Ada pemuda datang dengan gagahnya ke kota yang kecil di mimpi ini.
Ia membawa belati yang lebih panjang dari tangannya sendiri. Namun
tak hanya belati yang ia bawa, tetapi juga cita-cita yang sangat
tinggi. Dan seketika ia menginjakkan kakinya itu, semua orang di
mimpi ini berhenti dan menoleh ke arahnya. Dan walikota pun
mencegatnya bersama dengan beberapa orang pemuda kota yang kekar-
kekar.
"Hei, pemuda! Mau apa kemari kamu kemari membawa belati?"
"Aku ingin membunuh matahari, ia kian hari semakin menyengat,
mencuri air di laut dan di sungai."
Lalu semua orang tertawa terbahak-bahak, namun pemuda itu sudah tuli
akan kata-kata cemooh. Ia sudah tidak peduli, karena baginya
matahari adalah sosok yang jahat yang mencuri air di laut dan di
darat. Mataharilah yang menyebabkan semua ternaknya mati kehausan,
dan penyebab ia tidak mandi tiga minggu ini. Matahari dan panasnya
juga mencuri air-air di tubuhnya. Semua air itu keluar sebagai
keringat dan membuat pakaiannya basah kuyup, sebelum akhirnya
menjadi uap dan terbang ke udara, tempat matahari itu berada.
"Cuma karena itu engkau ingin membunuh matahari?"
"Tidak hanya itu, ia kian hari semakin terang, begitu terang ia
sudah membutakan orang tuaku. Bahkan aku tidak dapat keluar rumah
tanpa kacamata hitam."
Namun betapapun kerasnya orang-orang mencoba menghentikan kegilaan
itu, mereka tidak dapat mempupuskan cita-cita pemuda untuk membunuh
matahari. Mereka sudah mencoba dengan segala cara. Pertama mereka
mencoba dengan bujuk rayu dan kata-kata manis bahkan merayunya
dengan harta dan kedudukan, namun pemuda itu tidak sudi bahkan untuk
mendengarnya. Lalu mereka mencoba dengan debat, menghentikan ia
dengan jurus-jurus ilmu pengetahuan, logika, dan nalar namun nasib
yang sama mereka temui, pemuda itu hanya semakin mengacuhkan mereka.
Terakhir, setelah semua jalan telah ditempuh, mereka mencoba dengan
hardikan dan caci maki.
Mereka masing-masing mengambil kerikil dan melemparkannya ke tubuh
pemuda itu. Pemuda itu lari dari amukan warga kota dengan punggung
yang berdarah dan rasa nyeri yang tak mau pergi. Pemuda berlari
sampai ke batas kota dimana tidak ada lagi kerikil yang dapat
mengenai tubuhnya. Ia menoleh ke arah kota itu untuk sesaat, dan
kembali memusatkan perhatiannya ke benda yang paling dibencinya saat
ini, Matahari.
Pemuda berjalan langkah demi langkah mendekati tujuan, melintasi
gunung dan lembah ke ujung barat tempat matahari tertidur. Segenap
langkah yang tercipta matahari menyengat tubuhnya dengan panas yang
teramat sangat, dan hawa yang menjilati kulitnya hingga terpanggang
dan menghitam. Dan matahari juga membakar tanah yang ia pijak dengan
panas yang membara, sampai kaki-kaki itu melepuh dan memerah,
membuat setiap langkah yang ia tempuh menjadi langkah yang penuh
siksaan dan penderitaan.
Tak ada yang mendengar kabar dari pemuda itu lagi selama berhari-
hari dan berminggu-minggu. Hingga suatu malam pemuda itu kembali
dari ujung barat. Semua orang pun keluar dari rumahnya hanya sekedar
ingin tahu nasibnya, walaupun ada yang keluar untuk mendarat satu
atau dua buah pukulan ke arahnya. Namun apa yang dilihat mereka?
Mereka melihat seorang pemuda yang hitam kelam, terbakar oleh
jilatan matahari, dan buta akibat cahayanya yang menyilaukan. Dan
semua orang tanpa sedikitpun berbelas kasoh mulai mentertawakan
pemuda itu, sampai akhirnya seisi kota penuh dengan gelak tawa.
"Tertawalah! Tertawalah kalian! Kita lihat besok, siapa yang
tertawa."
Dan mereka pun menunggu sampai besok, hanya untuk membuktikan kata-
kata pemuda itu. Tetapi hari esok tidak pernah datang walau bulan
terbit dan tenggelam. Tidak ada lagi matahri yang menyinari,
pertanda dimulainya hari yang baru. Matahari sudah mati.
Wednesday, February 17, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment