Wednesday, February 17, 2010

Dreams#3

Entah apalagi yang akan kutemui di mimpiku kali ini. Aku sedang
berjalan melintasi padang bebatuan yang luas dan gersang, sementara
matahari tinggi memanggang bumi, sementara angin kering mengkikis
perlahan bebatuan itu menjadi pecahan-pecahan halus yang sering
kusebut debu. Debu itu yang membuat udara yang kuhirup menjadi sesak
dan penuh, penuh akan kepedihan. Debu pasir dan kerikil menyerbu
sepatu yang membuat langkahku kian dan kian beratnya. Sementara bumi
di bawahku terkikis sampai halus. Begitu halus aku sempat mengira ia
tak lagi sudi menopang berat tubuhku. Sampai akhirnya tak
tertahankan olehku, kutanggalkan sepatu berat itu. Meninggalkan
telapak kaki ini menyatu dengan bumi yang terkikis halus dan
terpanggang matahari.

Lalu kubertemu seseorang yang tua renta. Ia sedang memegang sekop
besi berkilatan, menggali pasir dan kerikil. Menciptakan sebuah
liang yang cukup dalam dan lebar untuk jatuh terperangkap di
dalamnya tanpa jalan untuk keluar. Ia tak sedikitpun berkeringat,
udara kering kerontang membuat matahari seterik apapun takakan mampu
membuat satu tetespun air membasahi bajunya. Badan itu menyimpan
banyak kerutan, hanya terlapis oleh singlet putih yang kini tak
seberapa putih lagi, dan celana katun hitam legam. Terlihat olehku
pakaian lain yang ditanggalkannya. Sebuah kemeja putih licin dan
rapi, sebuah jas tuksedo hitam, dasi kupu-kupu, dan sepatu hitam
mengkilap lengkap dengan kaus kaki putihnya, serta sarung tangan
putih, ikat pinggang kulit, dan setangkai bunga mawar.

Ia terlihat amat lelah. Sesekali ia berhenti menghela nafas.
Bibirnya adalah tanda-tanda seseorang yang dehidrasi. Namun ia tak
peduli bilamana teriknya matahari dan udara kering telah mencuri air
di tubuhnya. Ia segera saja melanjutkan penggaliannya itu. Aku tak
dapat diam dan membiarkan keingintahuanku tak terpuaskan.

"Kenapa kau gali liang ini?" Tanyaku kepadanya.

"Aku ingin menanam diriku sendiri. Aku sudah tua dan seorang diri."

"Karena itukah kau menyiapkan pakaian terbaikmu untuk kau pakai
sampai akhir zaman?"

"Tentu, aku sudah hampir selesai. Sudah saatnya aku berganti
pakaian."

Ia memang sudah terlihat sedang menunggu ajal menjemput. Namun aku
masih penasaran siapa yang akan menutup liang itu rapat, bila
ajalnya sudah tiba. Sembari aku berpamitan aku berjanji dalam hati,
bahwa akulah yang akan melakukannya.

Aku kembali meneruskan perjalananku, walau aku tak tahu pasti kemana
arah dan tujuanku, ataupun apa yang menanti di akhir perjalananku.
Namun satu hal yang pasti, tak banyak yang dapat ku perbuat disini.

Kembali kulihat seseorang sedang sibuk menggali tanah berpasir ini.
Kali ini bukan seorang tua dan renta, dan tidak terlihat bahwa ia
sedang menunggu ajal. Ia tidak terlihat berpenyakitan, malah
terlihat bugar dan antusias. Aku berfikir pastilah ia menggali untuk
alasan yang lain.

Dan kulihat sebuah liang yang lebih dalam dari orang tua tadi. Ia
tidak terlihat letih sama sekali, walaupun setelah menggali liang
sedalam itu. Ia terlihat seperti seseorang yang terpelajar, di bibir
liang itu tergeletak buku-buku dan manuskrip-manuskrip, bertumpuk-
tumpuk jumlahnya. Serta lembaran-lembaran kosong yang menunggu untuk
diisi. Segera saja kupuaskan keingin tahuanku.

"Maaf tuan, kenapa kau gali liang ini?"

"Aku seorang sufi. Aku ingi menggali sampai ke inti bumi. Mungkin
disitulah dapat kutemukan arti dan inti dari hidup ini."

Beberapa pembicaraan terlontar dari mulut kami berdua. Bertukar
fikiran tentang hidup dan mati, dan juga mimpi. Sampai akhirnya kami
berjabat tangan dan berpisah. Namun sebelumnya aku buat ia berjanji
untuk memberi tahu kepadaku seketika ia menemukan arti kenapa kita
semua ada di sini.

Belum lagi jauh kuberjalan kutemui kembali seseorang yang sedang
menggali liang. Adalah seseorang yang setengah baya. Ia terlihat
tambun dan sangatlah kaya. Engkau dapat melihat dari betapa rapi
tersisirnya rambutnya dan betapa licin semir hitam itu menempel,
menyembunyikan rambutnya yang memutih. Atau dari betapa halus
kulitnya yang terawat dari kejamnya sang waktu. Atau arloji emas
yang melingkari pergelangan tangannya bahwa ia adalah orang yang
serba berkecukupan.

Tapi mengapa ia menggali liang ini? Mengapa ia tidak mengupah orang
saja untuk melakukannya?

"Maaf, pak! Mengapa engkau menggali liang ini?" Kataku dengan nada
yang sesopan mungkin.

"Oh, aku ingin mengubur masa laluku. Aku tak ingin orang-orang
mengetahui mereka."

Pantas saja ia bersusah payah menggali liang ini seorang diri. Ada
rahasia-rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Lalu ia
membuka kepalanya dan mengeluarkan masa lalunya. Dikeluarkannya
korupsi, dikeluarkannya skandal seks, dikeluarkan pula orang-orang
yang pernah ia tindas dan kelabui, lalu dikeluarkan pula orang-orang
yang pernah jilat.

Aku tidak mau kalah. Ku keluarkan juga masa laluku, kenangan-
kenangan burukku, dan hal-hal yang membuat diriku menjauh dari apa
yang baik dan benar. Dan ku memohon agar ia mau mengubur mereka
dengan masa lalunya. Sebagai imbalannya ku juga mengubur semua
hasrat untuk membeberkan rahasia masa lalunya.

Ia pun setuju. Dan kami pun bersalaman, dan sebuah senyuman menyegel
perjanjian itu. Dan aku pun kembali melangkahkan kaki.

No comments: