Wednesday, February 17, 2010

Dream #1

Di padang rumput yang luas kubertemu bocah itu. Kulihat di
sekelilingku abu-abu, tiada sedikitpun noda berwarna. Dan semuanya
seperti terbungkus dalam kesunyian yang membuat kepalaku seolah ingin
pecah karenanya. Dan semua gerakan seolah melambat, dua atau tiga
kali, bahkan kucuran air yang menetes di air terjun di sela-sela
lembah-lembah berbatu jatuh secara perlahan.

Tak ada makhluk lain yang bergerak kecuali kami berdua, bahkan angin
pun tiada berhembus membelai kulit kami. Di sana ia berdiri di bukit
kecil kami. Di sana ia berdiri di bukit kecil yang terkepung oleh
rerumputan tinggi. Aku mengejarnya sampai ke sana.
Dan entah kenapa aku mengejarnya, mungkin aku tertarik kepada
kesedihannya. Bocah itu kecil sekali, tingginya tak lebih dari rumput-
rumput itu. Aku mengejarnya sampai ke titik dimana aku kehilangan ia
sama sekali. Dan begitu ku sadari ia sudah berada di atas bukit kecil
itu, meratapi pohon besar yang berdiri layu di atas bukit itu.

Pohon itu adalah satu-satunya pohon yang kutemui di mimpi ini, dan ia
pun berdiri sebatang kara dan sekarat. Tak ada dedaunan yang sudi
lagi hinggap di disana sementara batang-batangnya mengering dan
menghitam. Ia sudah mulai meretak dan tinggal waktu sebelum ia hancur
berkeping. Pohon itu sudah seperti kaca tipis yang tidak akan kuat
menahan tenaga selembut sentuhan tangan seorang bocah.

Bocah itu mulai meneteskan air mata yang jatuh secara lambat menuju
tanah dan sebelum akhirnya bumi itu dihantamnya. Dan seketika air itu
menets semua yang hijau berubah menjadi hitam dan abu-abu yang
gersang, meninggalkan bukit hijau itu telanjang akan rerumputan
tinggi yang tadi menyulitkan gerak-gerik kami. Yang tinggal hanyalah
tanah yang tidak bermanfaat, kering, gersang, berwarna hitam dan abu-
abu. Tak ada rerumputan yang menemani kami, yang ada hanyalah aku,
bocah kecil, bukit gersang, langit abu-abu dan pohon serapuh kaca.

Pohon itu penuh jahitan, tambal, plester, staples, dam selotip.
Kulihat ia sudah sekeras tenaga berusaha menyelamatkan dan
menyembuhkan pohon itu, namun dengan cara-cara yang masuk akal bagi
bocah seusianya. Ia datang meratapi pohon itu sambil membawa lebih
banyak benang, jarum dan selotip. Aku coba menasihatinya, naumun
hanya kebisuan yang keluar dari mulutku. Dan ada tembok besar kasat
mata yang membuatku tak dapat menyentuh bocah itu.

Bocah itu terlalu sibuk menjahit menyatukan kembali pohon yang mulai
meretak itu Namun pohon itu tidak dapat terkeluarkan dari ajalnya
yang semakin pasti. Bocah itu kembali meneteskan air mata, dan air
mata yang menetes itulah yang membuat dunia sekitarnya semakin mati.
Air mata itulah yang membuat pohon itu enggan hidup kembali.
Menyadari hal itu bucah bukan malah berhenti, namun semakin deras air
mata itu menetes hujani bumi. Dan setiap tetesan air mata itu
mengkonsumsi diri bocah itu sendiri.

No comments: