Wednesday, February 17, 2010

Dreams #4

Aku mengapung di udara, dan entah kekuatan apa yang diberikan
kepadaku tapi aku melayang-layang di udara. Tetapi anugerah terbang
itu tidak diberikan kepadaku sepenuhnya. Aku hanya dapat mengapung
dan mengapung, menyerah pada angin untuk berhembus dan
menggerakkanku kemanapun yang ia suka. Aku bagaikan sehelai bulu
yang terbang ditiup angin, melayang-layang di udara. Namun bulu tak
ada apa-apanya dibandingkan ringannya tubuhku. Bulu masih sesekali
dapat jatuh ke tanah akibat gravitasi bumi. Sedangkan aku hanya
mampu melayang-layang tidak bersatu dengan bayanganku sendiri,
sementara mungkin orang lain yang masih terikat dengan bayangannya
melihat iri ke arahku.

Aku melihat ke atasku burung-burung berterbangan dengan bebasnya di
angkasa. Meliuk-liuk dalam formasi agar mereka dapat lebih aman dari
pemangsa. Di depan selalulah burung yang paling kuat, karena
tenaganya diperlukan untuk memecah udara di depannya. Sementara di
samping kanan-kirinya, di pinggir formasi itu adalah burung yang
kuat lainnya. Dan yang paling lemah, yaitu anak-anak dan burung
lansia, terbang di tengah berlindung di dalam lingkaran burung-burng
kuat itu.

Ada burung elang yang sedang kelaparan, ia mengintai burung yang
paling gemuk, selain yang paling lezat ia juga yang paling lemah,
karena lemak-lemak di tubuhnya menghalanginya untuk bergerak segesit
teman-temannya. Elang itu mengawasi dari kejauhan, bergelayutan
memutari formasi itu dengan bantuan angin panas yang membantunya
menghemat energi dengan tidak mengepakkan sayapnya. Saat elang itu
merasa saat sudah tepat di menukik tajam menuju sasaran, dan sekejap
formasi itu berubah, dan bagi mata yang tak terlatih melihat burung,
seolah bergerak secara acak dan kacau. Namun perubahan formasi itu
sudah teroganisir, dan sanggup membuat elang itu kehilangan fokus di
saat begitu banyak sayap yang berkelebatan di depan dua mata tajam
itu. Walhasil si elang pulang ke sangkar dengan tangan hampa.

Namun ku merasa iri pada burung-burung itu. Mereka bebas terbang
kemana saja. Walaupun burung migrasi seperti mereka harus mengalah
pada perubahan musim dan suhu. Dan akan selalu ada burung-burung
pemangsa lainnya yang ditemui selama perjalanan pergi maupun pulang.
Aku juga iri pada manusia-manusia di bawahku, mereka bebas bepergian
kemana saja, melakukan apa yang baik untuk mereka maupun
masyarakatnya. Tidak seperti aku yang hanya sanggup melayang dan
melayang, menyerah pada kuasa angin yang berhembus.

Angin membawaku ke sebuah desa. Dan aku mengapung, tak lebih tinggi
dari atap gereja. Kulihat ada keramaian di sana. Di alun-alun mereka
berpesta-pora, dan bersuka cita. Mereka menari bergandeng tangan
membentuk lingkaran. Tua dan muda, lelaki dan perempuan, menari
berputar searah jarum jam, dan terus berputar dan berhenti sesekali,
hanya untuk menari di tempat. Lalu mereka berputar kembali, kali ini
melawan arah jarum jam.

Para musisi mengiringi mereka dengan instrumen dari segala jenis.
Ada alat perkusi seperti drum dan simbal. Ada pula alat gesek
seperti biola dan viola. Ada pula alat tiup brass seperti trompet
dan trombon maupun, wind seperti flut dan klarinet. Ada pula alat
pencet seperti piano. Dan ada pula alat petik seperti banjo dan
kontra bass. Mereka semua mengenakan pakaian semeriah pestanya itu
sendiri. Di tengah mereka ada pria tambun berjanggut putih dengan
pakaiannya yang serba hijau sedang memegang perut sementara satunya
lagi memegang segelas bir yang dingin. Ia pun tertawa terbahak-bahak
dalam kegembiraan saat ia melihat semua orang di kota itu menari,
tertawa gembira.

Musik itu pun habis dan semua orang pun bertepuk tanagn dengan
gembira. Dengan nafas yang terengah-engah mereka sudahi tarian
mereka. Semua orang tertawa riang gembira, saat lingkaran itu itu
berubah menjadi lautan manusia nyaris tak beraturan, kalau saja
mereka semua tidak menghadap ke arah panggung. Pria berjanggut
mengucap beberapa patah kata, dengan jiwa yang berapi-api, layaknya
seorang pemimpin desa.

Kata-kata itu langsung berhenti mengalir, seolah seseorang telah
menutup rapat keran suara di kerongkongannya. Ekspresinya langsung
berubah saat ia melihatku melayang-layang di sana bagaikan udara
yang tidak bermassa. Raut muka itu takjub dan terlihat semakun jelas
oleh kerutan-kerutan yang mengisyaratkan kebijaksanaan. Mata yang
sama hijau dengan pakaiannya itu terbelak penuh tanya, dan mulut
yang terkepung oleh rambut-rambut halus, putih dan panjang itu
seolah jatuh menganga. Ia menyaksikan sebuah keajaiban alam, seorang
pria yang sedang melayang.

Dan semua orang pun ikut menoleh ke arah yang sama. Dan mendadak
semua orang menjadi bisu, tak bersuara walau sedikit. Mereka lalu
bersama sama berjalan ke arahku tanpa sedikit pun beralih pandang,
tanpa sedikit pun bersuara. Lalu pecah juga hening itu dengan
mengucap rasa decak kagum mereka.

"Luar biasa!" kata seorang pemuda

"Menakjubkan!" kata seorang ibu

"Fantastis" kata seorang anak kecil, lalu disambut lagi dengan
kata "Ajaib!" dan "Spektakuler!" dan kata-kata pujaan lainnya.

"Mungkin ia seorang malaikat." Kata seorang diantara mereka

"Bukan...Bukan! Ia seorang nabi." Sahut yang lain

"Tidak ia seorang alien." Lalu disanggah dengan yang lain "Tidak ia
seorang penyihir."

Dan mulai seluruh kota itu gaduh, mempermasalahkan identitas diriku.
Mungkin dipicu oleh kebodohan mereka, mungkin juga ini histeria
masal, mungkin juga pengaruh alkohol yang mereka minum. Namun friksi-
friksi tadi menyulut api yang menyebar seperti kebakaran hutan. Muka
mereka merah terbakar amarah, dan suara mereka mulai meninggi.
Suasana pun menjadi gaduh dan tidak terkendali, memperdebatkan
identitasku.

Aku coba menghentikan mereka pertengkaran yang terjadi. Aku tak
ingin keceriaan yang tadi ada berubah menjadi pertengkaran, apalagi
perkelahian. Lagipula aku bukanlah siapa-siapa, apalagi seperti yang
mereka sebut. Aku bukan malaikat, tapi juga bukan penyihir. Aku
bukan nabi, tapi juga bukan alien. Aku hanyalah manusia biasa yang
kebetulan melayang-layang di angkasa.

Aku berteriak sekuat tenaga melerai mereka. Namun suaraku terlalu
lemah sampai di kuping mereka. Ketinggian ini penyebab semuanya, aku
tak cukup kuat berteriak untuk mereka dengar, apalagi di tengah
suasana gaduh yang kini menjadi semakin kacau.

Dan di tengah kekacauan yang terjadi. Ada angin kuat meniupku
menerbangkan aku menjauhi mereka. Mereka pun berhenti bertengkar,
saat melihatku semakin menjauh dari mereka. Dan dengan sigapnya
kepala desa berseru pada warganya

"Ikuti orang itu!" suasan menjadi ricuh kembali. Semua orang berlari
menuju kendaraan mereka masing-masing. Dan satu-persatu mesin mulai
hidup dan permainan kucing dan tikuspun dimulai.

Suara mesin menderu-deru, jalanan pun pekat akan debu. Semua yang
bermesin dan beroda, menegjar diriku. Sekuat tenaga mereka mencoba
kalahkan kecepatan angin, dan menyusuliku. Kota itu menjadi mati,
semua orang pergi mengejarku, Tua dan muda, laki-laki maupun
perempuan. Entah apa yang mereka mau dariku, mungkin hanya sekedar
ingin tahu, atau benar-benar mereka mengira aku malaikat ataupun
penyihir.

Puluhan mobil mengejarku dari segala jenis mobil yang ada.
Kebanyakan dari mereka adalah sedan, dari segala bentuk dan merek.
Namun ada juga truk pick-up yang penuh dengan penumpang. Ada juga
yang membawa truk besar mereka, masih dipenuhi dengan binatang
ternak dan sayur-mayur. Bahkan mobil polisi, ambulan, dan mobil
pemadam kebakaran pun mengejarku. Tapi tak sedikit pula yang
mengejarku dengan sepeda motor, dan kuda.

Angin dingin membawaku turun mendekati bumi, dan mobil-mobil itu
tampak jelas sekali. Dua orang pemuda sudah siap dengan laso mereka,
berdiri di atas pick-up terbuka. Mereka menunggu sampai aku benar-
benar dalam jangkauan, dan berharap angin membawaku ke padang luas
yang terbuka, tanpa halangan pohon-pohon rindang. Dan akhirnya
kesempatan itu tiba, angin berhembus ke arah padang rumput luas dan
aku bergerak turun dan turun lagi. Dan mereka pun menjeratku dengan
dua tali laso terbuat dari tambang yang kuat dan kasar, satu
menjerat leherku dan satu lagi pergelangan kakiku. Aku tercekik
lemas dan jatuh menghujam bumi.

Semua orang terheran-heran, saling menatap kebingungan. Aku tak lagi
terbang, aku hanya orang biasa kembali. Lalu aku pun sadarkan diri
dan kembali berdiri, berbicara layaknya seorang manusia, berjalan ke
arah mereka layaknya seorang manusia. Lalu sekelompok burng yang
sama lewat melintasi kami semua. Dan aku mengadahkan tanganku dan
melambai ke arah mereka. Aku bahagia karena aku bebas pergi
kemanapun aku suka. Aku tidak lagi menyerah pada angin, meski
pengalaman itu menyenangkan. Burung itupun pergi melintasiku, begitu
juga semua orang yang tadi menjeratku. Rupanya kekosongan hati
mereka menyebabkan mereka ringan dan melayang di udara. Dan angin
kembali berhembus dan menerbangkan mereka semua. Mereka seperti aku
dahulu, bedanya mereka sekarang menjadi tidak istimewa. Sedangkan
aku yang bisa berjalan menjadi sangat istimewa, dan sangat bahagia.

No comments: