempurna.

Gitar itu tak ada duanya di muka bumi ini. Benar-benar unik, dibuatkhusus sesuai keinginan dan kebutuhannya. Dipahat dari mimpi. Petiitu seperti lubang dan anak kunci. Begitu pas mengikuti setiaplengkungan gitar itu. Membalutinya dengan beludru warna ungu, warnaraja-raja. Berkilatan di bawah lampu dan mentari. Sepucuk suratmenandakan keotentikannya. Menyiratkan keringat para empu gitar dalampembuatannya. Mahal, namun kebanggan memang tidak dijual murah.

Tinta emas terpahat di kepala gitar itu menuliskan kebanggaan apayang ia bawa. 50 tahun tradisi, nama yang tidak asing lagi di telingamusisi papan atas dunia, "Gibson".Kepala itu hitam legam sangat glossy oleh vernis. Di kanan kirinyaberjejer tiga buah tuner berlapiskan emas, seolah berbicara ini bukangitar sembarang gitar. Persis di tengah kepala gitar terdapat lambangyang hanya diketahui oleh sebagian orang-orang beruntung, bentuknyabulat bertuliskan "Custom Shop". Persis dibawah lambang itu, adatulisan lain, juga terpahat dalam tinta emas. Nama seorang empu gitarternama, seorang master luthier, seorang maestro sepertidirinya, "Les Paul".

Leher gitar itu juga hitam legam, tetapi tidak glossy sepertikepalanya. Di bagian atas leher itu, terbuat dari kayu eboni tua, danmahal, hitam seperti kopi. Dibagi menjadi 22 oleh lempengan logamtipis. Dibagian ketiga, kelima, ketujuh, kesembilan, dan keduabelasdari 22 bagian leher tersebut, diebri aksen bentuk trapezoid, terbuatdari seratus persen mutiara asli. Di atas mutiara di bagiankeduabelas terdapat inisial pemiliknya, inisial dirinya sendiri,inisial seorang maestro.
Di bagian bawah leher juga hitam, tetapi glossy seperti kepalanya.Menyatu dengan kepala dan badan gitar itu. Dan bukan dari eboni,tetapi dari kayu maple nomor satu yang sangat tua, sangat eksklusif,kualitas "AA". Sangat tua, sangat nyaring, dan sangat mahal. Benar-benar halus tanpa cela, dibuat khusus untuk mengikuti ciri-ciritangan kiri Maestro.

Badannya dicat perak menyala, divernis hingga berkilatan. Benar-benarmerata menyembunyikan guratan kayu watak asli kayu maple. Di balikcat itu dua lapis kayu maple kulitas "AA" mengapit satu lapisan kayumahogani. Empat buah knob plastik warna hitam legam menghiasi bagianbawah lekukan buntut gitar tersebut. Namun mereka bukan hiasan,apalagi mainan. Aksi tarik dorong dari dua knob itu mengontrolpotensio dan volume gitar, sedangkan yang dua lagi mengontrol tone.

Pickup asli Gibson beroutput tinggi 490R dan 498T hunbucker keramikklasik menjadi nyawa gitar itu. Dan hardware berlapis emasmenunjukkan kelas. Stop tail tuner non tremolo mengontrol ketinggiandan ketegangan keenam dawai D'Addrio 0.10 yang terpasang di gitar itu.
Seperti Alladin dan lampu ajaib, Maestro membelai setiap inci gitartersebut. Seperti ibu memegang bayinya, dipegangnya gitar itu ditelungkup leher dengan tangan kiri sangat pelan dan hati-hati. Iaterus memanjakan matanya dengan melihat gitar barunya itu penuh decakkagum, sambil tangan kanannya membelai mesra seluruh permukaan darikepala hingga buntut dengan cepat namun sangat hati-hati. Ia angkatgitar itu tinggi-tinggi seraya ia berdiri. Dengan pose patunglapangan banteng ia memegang gitar itu, dan berputar perlahanmenunjukkan gitar barunya dengan bangga ke seluruh penjuru dunia.Gitar itu seperti trofi pemburu, senjata perang, keris keramat, batumulia, piala oscar kesenangan dan kebanggaan pemiliknya.

Maestro langsung menyambungkan gitar itu ke seuntas kabel ¼ incispectraflex berbalut kain model setrika. Ini gitar bukan untuk matasemata, tapi untuk menjakan telinga. Maestro ingin menjajalkemampuannya. Di ujung lain kabel terdapat, begitu banyak elektronikpemroses gitar. Benteng pertama adalah pre amp eventide, rack systemtentunya. Bukan yang sederhana, tetapi yang paling canggih, denganbanyak tombol dan lampu yang menyala yang memusingkan gitariskacangan yang levelnya jauh daripada Maestro.

Belum lagi benteng kedua, yang lebih rumit lagi. Sebuah pemroses DSPLexicon model terbaru juga rack system tak berbeda dengan bentengpertama. Namun kemungkinan menjadi tak terbatas oleh kehadiran Boss.Tapi ini bukan efek Boss mobil-mobilan kacangan gitaris kampus punya.Atau multi efek basa-basi ala gitaris café. Ini mbahnya efek. Racksystem seperti yang dimiliki studio-studio rekaman kelas satu dunia.Ketiga benteng suara ini diatur oleh pedal pengatur MIDI. Dan belumwah kalau belum ada pedal Wah-Wah, merek Jim Dunlop, dan pedal Volumemerek Boss. Benteng terakhir sebelum masuk ampli adalah compressoruntuk antisipasi melemahnya sinyal. Bukan yang digital suarapabrikan, tetapi tabung suara dewa-dewa gitar seperti dirinya.

Suara yang meraung, padahal Maestro hampir-hampir tak menyentuh dawai-dawainya. Raungan suara itu tercipta oleh head cabinet sebelastabung, dan speker dua ratus watt 8x12 stack cabinet. Tapi ini bukanmatematika, 8x12 bukan 96 hasilnya, tetapi 30. Lebihtepatnya "Marshal JCM 6100 30th Anniversary series".

Dan bukan itu saja yang mencipta raungan tersebut. Satu ampli belumcukup untuk seorang maestro. Pemain lain boleh bermimpi memilikiampli sekaliber Marshall, tetapi tidak cukup memuaskan telingaMaestro. Agar lebih gahar ia pakai dua ampli sekaligus. Dan iamemakai Mesa Boogie Rectifier cabinet, dengan delapan speakerCelestion dua belas inci dalam dua banjar empat baris atas kebawah.Dibagi dalam dua kabinet yang terpisah. Barulah bisa dikatakbahwasanya gitar barunya itu diperlakukan secara adil.

Jari-jari menyelusuri tiap dawai dan tiap fret yang ada di gitar itu.Dalam berbagai posisi dan inversi. Mayor, minor, augmented, dandiminished. Semua skala dalam tiap nada dasar menjadi eksplorasi.Semua nada, semua formula, semua teori yang penah diajarkan kepadanyasemuanya dijajalnya. Mixolydian, Lydian, Eolian, semua dicobanya.

Tapi itu baru permulaan, kini Maestro mulai serius. Ia melupakansemua repertoir yang biasa ia mainkan. Dan mulai bereksperimen semuabentuk, dan semua suara yang mungkin tercipta dari gitar dan benteng-benteng suara. Mendadak seluruh ruangan terisi oleh dinding suarayang diciptakan oleh bertubi-tubi efek yang dihantarkan. Dari yangpaling manis sampai ke yang paling cadas, dari yang paling umumsampai ke yang paling absurd.

Hingga akhirnya dawai-dawai, gitar baru, benteng suara, dan dua ampliseolah menyatu dengan sang Maestro. Tidak ada lagi experimentasi, inisaatnya mematangkan semua konsep, menjadi kesatuan irama. Begitupiawai jemari Maestro menari-nari diatas dawai gitar itu. Dan gitaritupun begitu garang menyetubuhi jemari Maestro. Sehingga jemari itudihamili oleh inspirasi. Kehamilan tersebut menyebarkan virus yangmenyebar begitu cepatnya ke dalam darah, dan hampir seketika seluruhtubuhnya terinfeksi virus-virus inspirasi. Tubuhnya mulai melemah,melarut dalam emosi, terhanyut dalam melodi. Persetan dengan semuayang terjadi.

Tiba-tiba semua irama itu terhenti. Dan dinding suara itupun runtuhrata dengan bumi. Kerlipan lampu warna-warni yang menari di benteng-benteng suara kini tiba-tiba saja menghilang. Dan yang dapatterdengar hanyalah kebisuan, saat seluruh kota kehilangan energi.Maestro kebingungan, dengungan inspirasi berteriak ingin keluar. Dikepala terngiang semua konsep yang belum matang. Dalam darah masihmengalir virus-virus inspirasi. Masih banyak emosi berdesakan, mintadikeluarkan, minta diendapkan apapun medianya.

Maestro tidak ambil pusing. Bagi jemarinya yang terampil semua gitarsama bagusnya. Semua gitar semata media. Tanpa kepiawaiannya gitarmahal sekalipun tiada bernyawa. Diambilnya gitar akustik yang tua,hampir sama dengan umur Maestro, menemaninya selama seperempat abad.Dan mulai derasnya inspirasi yang selama ini tertampung, perlahaan-lahan dialirkan dalam alunan gitar akustik. Bendungan itu akhirnyadipecahkan dan lahan-lahan kering pun terairi, dan menjadi asrikembali.

Kesederhanaan gitar akustik itu membuat Maestro bereksplorasi ke arahyang lain, berbeda dengan sebelumnya. Bukan kearah yang absurd,permainan benteng-benteng suara, dan mengandalkan teknologi. Tetapike inti sebuah lagu, nada-nada yang menggugah, cerminan kedewasaan.

Kota kembali terisi oleh energi. Namun maestro tidak lagi peduli. Iaterus bermain dengan gitar tuanya. Ia cukup materi untuk albumberikut, yang besar kemungkinannya bertahtakan platinum.

Feb 22, 2004