Friday, July 11, 2008

Saat Aku Terlelap

Purnama masih setia membelai setiap kujur tubuhku dan tubuhnya malamitu, saat kami masih terbaring terlelap di atas ranjang yang takseberapa empuk itu. Kain putih yang hangat adalah satu-satunya kainyang melapisi tubuh kami dari dinginnya malam. Aku terlelap, namunfikiranku tak kunjung berkelana ke alam mimpi. Angan ini begitusetia pada tempat ini, ranjang ini, dan tubuh yang terbaring disebelahku saat ini.

Tapi ia masih terjaga, ada sisa-sisa romansa yang membuatnya tidakkuasa untuk menutup mata. Ia tidak terlihat letih, walaupun sudahterkonsumsi separuh energi kami untuk bercinta. Tatapan itu seolahmembelai setiap jengkal tubuh ini, saat ia mengawasi setiap tetesancahaya purnama yang jatuh ke tubuhku. Lalu dipeluknya tubuh ini.Kulitnya menggantikan tugas mata yang sejenak tadi begitu seksamamembelai kulitku. Dan kini kulitnya begitu seksama membelai kulitku.

Dan tanpa kusadari seberkas air liur sudah menempel di punggungku.Air liur yang tak sengaja menempel saat bibirnya yang basahmenyentuh punggung ini. Aku pun masih terlelap, namun aku tiadabermimpi. Belaian seksama dan seberkas air liur yang membuat anganini tak mau beranjak kemana-mana.

Direbahkannya kepalanya kepundakku, benar-benar kepala itu menyerahpada gravitasi. Dan untuk sejenak terpejamlah kedua bola mata itu.Namun ia tidak tertidur, ia memang tiada niatan untuk tertidur,seberat apapun kedua kelopak mata itu membujuknya untuk menyudahimalam, atau sejenuh apapun otak itu pada dunia dan ingin segeramelangkah jauh dari segala hal yang nyata. Ia tidak tertidur, iahanya ingin merebahkan kepalanya sejenak ke pundak seseorang,alangkah beruntungnya orang itu, dan aku adalah orang yang beruntung.

Rambut itu halus bagaikan sutra, dan licin bagaikan permukaan air disaat angin tidak berhembus. Helai demi helai mencoba membungkussetiap lekukan pundak, leher dan lenganku saat ia merebahkankepalanya ke pundak ini. Setiap helai berusaha mengambil setidaknyasatu tempat di tubuhku ini. Kulitkupun mulai bereaksi denganmemberikan sensasi yang cukup hebat untuk membuat jantung iniberdebar sedikit lebih cepat. Dan lebih cepat lagi setiap hembusannafas yang begitu dekat. Aku tak pernah merasakan hembusan nafasorang lain sedekat dan selama ini. Hembusan nafas manusia lain yangmerebahkan kepalanya di pundakku menggelitik telinga dengansuaranya. Sedekat ini memang membuat suara terkecil pun terasabegitu besar. Darah mengalir begitu cepat sehingga membuat semuasyaraf sarat akan energi, dan membuat semua rangsangan terhadapindera apapun terkesan terlipat ganda.

Lama, tetapi tidak cukup lama, ia angkat kembali kepala itu. Beratkepala itu meninggalkan bekas di pundakku, daging itu terasa sedikitmenyengat oleh beban sebanyak itu, namun aku tidak mengomel. Iniskenario yang aku harapkan, berkali kali tubuh kami bertemu. Tubuhkami sudah semakin akrab, bahkan otak kamipun juga begitu. Iamerebahkan kepalanya lama, tetapi tidak cukup lama.

Tak lama separuh tubuh itu sudah terangkat, ditopang oleh tangankiri, saat tangan yang satunya lagi menutupi payudara dengan sau-satunya kain yang melindungi kami dari dinginnya malam. Dan akumasih terlelap, sedangkan ia tidak sedikitpun terlintas untukberbuat sama. Sebaliknya ia diam-diam dibuainya, dengan usapanlembut di rambut. Tangan itu melintas dengan hati-hati dari ubun-ubun sampai dahi tempat rambutku berhenti. Ia tidak ingin akuterjaga dari mimpi. Namun ia tidak sadari bahwa anganku masihdisini, dan aku tiada bermimpi. Berulang kali tangan itu mengusaprambutku, saat kedua matanya memanjakan tatapan dengan memuaskankeinginan untuk menelusuri tiap sudut wajahku, dan tiap helairambutku.

Lama ia menatapku dan memperhatikan bagaimana cahaya purnama menaridiatas kulitku, tetapi tidak cukup lama. Waktu selalu menjadi musuhsaat aku berbaring di sampingnya. Lalu diberinya aku sebuah kecupanhangat selamat malam di dahiku. Kembali detakan jantung yang sempatmelambat saat ia tak lagi bernafas di dekatku, memompa darah lebihcepat. Dan kembali bibir basah itu meninggalkan seberkas liur kepermukaan kulitku.

Ranjang itu bertingkah berbeda dari sebelumnya, saat ia hanyamenopang berat tubuh satu orang manusia. Tingkah laku ranjang inilahyang membuatku sadar bahwa ia tak lagi ada di sampingku. Reaksirefleks membuat kedua mata ini terbuka dan mengumpulkan sisa-sisakesadaran yang ada. Aku membalikkan tubuhku ke arahnya, dan terlihatsosoknya di bibir ranjang, sedang memungut satu-persatu potonganpakaiannya yang berserakan di lantai dekat ranjang itu.

Ia hanya sempat memakai celana dalam dan menutup aurat lainnyadengan pakaian yang didekapnya erat ke dada, saat ia menyadari bahwaaku sedang menatapnya saat ini. Ia memalingkan kepalanya saat keduakakinya mengambil dan memasang sepasang sepatu hak tinggi yang iamiliki. Dan ia tersenyum kecil ke arahku mesra saat kakinya masihkasak-kusuk memasang sepatu itu.

Segera aku mencoba untuk bangun dari terbaringnya diriku, namunsecepat itu pula ia mencoba menghentikanku. Namun aku sudahterlanjur terduduk di ranjang itu. Dan ia pun mulai tersenyum lebihlebar dari sebelumnya dan lalu ia pun berkata.

"Jangan! Gak usah! Yang ini gratis kok."

May 15, 2004

No comments: