Kulihat ia ada di sini. Sedang apa ia di sini? Ini mimpiku, ini
istirahatku, ini tempat suci bagi diriku sendiri. Bukannya tidak
boleh, tapi aku tak mengharapkan ada orang selain diriku sendiri, di
sini, di mimpiku ini.
Ia hanya berdiri di sana, di kejauhan dengan mata memandang jauh
menembus cakrawala. Sementara angin berhembus lembut menebarkan
harum wangi tubuhnya, semerbak ke seluruh penjuru mimpi ini.
Membelai rambutnya yang hitam kemilauan. Mengibarkan pakaian serba
putih yang ia pakai. Putih dan lembut, seputih dan selembut awan di
angkasa pada hari yang cerah. Membuatnya bersinar sendiri, di antara
hijaunya padang rumput di mimpi ini.
Aku hampiri dia, menembus rerumputan tinggi yang mengekangku dari
langkah yang lebih cepat. Ia hanya berdiri saja, tak beranjak. Ia
bentangkan tangannya jauh-jauh seolah ingin terbang bersama angin
yang bertiup. Ia berangan ia seberat segenggam kapas yang cukup
ringan untuk terombang-ambing dalam hembusan angin dengan mudahnya.
Angin itu melukiskan garis-garis jingga saat tersentuh kulitnya,
itulah warna harum tubuhnya. Garis-garis jingga yang mengalir pasti,
senada dengan langit yang biru pekat. Biru itu lebih pekat dari
birunya lautan dan angkasa, atau biru manapun di alam nyata. Di
antara biru itu ada aliran garis garis putih, meliuk, memutar,
seperti aliran magma yang berwarna biru. Di bawah kakinya, padang
rumput setinggi lutut, hijau tua. Di bawah cakrawala tak ada warna
selain hijau tua, tak ada tanah kotor ke coklatan yang menodai, atau
satu buah pun abu-abu dari batu yang memecah hijau itu. Tak ada
putihnya kayu tumbang yang memutih seiring waktu berjalan. Tak ada
pohon yang hijau berlumutan berdiri di antara hijaunya padang
rumput. Tak ada hitamnya kumbang, hijaunya belalang, kuningnya
lebah, ataupun merahnya kepik di antara rerumputan, walau sekeras
apapun kau mencari mereka. Tak ada beningnya sungai-sungai kecil dan
mata air. Hanya ada putih bersih dan bersinar dari pakaian dan
kulitnya yang halus.
Sesampainya aku di dekatnya, aku berhenti. Aku berdiri dan mencoba
melihat apa itu yang ia lihat. Hanyalah padang rumput luas yang
kosong, sejauh mata memandang. Apa yang ia lihat? Apakah ia hanya
menatap ke rerumputan itu? Apakah ia mencoba menghitung jumlah
mereka satu-persatu? Apakah ia melihat sesuatu di balik rerumputan
itu? Apakah ia mampu melihat dan menangkap arti dari mimpi ini?
Ia lalu berbalik ke arahku dan tersenyum. Dan aku pun merasa sebuah
keanehan, sesuatu yang lama tidak aku rasakan. Ada rasa saling
mengenal saat ku tatap senyuman itu. Aku serasa telah mengenal
senyuman itu seumur hidupku. Senyuman yang berkata semua kata yang
ingin kau dengar dan semua yang ingin kau ucapkan. Ku balas dengan
senyumanku sendiri, walaupun senyumanku tak bisa berbicara banyak,
sebanyak senyumannya. Aku tak bisa membalas dengan senyuman yang
sama. Dan ia pun berkata.
"Ini mimpimu?"
Aku hanya tersenyum tersipu. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku
tidak tahu kemana arah pertanyaan itu. Apakah ia bertanya penuh
dengan decak kagum, ataukah ia bertanya mencemooh penuh rasa kecewa,
hanya ini saja mimpiku. Ataukah ia hanya sekedar bertanya, tanpa
memperdulikan jawaban apa yang akan ku beri nanti.
"Bagus juga!" katanya
"Apa bagusnya mimpiku ini? Hanya padang rumput yang kosong."
Jawabku merendah, aku tidak tahu apakah ia sanggup merasakan apa
yang aku rasakan setiap ku masuk ke dalam mimpi ini. Mimpiku memang
sederhana sekali, namun seperti itulah yang aku suka. Beda sekali
dari kenyataan yang mengandung banyak sekali topeng dan lapisan.
"Sudah lama kau di sini?"
"Yah, lumayan. Setiap malam aku selalu ke sini. Tidak tahu pasti
kapan aku mulai memimpikan tempat ini."
Dia melirik ke bawah, mendengarkan jawabanku yang singkat itu.
Tangan itu terus membentang jauh, tanpa sedikitpun tanda mereka akan
diturunkan kembali oleh rasa letih. Ia menatap terus ke bawah,
terpana pada aliran angin yang bergerak di sela rerumputan tinggi.
"Kau suka terbang, ya?" Kataku. Ia tersenyum kecil sambil melirik
sebentar ke arahku, dan ia kembali mengawasi tingkah laku angin dan
rerumputan yang bergoyang.
"Tidak, aku belum bisa." Katanya sedikit malu.
"Suka tempat ini?" kataku lagi.
Ia langsung menatapku tanpa senyum, menatap tajam ke mataku, sembari
ia turunkan tangan itu kembali ke sampingnya. Aku mulai khawatir ia
tersinggung oleh ucapanku. Aku takut ia punya anggapan yang salah.
Aku takut ia menganggap kehadiran dirinya mengganggu mimpiku. Tapi
bukan itu maksudku, aku sungguh tak bermaksud apa-apa. Duh, ingin ku
cabut lidah yang pernah mengucap kata-kata bodoh itu dari
tengkorakku.
Ia terdiam, lama memikirkan jawaban, pertanyaanku. Apakah ia suka
pada mimpiku ini atau tidak. Ia mencari jawabannya di seluruh
penjuru mimipi ini. Ia mencari jawabannya di rumput tinggi yang
bergoyang, di angin yang membawa semerbak harum tubuhnya, bagaimana
wangi tubuh mempunyai warna jingga, bagaimana pekatnya biru langit,
dan di awan yang hanyalah garis garis putih seperti aliran lava
berwarna biru. Ia cari di dalam sinar cahaya putih dari pakaian dan
tubuhnya. Dan ia cari dalam pakaianku yang serba kehitaman.
"Di sini badanku terasa enteng sekali. Saking entengnya, aku percaya
aku dapat diterbangkan bersama angin."
Aku tersenyum lebar sambil ku masukkan tanganku ke dalam saku celana
jeans hitamku ini. Aku senang ia suka tempat ini. Dan terlebih lagi,
aku senang ia suka tempat ini untuk alasan yang sama denganku. Aku
juga suka bagaimana tempat ini membuatku merasa ringan. Terutama
bagaimana otakku menjadi ringan karena tempat ini. Lalu ku jelaskan
mengapa.
"Di tempat ini, tak ada masa depan dan masa lalu. Tidak ada masa
depan untuk dirisaukan, dan tak ada masa lalu untuk diingat kembali.
Karena itu kau merasa enteng."
Dan ia mengangkat tangannya tinggi menembus udara, seperti ingin
memegang udara. Menggenggam suasana di dalam tangannya. Seolah
kebahagiaan adalah sesuatu yang berwujud yang dapat dipeluk dan
dicium.
"Seperti rumah." Katanya
"Rumah?" kataku penuh tanda tanya
"Ya, rumah. Nyaman sekali. Aku serasa di rumah. Di rumah kau bisa
aman. Tak peduli masa depan dan masa lalu. Semua orang mencintaimu
walau apapun."
Ku hanya terdiam saja. Ku tak tahu harus berkata apa, bahkan aku tak
tahu harus berfikir apa.
"Kau mau melihat mimpiku?"
Lalu dia pun menawarkan tangannya. Tanpa banyak berfikir lagi, ku
genggam tangannya itu. Dan ia pun memejamkan matanya, dan aku pun
segera berlaku sama. Dan begitu ku buka mataku kami berdua sudah
berada di dalam laut. Aku sedikit panik, paru-paruku berteriak
meminta udara. Ku lihat ia tenang saja, dan genggaman tangannya
semakin erat. Lalu ia pun membuka matanya. Ia melihat mukaku yang
mengernyit mencoba menahan nafas. Lalu ia membuka mulutnya, dan tak
lama keluarlah gelembung udara dari mulut itu. Semua udara yang ada
di tubuhnya keluar dari mulut itu hingga tidak satu nafas pun yang
tersisa. Ia lalu tersenyum ke arahku. Sebuah senyum memintaku untuk
berlaku sama.
Dan aku keluarkan pula semua udara di tubuhku. Dan tiba-tiba saja
aku menjadi makhluk air. Aku tidak lagi merasakan basah kuyub, air
menjadi suatu hal yang tidak untuk dirisaukan, apalagi ditakuti.
Udara bukanlah sesuatu yang aku butuhkan, aku tak perlukan lagi paru-
paru. Aku tidak perlu lagi merasa takut akan polusi, atau kuman di
udara. Di mimpinya tak ada alasan lagi untuk takut. Di mimpinya tak
ada alasan lagi untuk bernafas. Tidak masuk akal. Manusia bukan
makhluk air, manusia perlu bernafas. Tapi itulah mimpi. Di mimpinya
tak ada alasan lagi untuk berakal.
Aku tidak lagi merasakan dingin, justru hangat. Hangat seperti
hangatnya sebuah pelukan. Di dalam air aku merasa melayang, tidak
ada gravitasi. Aku tidak perlu lagi berjalan. Lagi pula mau kemana?
Tak ada alasan untuk kemana-mana. Ke bawah adalah air, ke kanan air,
ke kiri air, ke depan dan ke belakang juga air. Dan bahkan ke atas
adalah air, walau sejauh apapun usaha mu untuk naik ke atas, ke
permukaan, menuju satu-satunya cahaya yang ada, kau tidak akan
menemukannya. Karena tak ada alasan kau ke atas sana dan bernafas
lagi. Ini sudah cukup bagiku dan dia.
Ia mengajakku berenang, maju entah kemana. Kemana, siapa peduli?
Kenapa, siapa peduli? Hanya ada kami berdua tidak ada ikan, tak ada
karang, bahkan tak ada ombak dan arus. Gelap dan sunyi. Sinar
mentari menembus air yang jernih, lebih jernih dari kolam dan laut
yang penuh plankton dan sisa-sisa kulit mati ikan. Sinar itu beriak
kalau mereka mau, namun jarang sekali. Di atas sana laut tenang dan
hening. Suatu hal yang mustahil terjadi di luar mimpi.
Sunyi sekali, aku akan suka kalau ada sedikit suara. Sedikit saja.
Tiba-tiba tanpa pertanda suatu apa, sebuah ikan paus lewat di
samping kami berdua dan mengahantarkan salam dalam bahasanya
sendiri. Lalu cahaya matahari beriak dan sekelompok ikan kecil
berenang dalam suatu kerumunan yang pejal, lalu mereka memecahkan
kerumunan itu hanya untuk kembali ke kerumunan yang pejal kembali.
Mereka lakukan itu berkali-kali sembari berenang mengitari kami.
Kenapa, siapa peduli? Tiba tiba, laut itu terang benderang dan kau
bisa melihat semua kehidupan di sana, lalu dua detik kemudian laut
itu gelap, dan tak berpenghuni. Kenapa, siapa peduli?
Lalu tiba-tiba saja kami berhenti. Tanpa alasan yang pasti ia
berhenti, dan aku juga berhenti. Lalu ia genggam kedua tanganku.
Kenapa, siapa peduli? Lalu akupun mengerti mimpinya ini. Di mimpi
ini tidak alasan. Tidak alasan untuk bernafas, untuk logika, untuk
berakal, untuk bersuara, untuk mengerti dan memahami. Segala sesuatu
terjadi begitu saja. Kenapa, siapa peduli? Tak ada alasan di
mimpinya ini, dan aku merasa sangat nyaman di sini. Kenapa aku
merasa seperti itu di saat semua tiada yang pasti, siapa peduli?
Wednesday, February 17, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment