Friday, July 11, 2008

Reinkarnasi

Dari kali pertama aku melek, aku langsung tahu ini bukan rumah sakit.Aku dilahirkan kembali bukan sebagai manusia. Aku bukan bayi manusiayang menangis di pelukan ibu dan ayah. Aku tidak merasakan keberadaantali pusar yang menjadi penyambung hidupku selama aku di kandungan.Berbeda di kehidupanku yang sebelumnya. Bila aku tidak bertali pusar,maka mungkin juga tak ada yang mengandungku. Kehidupan macam apa ini?Pastilah bukan manusia, atau juga bukan mamalia. Apakah aku reptilia,yang lahir dari telur? Ataukah aku sejenis unggas, yang diperamsekian lama dan akhirnya aku menetas? Aku tidak tahu apa dirikusebenarnya, dan dijaman apa aku dilahirkan kembali.

Tidak ada induk, ayah maupun ibu atau sekilas cinta kasih yangmenyayangiku, atau setidaknya menyambut kelahiranku. Tidak ada bidanataupun suster yang membantu kelahiranku. Kulihat di kejauhan, adabeberapa orang berdiri di tempat yang tinggi mengawasi setiap gerak-gerikku. Apakah mereka ayah-ayahku? Ataukah aku diciptakan olehmereka. Tidak. Mereka bukan ayahku, mereka tidak menyambut dengangembira kehadiranku, mereka terus memasang muka masam, tiada candatawa memperhatikanku.

Beberapa kali ku lewati lorong sempit dan gelap, menggencet,meratakanku dengan titian tempat aku berbaring saat ini. Makhluk apamereka? Mengapa mereka menggencetku? Apakah mereka lakukan itu atasdasar kasih sayang atau kah benci? Apa mungkin merekalah ayah ibuku.
Pembaringanku berjalan sendiri, digerakkan oleh tenaga-tenaga magisyang tidak aku pahami, tak pernah kutemukan di kehidupan akusebelumnya. Lalu aku diletakkan kedalam sebuah bejana dari besi, danmakhluk-makhluk itu menumpukkanku bersama dengan aku-aku lainnya.Dari aku-aku lainnyalah kesempatan yang pertama aku memahami wujudasliku. Seperti inikah wujudku sekarang? Lembaran tipis lebih tipisdari kulit cecak, putih seperti susu, berserat halus seperti kain,pipih, lebar dan ringan seperti bulu. Aku menduga bahwa aku terbuatdari serat-serat halus yang dulunya bernyawa. Aku dapat mencium bau-bau yang sangat khas yang dulu sering kutemui di kehidupanku yangsebelumnya. Aku ingat sekarang…kertas…ini adalah bau kertas, dan akuadalah selembar kertas.

Tidak lama satu persatu dari kami, diambil, oleh sebuah makhluk anehlainnya. Di baringkan lagi ke titian yang berjalan sendiri, sepertiketika aku dilahirkan. Tak lama lagi giliranku. Cemas dan antusiasbercampur aduk membentuk suatu perasaan baru yang tak menentu.Kulihat mata-mata garang tanpa senyum dan canda tawa masih setiamengawasi setiap gerak-gerikku.
Akhirnya giliranku tiba. Tangan-tangan itu dingin, dan beku. Akupernah berkenalan dengan sentuhan itu di kehidupanku yang sebelumnya.Ah…aku ingat lagi sekarang itu adalah bahan logam yang biasaditemukan di mana-mana…Besi. Besi-besi itu meletakkan aku ke titianpembaringan yang berjalan oleh tenaga aneh yang sekarang aku tidaklagi peduli. Aku sudah diselimuti rasa senang, karena aku sekarangmengetahui hal-hal yang sebelumnya aku tidak pahami, hasil ingatandari kehidupanku yang sebelumnya yang masih tersisa.

Aku lalu diggencet lagi oleh makhluk itu, lagi dan lagi. Diputar-putar, dibolak-balik muka dibawah, punggung diatas, telungkup laluterbaring kembali. Lalu hal yang mengerikan terjadi. Sesuatumenimpaku dengan cepat dan begitu tiba-tiba. Aku sempoyongan, namunmasih sempat kulihat apa yang menimpaku. Pelat besi yang menghitamoleh lendir hitam pekat dengan figur seseorang yang pernah aku kenalsebelumnya. Lalu ada sesuatu yang lain menyerangku dari belakang.Perasan yang sama dengan yang sebelumnya. Pasti pelat besi lainnya.

Lalu akhirnya aku melihat matahari. Dan mata-mata yang sejak tadimengawasi setiap tindak-tandukku, tidak lagi berwajah masam, tanpacanda tawa. Mereka tersenyum kearahku, dan ku tak kuasa bertanyakenapa. Senyuman itu begitu mencurigakan, kenapa? Apa yang berubahdariku? Aku merasakan lendir hitam pekat oleh-oleh pelat besi, mulaimengering dan meresap kedalam serat-serat tubuhku. Secepat kilatkuperhatikan perubahan yang terjadi di dalam diriku. Ah…aku sekarangmerasa bernyawa. Lendir-lendir hitam yang sempat memberikan akutrauma, ternyata dengan sukses memberikan aku nyawa. Dan aku akhirnyamengetahui dari pengalaman hidupku yang sebelumnya apa lendir-lendirhitam itu sebenarnya…tinta. Ya, tinta. Kertas adalah tubuhku dantinta adalah nyawaku.

Belum sempat aku bersenang-senang atas penemuan itu. Makhluk lainnyasudah menunggu diriku. Namun aku tak gentar, aku sudah siap untuktemui apalagi yang jadi pelengkap diriku yang terlahir kembali.Ternyata ada bilah, bilah besi yang sangat tajam di dalamnya,mengiris-iris tubuhku membujur lalu melintang. Aku tidak rasakankesakitan apalagi berdarah. Malah aku merasa utuh. Keutuhan yang anehmenghampiri justru saat aku telah dibagi-bagi oleh bilah-bilah besiyang tajam itu. Aku kini selembar kertas, tak lebih satu jengkalpanjangnya, kertas adalah tubuhku dan tinta adalah nyawaku.

Tinta itu yang memeberikanku sebuah figur tubuh untukku bersarang.Sebuah figur yang anehnya aku kenali, begitu akrab di kehidupankuyang sebelumnya. Begitu familiar menggelitik dan merangsang jiwakuuntuk mengingat-ingat kembali. Oh…aku ingat sekarang…figur itu, wajahitu, begitu akrab kutemui di kehidupanku yang sebelumnya. Setiaphari, sepanjang hari, setiap aku berdiam diri, statis di depan kaca.Itu adalah wajahku di kehidupan yang sebelumnya. Walaupun tidaksekilas aku ingat siapa namaku dulu, ataupun siapa diriku.

Figurku terkepung oleh banyak tulisan, jelas-jelas aku bukan sebuahlukisan, mungkin selebaran, poster atau majalah kuning. Tulisan yangpertama bisa aku pahami 1999, mungkin memberi tahu jaman apa sekarangini. Tetapi tulisan kedua "Gubernur" apa ini? seperti "Goebernoer"yang salah eja. Tetapi sepertinya bukan salah eja buktinya munculkembali tulisan itu "Deputi Gubernur" bukannya "Depoeti Goebernoer".Apa sekarang ejaannya sudah berbeda, tidak lagi mengadopsi ejaanBelanda.

Diantara tulisan-tulisan itu ada tanda-tangan orang-orang tanpa nama.Siapa mereka? Apa mereka gubernur dan deputinya? Gubernur apa? VOC?Jepang? Apakah negeri ini sudah merdeka, seperti yang dicita-citakankolega-kolegaku di kehidupanku yang sebelumnya? Pasti…buktinya adatulisan "Bank Indonesia", berarti Indonesia sekarang adalah sebuahnegara yang merdeka dan berdaulat. Diantara tulisan tulisan tadi adatulisan "Lima Puluh Ribu Rupiah". Apa itu Rupiah? Apakah ia mata uangpengganti Gulden?

Apa itu di pojok sebelah kanan atas? Ada burung aneh, sepertinyabukan elang, ataupun rajawali. Sepertinya sebuah burung fiktif yangsakti dan muncul dari legenda-legenda. Ia memakai tameng, yangmenunjukkan ia doyan berperang, atau menunjukkan kerapuhan yang perludilindungi agar lestari. Burung aneh, seingatku aku tidak pernahmelihatnya di kehidupanku yang sebelumnya, sampai detik-detik akumenutup mata untuk terakhir kalinya.
Dibelakang figur itu ada corak-corak warna-warni yang sedikit buramnamun masih terlihat spektrumnya, bahwa yang ini hijau, yang itumerah, dan yang itu biru. Dan disana juga ada garis-garis melintas-lintas di atas corak-corak itu. Bergerak bebas semaunya tanpa artiyang jelas dan makna yang dapat kupahami.

Aku dapat merasakan sesuatu di punggungku. Aha…ternyata figur dirikutidak sendirian. Ada enam orang lainnya, sedang berkumpul di depantiang bendera. Empat diantara mereka berpakaian putih, sedangkan dualainnya berpakaian hitam dan bersenjata. Salah seorang dari merekasedang mengibarkan bendera, merah dan putih warnanya. Aha…aku ingatsekarang itu adalah Sang Saka Bendera Merah Putih, yang kami rancangbersama kolega-kolegaku di kehidupanku yang sebelumnya.

Dan kulihat sebuah tulisan yang anehnya begitu familiar di benakku.Wage Rudolph Supratman? Nama itu tak begitu asing. Wage Rudolph! Ya…Aku ingat sekarang, Di kehidupanku yang dahulu itulah sebutan untukmemanggil diriku sendiri.

Aku berfikir, apa jadinya diriku di kehidupanku yang sekarang. Uang…ya…aku adalah selembar uang kertas dengan nominal lima puluh ribu,dan wajahku di kehidupanku yang sebelumnya terpampang disana. Wah…jasa apa di kehidupanku dahulu sehingga aku mendapat tempat di uangkertas seperti ini? Dan karma apa yang telah aku jalani sehingga akuterlahir kembali sebagai benda mati? Benda mati, berarti aku tidakmungkin reinkarnasi lagi. Untuk reinkarnasi aku harus jalani hidupdan mati terlebih dahulu, baru kemudian baru terlahir kembali.Sedangkan sekarang aku benda mati, mana mungkin mati lagi?

Tetapi apa semua benda mati seperti ini? Ataukah aku istimewa? Akubisa melihat apa yang terjadi dihadapanku. Walaupun pandangankufrontal, lurus ke satu arah, tidak bisa lirik kanan dan kiri, dan takbisa mengedip. Apa yang terjadi di belakangku aku tidak tahu, danenam orang yang ada dibelakangku juga sepertinya juga tidak mau tahu.Mereka selalu sibuk mengibarkan Sang Saka Dwiwarna Merah Putih, yangtak kunjung sampai di pucuk tiang bendera dan berkibar.

Aku masih bisa mencium, semua bau yang ada disekitaku. Dan aku tidakusah khawatir pilek dan keluar ingus. Aku masih bisa mendengar walaukini kupingku cuma satu, entah kemana yang satu lagi. Aku masih bisakedinginan, maupun kepanasan, tetapi tidak kesakitan, aku tahu manayang halus, kasar, kering ataupun lembab. Aku juga bisa berfikir,berpendapat seperti di kehidupanku yang sebelumnya, bedanya aku tidakmampu bereaksi terhadap apa yang terjadi, tidak bisa bergerak ataupunsekedar berbicara. Aku seperti orang lumpuh dan gagu yang tak mampuberbuat apa-apa, terpenjara dalam angan dan fikirannya sendiri. AkuWR Supratman yang kini bertubuh kertas ini, hanya mampumengkoleksikan kenangan-kenangan sebagai WR Supratman yang bertubuhmanusia di kehidupanku yang sebelumnya.

---akhir babak pertama

Entah bagaimana aku bisa sampai di sini, tempat apa ini? Aku hanyaingat dimasukkan ke sebuah makhluk yang mengumpulkan aku dengan WR-WRSupratman lainnya. Kami disatukan, dan kemudian dibagi menurutkelompok-kelompok. Kelompok kami berisi seratus buah WR Supratman,dan tampaknya begitu juga kelompok-kelompok lainnya. Sebuah kertaslain kualitasnya lebih rendah dariku, mengikat kami kencang.Melingkari kami dalam satu rumpun ikatan. Ikatan itu kencang tetapitidak menyesakkan. Kertas yang melingkari kami seperti sabuk tanpakepala itu, menjadi kuat mengikat bukan oleh simpul dalam bentukapapun. Tetapi oleh besi kecil sebesar kelingking memanjang dandibengkokkan seperti huruf "B".

Lalu aku dan seratus WR Supratman lainnya, dimasukkan oleh beberapapria berkumis berwajah garang kedalam karung putih yang sudah lamamenganga menunggu kehadiran kami. Pria-pria berkumis dengan pakaianserba hitam legam itu bersenjata. Menjaga kami dari hal-hal yang takterduga. Di sana aku bertemu lebih banyak kelompok seperti kelompokkuini. Mereka semua juga berisi WR Supratman sejumlah seratus buah.Begitu banyak WR Supratman disini, ada ribuan mungkin jutaanjumlahnya.

Meski jutaan WR Supratman berada di dalam karung itu, namun suasanadi sana teramat sangat bisu. Kami tak saling berkomunikasi. Taksepatah katapun yang dapat keluar dari sekian juta mulut dari tintaitu. Apa mereka juga dapat berfikir seperti aku? Apa mereka dapatmelihat seperti aku? Apa mereka dapat merasa seperti aku? Ataukah akuistimewa? Kami hanya saling bertatap-tatapan, bisu dan gagu. Seolahberusaha berkomunikasi lewat tatapan itu.
Kami kehilangan jejak waktu, entah berapa lama kami berada di karungitu saling bertatap-tapan, berusaha memahami fikiran masing-masing.Kudengar suara meraung seperti bunyi makhluk-makhluk yangmelahirkanku. Kurasakan kami sudah bergerak, kami pasti berada disebuah alat transportasi. Dari hebatnya guncangan yang kami alami kumenduga bahwa kami bergerak dengan cukup cepat.

Karung itu tebal sekali. Sepertinya terbuat dari kulit yang tebal,dan kaku. Pasti bahannya kuat. Karena dapat menampung besarnya bebankami tanpa adanya tanda-tanda akan kebocoran, atau jahitan yanglepas. Penjahitnya pasti orang yang sangat tekun. Karena dapatkulihat tiga lajur jahitan ganda menyatukan dua lembar kulit itumenjadikannya sebuah karung. Pasti ia menjahitnya dengan mesin Singerkeluaran terbaru, karena kulit itu begitu tebalnya. Pastilah kekuatanmanusia tidak mungkin menusukkan jarum sampai menembus, apalagiberulang-ulang dan begitu rapi sampai tiga lajur begitu.

Mulut karung itu tidak begitu tertutup rapat. Masih ada cahaya yangmenembus kedalam dan menjadi penerangan bagi kami penguni isi karungsaat ini. Dapat kulihat ada seseorang tak berkumis dengan pakaianserba hitam, seperti orang-orang yang memasukkan kami kedalam karungini. Dapat kulihat ia juga bersenjata laras panjang, bukan revolverseperti punyaku di kehidupan sebelumnya. Sesekali keperhatikanmulutnya bergerak, seperti sedang bersenda gurau. Kuperhatikanwajahnya yang masih muda. Ia tidak lebih dari dua lima tampangnyatidak garang seperti wajah pria berkumis yang memasukkanku ke dalamkarung itu, atau masam seperti pria-pria yang mengawasi setiap gerak-gerikku saat aku berubah wujud menjadi seperti ini. Ia sepertinyaseorang periang yang menikmati pekerjaannya.

Tiba tiba sebuah kekuatan yang tak kumengerti membuat karung ituterlempar maju kearah kami bergerak. Dan kulihat pria muda periangtadi juga jatuh tersungkur. Kami berhenti bergerak secara tiba-tiba.Kudengar suara-suara dari kejauhan samar-samar. Suara itu suaramanusia, saling bercakap-cakapan, tapi dari nada yang merekalontarkan, aku langsung tahu mereka bukan sedang beramah tamah.Mereka saling bertengkar, lima atau enam suara berlainan dapatkudengar. Kulihat raut muka pria muda, ia tak sedang riang gembiraseperti biasanya. Ia sedang menyiapkan senjata laras panjangnyaseperti bersiap menghadapi musuh.
Lalu kudengar suara ledakan dan letusan senjata. Berkali-kali,mungkin seratus kali memberondong pria muda periang itu dan beberapatemannya. Beberapa tembakan itu sempat mengenai salah satu dari kami.Kulihat pemuda periang itu mengeluarkan darah belum sempat iamengeluarkan satu tembakan pun dari laras panjangnya itu. Ia terpaku,menyatu dengan tembok, dan perlahan-lahan tubuhnya bergerak jatuh kebawah, sambil tubuh muda itu melukiskan warna merah pada dindingkendaraan kami. Dapat kuambil sekilas tatapan matanya. Mata itukosong dan tak bernyawa, mulutnya menganga tak percaya apa yangterjadi, memungkiri fakta bahwa dirinya sudah tiada.

Seseorang melompat masuk, dapat kurasakan getarannya. Ia jugabersenjata, tak kalah saktinya dengan laras panjang pemuda itu. Takbisa kulihat kepalanya, hanya tubuh dan tangannya yang memegangsenjata. Ia mengacungkan senjata itu, sepertinya ia ingin menghabisipemuda itu, walaupun aku tahu bahwa ia paham pemuda itu sudah takbernyawa. Berondongan peluru yang kedua terlancarkan dari senjataitu. Diantara suara keras berondongan itu samar terdengar suaratertawa, kepuasan nafsu yang sadis berasal dari orang itu.

Karung itu dibukanya, matahari bertubi-tubi masuk ke dalam kantungini. Dan dapat kulihat tampangnya tersembunyi oleh kedok hitam, daribahan wol bulu domba. Membungkus erat seluruh kepala kecuali sebagiankecil matanya. Dari matanya tersirat kesenangan yang jahat. Aku takdapat melihat mulutnya tapi kuyakin ia sedang tersenyum lebar melihatbegitu banyaknya WR Supratman di dalam kantung ini.

Dan kantung itu pun tertutup, memalingkan kami dari matahari. Kamisaling bertatap-tapan, saling bertanya-tanya lewat hati, apa yangsebenarnya terjadi.

---Akhir babak kedua

Karung itu terbuka, untuk sekali lagi aku melihat cahaya. Namunberbeda dari sebelumnya cahaya yang menghujani kami bukanlah cahayamentari tetapi cahaya lampu, yang malas-malasan menyala. Lampu ituberpendar secara aneh, aku tidak pernah melihat lampu seperti itu, dikehidupanku sebelumnya ataupun selama persinggahanku di duniasekarang. Bentuknya aneh, panjang memanjang, tidak bulat seperti bolayang lazim kutemui saatku pergi ke bangunan-bangunan pemerintahanHindia Belanda di kota Batavia. Cahayanya pun aneh, putih bersihseperti susu bukan bercahaya kuning seperti yang kami punya dulu,berpendar mengisi seluruh permukaan tabung memanjang itu, bukanmembakar filamen kawat tipis seperti yang ada di lampu bulat sepertibola yang menghiasi malam kota Batavia dahulu.

Lampu itu menyebar ke seluruh ruangan, memberikan penerangan ke semuabenda apa adanya. Yang putih tetap putih, dan biru tetap biru.Kuperhatikan tiap jengkal ruangan itu. Kecil dan sangat sederhana.Tidak ada perabotan macam-macam di sana, hanya ada sebuah meja yangdikepung oleh empat kursi dan persis di hadapanku jauh di sebrangsana sebuah sofa yang lapuk dan busuk. Semua noda yang menjijikkanada disana, noda bocor, makanan tumpah, tahi tikus, dan bahkan adanoda darah, entah siapa pemiliknya. Sofa itu sarang kecoa, berkali-kali kulihat ada kecoa yang mondar-mandir di depannya dan keluarmasuk kolong sofa itu. Aku meragukan itu kecoa yang sama, karenaperawakannya dan perilakunya tiap kali keluar masuk berbeda-beda.

Seluruh ruangan ini sarang kecoa. Dengan cahaya aneh dari satu sumberyang tunggal, sangatlah mudah bagi kecoa untuk menemukan daerah yangterteduhi oleh bayang-bayang tempat mangkal favorit kecoa. Ruanganini begitu lusuh, penuh jamur dan lubang. Air menetes taktertahankan, perlahan-lahan merayap di sekeliling tembok turun kebumi, meninggalkan jejak yang semakin melebar kesamping kanan dankiri. Langit-langit itu seakan mau jatuh menghatam kami semua,mengubur kami dalam reruntuhan.

Lantai ruangan ini begitu jorok, membuatku harus menahan jijikku.Untungnya aku tidak punya perut yang dapat bergejolak dan memuntahkansegala isinya setiap kali aku melihat kejorokan seperti ruangan ini.Ruangan ini penuh debu, sisa-sisa hasil, peninggalan kulit-kulit matikecoa-kecoa penghuni ruangan ini yang sebenarnya. Manusia pasti hanyasesekali datang ke tempat ini. Terlihat dari betapa tak terawatnyaruangan yang tidak pernah sekalipun berkenalan dengan sapu atau kainpel.

Kecoa-kecoa melirik sesekali ke arah kami menatap kami penuh curigadan tanda tanya. Mereka saling berbisik entah asik mentertawakan ataumalah merasa kasihan terhadap kami. Begitu asiknya mereka berbisik,mereka terinjak, terlumati oleh kaki seekor kecoa besar jenislainnya. Kecoa besar ini ada empat jumlahnya, satu per satu merekamembuka kedok wol hitam mereka. Kecoa-kecoa ini adalah pembunuh-pembunuh berdarah dingin, keji tanpa belas kasihan, seolah merekakebal akan dosa dan neraka. Seketika ruangan yang lembab dan baupesing ini terisi oleh kabut keabuan yang pekat akibat rokok kretekyang mereka hisap.

Lalu mereka membalikkan karung kami dan puluhan karung lainnya,menjatuhkan kami sehingga tubuh kami yang rapuh menghantam keras-keras bahan aneh yang membuat meja itu. Meluncurlah satu persatuberikat-ikat WR Supratman dari karung itu berhamburan ke seluruhmeja. Meja itu menjadi penuh sesak oleh puluhan ribu WR Supratmanmenutupi seluruh permukaan meja itu. Bagi kami yang tidak beruntung,harus berserakan mengecup lantai yang menjijikkan itu.

Di sela asap rokok yang mengepul di mulut-mulut mereka tersemburgelak tawa yang lebih menjijikkan dari kotornya ruangan dan kecoa.Gelak tawa yang timbul akan kehausan akan harta benda dan kuasa.Gelak tawa yang diraih diatas tumpahnya darah muda yang merah. Gelaktawa yang diperoleh dari senjata dan kekerasan. Mereka tertawasemakin keras ketika beberapa diantara kami harus rela dicium-ciumoleh bibir-bibir basah yang mengeluarkan asap rokok dan gelak tawayang menjijikkan itu.

Aku tidak habis berfikir, apakah seperti ini citra Indonesia merdeka?Yang dulu mati-matian kami memperjuangkannya. Di kehidupanku yangdahulu, aku dan para pemikir dan pelajar bertarung dengan moncong-moncong senjata Hindia Belanda, yang ingin Indonesia tetap bodoh danberpecah belah agar mudah ditumpaskan segala bentuk pembrontakanterhadap pemerintahan Hindia Belanda. Bekerja keras untukmempersatukan ideologi dan faham kedaerahan dan meleburnya menjadisatu wadah bernama Indonesia. Kami berjuang untuk membuka mata rakyatjelata agar mereka melihat kebanggaan sebagi orang pribumi danmenyadarkan bahwa satu-satunya jalan agar mereka sejahtera adalahmelalui kemerdekaan.
Aku sekarang tidak tahu lagi apa arti kemerdekaan. Di jaman HindiaBelanda dan pendudukan Jepang dahulu, kita semua bersatu di bawahtirani. Kami saling bekerja sama karena nasib kita sama. Inikah hasilperjuangan kami? Indonesia menjadi terpecah belah seperti dahululagi. Tidak lagi dipersatukan oleh senasib sepenanggungan, tergesernilai itu dan sekarang dipersatukan oleh uang dan kekuasaan. Saudarabunuh saudara. Kini uang dan senjata jadi saudara.
Kulihat lagi mereka sekarang lebih menjijikkan. Dengan uang di tanganmereka berpesta pora larut dalam gelak tawa, mabuk-mabukan.Seperti SiBrewok yang mabuk oleh pilsenir. Si Brewok sebetulnya lebih muda daritampangnya. Tak kulihat tanda-tanda kedewasaan dalam tindak-tanduknya. Penampilannya yang urakan dan brewok yang lebat membuat iaterlihat sekilas berumur tiga puluhan, tetapi kuyakin ia tak setuaitu. Badan Si Brewok agak berlebih dari proporsi tubuh ideal orangkebanyakan. Rambutnya rapi tersisir kebelakang, licin dan berkilauan.Satu set gigi yang rapi adalah satu-satunya benda berwarna putihdiantara deretan rambut-rambut wajah yang hitam legam itu.

Ada juga yang mabuk oleh wiski. Seperti Si Kaca Mata. Ia tidakterlihat tampang seorang penjahat sama sekali. Tapi itu adalah kedok,saat penembakan itu terjadi, dibalik kedok wol hitam itu wajah itulahkedoknya yang kedua. Aku ingat suara tertawanya. Tawa itu adalah tawayang sama di saat ratusan peluru memberondong pemuda berbaju hitam-hitam itu. Dari semua yang ada di ruangan ini, ialah yang palingkeji. Rambutnya tertutup oleh kedok ketiga, sebuah topi seperti yangbiasa dipakai para santri. Dan ia memakai kedok keempat berupakacamata, agar orang melihatnya sebagai orang yang alim danterpelajar. Aku yakin sebetulnya tak ada yang salah dengan matanya,ia hanya memakainya agar ia terlihat lebih seperti manusia, namun akubisa melihat dibalik semua kedok itu, tersembunyi sebuah monster yangmengerikan tanpa belas kasih, dan penyesalan.

Ada juga yang mabuk oleh ganja. Seperti Si Kurus, yang tidakberdaging. Otot dan kekuatan bukanlah senjatanya tetapi otak. Yadapat terlihat dari rautan di wajahnya bahwa ia adalah seorangpemikir. Bisa jadi ialah otak perencana perampokan dan pembantaianyang terjadi. Ia terlihat sangat mabuk, dan larut dalam pengaruh zat-zat kimia yang mengalir dalam darah otaknya sekarang. Tetapi bukandialah pemimpinnya. Dari wajahnya tidak terpancar, sosok dan kharismayang diperlukan untuk menjadi pemimpin. Ia semata-mata perencana dankonseptor.
Bukan juga, Si Muda. Tersirat dari raut mukanya, ia belum lamaberkenalan dengan dunia kejahatan. Muka itu penuh dengan hantu-hantudi kepalanya. Hantu-hantu penyesalan, dan muka-muka tak berdosa yangmati akibat perampokan bersenjata itu. Sudah beberapa tegukan vodkadiminumnya, namun tetap hantu-hantu itu tak mau pergi. Setia menemanimasa mudanya. Dua atau tiga lagi nyawa melayang oleh tangannya, makarasa sesal itu akan pergi selamanya. Dan bila saat itu tiba, akuyakin ia akan tertawa sama kerasnya dengan yang lain.

Lalu di tengah gelak tawa dan kemabukan datanglah sebuah sosok yanglama mereka tunggu. Adalah sosok seorang pemimpin ia datang bersamakewibawaan, kewibawaan yang merasuk kedalam tulang-tulang sumsum anakbuah, membiarkan mereka tertegun dalam kesunyian. Di balik hadirnyatersirat sebuah rencana yang tak terduga, jahat lebih jahat, sangatjahat yang tak terbaca oleh anak buahnya. Kulihat anak buahnya jugapunya rencana tersendiri, dan Si Pemimpin pun menyadari akan itu,pengalaman mengajarkan ia cara-cara untuk membaca mimik dan perubahanudara, yang sekarang semakin dingin.

Kulihat anak buahnya mengangkat gelas satu persatu menghormatikehadiran Si Pemimpin. Pemimpin pun membalas kehormatan itu dengansebuah senyuman. Bukan hangat, tetapi yang dingin tenang danmenghanyutkan. Ia lalu mengutarakan kesenangan dan kebanggaannyakepada hasil kerja anak buahnya.

Ucapannya sangat tenang, minim dalam intonasi yang berlebih. Kulihatdari cara ia bertutur dan berbusana, ia adalah orang yang sangatterpelajar, tapi bukan oleh buku dan kesusastraan, tetapi olehdedikasi dan pengalaman. Kudengar ia sedang berpidato, mengangkatmoral anak buahnya.
Ia terus menerus menatap ke arah anak buahnya, tenang danmenghanyutkan, tanpa sedetikpun ia tergoda untuk melihat tumpukan WRSupratman yang tergeletak di atas meja dari bahan aneh ini. Iasengaja mengulur-ulur waktu dengan pidatonya itu, agar ia punya cukupwaktu untuk mempelajari segala tindak tanduk anak buahnya. Ia tahupersis apa yang akan terjadi, hanya dengan membaca mimik danperubahan udara.

Makin ia berbicara, makin anak buahnya gelisah. Mereka saling bercuripandang, dengan tatapan yang mencurigakan. Ya, tatapan inilah yangsedari tadi dapat terbaca oleh Si Pemimpin. Tatapan seorang pembunuh,yang penuh akan dosa dan nafsu. Tersirat segala daya dan upaya untukmemusnahkan Si Pemimpin, agar empat kecoa besar itu dapat menguasaisegalanya. Mereka sudah merencanakan ini dengan lama, bahkan sebelumperampokan berdarah itu sempat tereksekusi. Mereka ingin membunuh SiPemimpin dan merebut semua WR Supratman untuk diri mereka sendiri.

Pemimpin adalah orang yang sangat terpelajar, dari pengalaman yang iapunya ia dapat menyimpulkan arti dari perubahan mimik anak buahnyadan udara yang semakin dingin ini. Namun tetap ia tenang bagaikanbatu. Tak sedikitpun nada dalam bicaranya sempat berubah. Ia begituahli dalam menyembunyikan kecurigaan, agar anak buahnya merasa lebihunggul dan akhirnya lengah. Mereka sedang berada dalam sebuahpermainan yang berbahaya, nyawa menjadi taruhannya.

Si Muda, belum becus dalam dunia ini. Keringat sebesar biji jagungkeluar dari setiap pori-pori kulit wajahnya yang ketakutan. SiPemimpin menatap ke arahnya, mengintimidasinya hanya dengan sebuahsorotan mata. Si Muda bergetar begitu hebatnya dan begitu kentara. Iatak kuasa untuk membela diri. Perlahan tangan mudanya mencoba merogohsebilah periuk api yang tersembunyi di sabuk pinggangnya. Dan sebuahkeringat jatuh dari muka yang muda itu. Jatuh, dan siap bumimenyambut jatuhnya keringat itu.

Diantara bentang waktu jatuhnya tetesan keringat sang muda, ada tigabuah tembakan. Belum sempat keringat itu menetes menghantam lantaiyang menjijikkan itu sudah tiga peluru melesat secepat suaramelintasi dinginnya udara. Diantara bentang waktu yang teramatsempit, tiga tubuh tersungkur tak berdaya, diam tak bernyawa, matisia-sia. Keringat itu pun akhirnya sampai di pangkuan bumi menandakankepergian empat nyawa Si Brewok, Si Kacamata, Si Kurus.

Si Muda menutup mata. Periuk api di pinggang belum sempat tercabut.Tiga temannya sudah terbaring, terdiam, dan tak bernyawa. Masih adapeluru tersisa di dalam senjata Si Pemimpin. Ia menatap Si Pemimpindengan penuh tanya saat senjata itu tertodongkan tepat di mukanyayang muda. Adakah satu diantara peluru-peluru itu tertuliskan namanya?
Pasti! Si Pemimpin terlalu pintar untuk ambil resiko.

---Akhir babak ketiga

Mar 7, 2004

No comments: