Friday, July 11, 2008

Mati Lampu # 10

Pertandingan yang seru membuat semua orang duduk terpaku di pinggiranbibir kursi sofa di ruang tamu sebuah kos-kosan yang dihunikebanyakan oleh civitas akademika sebuah universitas negeri di daerahDepok. Duduk tiga sekawan semua mahasiswa, mereka teman satu kos yangselalu bersama walaupun kuliah mereka berbeda. Tiga sekawan dudukterpana, menahan nafas saat mereka menatap dewa bermata satu, kotakyang membuat orang dapat duduk diam membatu, kotak yang mereka sebuttelevisi.

Kos-kosan itu sepi sekali, maklum hari minggu dini hari. Semua oranglebih memilih untuk menonton bola di rumah masing-masing. Dan bagiyang tidak begitu berminat dengan sepak bola, lebih memilih tidur.Ditambah lagi saat ini musim liburan semester. Maka tak heran jikasepertinya hanya mereka bertiga yang menghuni kos-kosan ini.

Kedudukan sementara masih tanpa gol bahkan setelah dua kaliperpanjangan waktu. Hasil imbang ini tidak boleh dibiarkan begitusaja. Ini bukan liga, dan ini bukan babak penyisihan. Semua kerjakeras mereka, berkampanye dari negara ke negara harus berakhir disini di Amerika Serikat. Semua jerih payah meloloskan diri ke putaranperdelapan final, perempat finat, dan semi final akan segera terbayardisini, saat ini juga. Atau sebaliknya salah satu dari mereka, akanpulang dengan tangan hampa, hanya membawa luka memar, dan kepahitandunia sepak bola profesional.

Dua negara raksasa sepakbola. Dua-duanya penuh bertaburan bintang-bintang sepakbola. Sarat akan nama-nama yang sudah tidak asing lagidengan tiga sekawan yang maniak sepakbola ini. Dua negara ini sama-sama besar dan sama-sama kuat. Mereka berdua lebih dari pantas untukmenjadi juara. Sayang sekali tidak ada istilah juara bersama dalamkamus sepakbola.

Pertandingan berlangsung cemerlang dan sengit. Penuhdengan taktik bermain dan kepiawaian dalam menggiring si kulitbundar. Lapangan penuh dengan aksi-aksi spektakuler dari detikpertama peluit dibunyikan. Sayang sekali tidak ada istilah remisdalam kamus sepakbola. Semua harus berakhir dalam beberapa menit ini.Salah satu dari mereka akan selamanya diingat orang sebagai juaradunia 94. Salah satu dari negara ini akan dapat mengumbar-umbar titelyang mereka dapat. Salah satu dari negara ini akan dapat memamerkanpiala berlapis emas dari FIFA yang selangkah lagi dapat mereka raih.Dan setidaknya untuk empat tahun kedepan mereka dapat menyombongkandiri bahwa merekalah negara sepakbola terbesar di dunia.

Dua babak perpanjangan waktu itu teramat kering tanpa gol. Padahalbila salah satu negara dapat menyarangkan bola ke belakang jaring,maka otomatis negara itu menjadi juara dunia. Sayang tak ada satupemain pun yang bisa menerobos ketatnya pertahanan lawan mereka. Dankini mereka menerima ganjarannya, mereka harus diadu dalam adupenalti. Adu penalti tak lebih dari sebuah kontes keberuntungandaripada unjuk bakat bersepak bola. Mereka harus pintar menebak arahlaju bola sementara sang eksekutor harus menebak kemana arah lajukiper dan mengecohinya. Sungguh sayang harus berakhir seperti ini.Ditambah lagi nasib negaramu ditentukan oleh sekeping koin. Koin itumemberi tahu negara mana yang mengeksekusi terlebih dahulu. Dalam adupenalti hal ini sangat krusial, karena berhubungan dengan tekanan danbeban para pemain dari negara yang dapat giliran belakangan. Dan saatini tim biru "Azzuri"lah negara yang tidak beruntung itu.

Walau ini tak lebih dari kontes keberuntungan, dalam dunia sepakbolaataupun olahraga manapun menang adalah menang. Terutama dalam sebuahpesta dan ajang bergengsi setaraf piala dunia yang hanya terjadiempat tahun sekali. Menang adalah menang, tidak ada istilah menangkarena faktor keberuntungan atau adu penalti dalam dunia sepakbola.Dan tidak ada juga istilah kalah dengan terhormat atau kalah karenafaktor sial saat adu penalti. Kalah adalah kalah dan selama empattahun ke depan negara yang kalah akan di cap sebagai pecundang. Kauhanya bisa terdiam bungkam dan mungkin mengeluarkan sedikit air mata,sementara jutaan penggemar sepakbola di negara asalmu akan menganggapkamu sebagai seorang pecundang. Semua jerih payah sampai ke babakfinal tidak akan dihargai. Tidak ada bonus, tidak ada interview,tidak ada pesta. Yang ada hanya celaan dan penyesalan. Dalam duniaolahraga sekelas piala dunia, ataupun sekelas piala RT orang tidakakan menganggapmu sebagai orang yang memenangkan medali perak, tetapiakan selalu mengingatmu sebagai orang yang tidak mampu meraih medaliemas.

Semua pemain di lapangan hijau sekarang sedang beristirahat menantisaat pertama eksekusi. Para pemain terlihat sedang meregangkan otot,bersiap-siap untuk mengeksekusi tendangan penalti. Untuk sejenak tigasekawan bisa bernafas kembali setelah dua kali sembilan puluh menitditambah dua kali lima belas menit perpanjangan waktu mereka dudukterpana dan menahan nafas di setiap detik-detik pertandingan.

Tiap kali turun minum, selalu saja Bayu bolak-balik kamar mandi yanghanya satu-satunya di kos-kosan kecil berkamar empat ini terkadangsampai dua atau tiga kali. Maklum Bayu memang selalu beser di saat-saat menegangkan seperti ini. Bayu adalah mahasiswa tingkat dua diFakultas Teknik. Ia mengambil elektro karena hobinya sejak keciladalah elektronik, dan semenjak mengenyam bangku kuliah, hobinyakomputer. Karena kecintaannya itulah ia berencana mengambilkonsentrasi arus lemah ataupun komputer. Kecintaannya itu jugalahyang membuat ia agak terbelakang dalam masalah sosial tapi tidak soalsepak bola.
Bayu adalah sebuah nama yang sangat umum di jurusannya. Diangkatannya sendiri ada tiga Bayu. Yang satu dipanggil "Ba'is",karena singkatan dari Bayu Ismaya, satu lagi akrab dengansebuatan "Ubay", sedangkan ia dipanggil teman-temannya denganjulukan "Bayu Pantat Botol". Kacamata itu seperti betul-betul sepertipantat botol. Bobotnya luar biasa membuatnya ia tak bisa mingkemkarena menahan agar tidak jatuh. Minus tujuh, ditambah dengansilindris yang entah berapa. Bila lepas kacamata itu ia sama sekalibuta.

Turun minum ini seperti yang sudah-sudah Bayu langsung pergi ke kamarmandi. Gerakannya kikuk ciri khas Bayu, mungkin ia sudah terlalusering duduk di depan komputer sehingga ia sudah tidak waras lagidalam berjalan. Ia juga tidak waras lagi dalam berpakaian. Bajukemeja kaus garis-garis dengan warna sedikit mentereng seperti itusudah lama ditinggalkan orang. Apalagi celana baggy itu, aduh…soalmode memang bayu seolah masih hidup di tahun 80an. Apalagi rambutklimis yang rapi tersisir ke samping itu tak berubah semenjak Bayumasih di sekolah dasar. Soal mode Bayu memang tertinggal, bahkandalam hal-hal lain kecuali komputer dan sepak bola.

Tubuh kecil mungil dan sedikit bungkuk itu berlari-lari dalam langkahyang kecil dan kikuk, menuju ke kamar mandi. Menarik perhatian Muktiyang sedang duduk bersantai, di depan TV. Melihat Bayu sudah beradadi ambang pintu kamar mandi, Mukti yang juga ingin menggunakan kamarmandi bangun dari selonjoran ke posisi duduk yang benar lalu iaberteriak ke Bayu.

"Bay! Elo WC mulu…gantian napa!"

Bayu lalu menoleh ke arah datangnya suara itu. Dalam gerakan yangkikuk dan sedikit lambat. Dengan nada yang penuh dengan kecanggungania membalas dengan suara yang melulu lemah.

"Aduh, kebelet nih."

Tiga kata selesai terucap dari mulutnya. Dengan gerakan kikuk danpenuh keraguan ia pun masuk ke kamar mandi. Ia memang selalu kikuktapi kini teriakan Mukti membuatnya lebih kikuk dan tenggelam dalamkeraguan.

Mukti yang kini makin kesal oleh ulah teman satu kosnya itu berjalanke arah kamar mandi. Mukti mahasiswa jurusan Metalurgi, jurusan yangsebetulnya adalah pilihan terakhir saat di UMPTN, makanya ia lebihsering terlihat di kantin bermain kartu atau rapat di Pusgiwa,daripada belajar. Mukti adalah penghuni paling lama di kos-kosan ini,tapi tidak yang paling tua. Suara besar dan badannya yang gemuk danhitam legam itulah yang membuat Bayu kini semakin kikuk. Ia takselalu pasang muka garang, namun sepakbola dan ketegangan ini yangmemaksanya demikian. Hanya selembar kain sarung yang menemani saat iaberada di ambang pintu kamar mandi itu. Ia pun tak sabar menggedorpintu berkali-kali pintu dari alumunium itu sehingga membuatkegaduhan yang teramat sangat.

"Buruan napa!"

Sahut Mukti dengan logat betawi yang kental. Sebetulnya ia taksedikitpun berdarah betawi namun ia dibesarkan di Pondok Kelapa didaerah yang penuh dengan orang-orang betawi yang sudah semakinterpinggir.

"Mukti! Masya Allah…!"

Mukti ditegur Emil, mahasiswa tingkat akhir Fakultas MIPA. Emilmemang kerap melerai pertengkaran antara kedua manusia ini. Ia bukanorang yang sangat arif dan bijaksana, namun senantiasa mengajak orang-orang di sekitarnya untuk kebajikan. Maklum masa-masanya habis dimesjid dalam resital ayat-ayat suci. Cuma karena sekarang musim bolaia sering terlihat di kos-kosan.

Baru sebentar saja Bayu di dalam sana ia sudah keluar lagi. Mungkinia takut dengan Mukti yang besar, hitam, seram dan garang itu. Takterdengar suara ia buang air, tiba-tiba saja langsung ada suarasiraman kloset. Dengan tampang yang bingung dan kikuk ia menyambutmuka Mukti. Sejenak mereka hening terdiam, bertukar tatapan. Emiljuga ikut hening.

"Gak bisa keluar" kata Bayu polos.

"Rese' lo, gantian sana" Mukti yang semakin geram mendorong badanBayu yang tipis kesamping hingga Bayu hampir terjatuh dibuatnya. Bayuyang kikuk langsung spontan membetulkan posisi kacamatanya yang kinisudah miring, setelah itu barulah ia menutup kembali celana yangbelum sempat ia tutup itu.

"Bayu…! Gila lo! Air kloset elo abisin. Ngepeeettttt…..!" suara Muktiyang penuh gaung dari kamar mandi itu.

"Astaghfirullah! Mukti, antum bisa lebih sopan sedikit apa tidak?"

Suara si Emil. Emil memang orang yang selalu bertutur penuhkesantunan, seperti sunnah rasul. Bahkan semua tindak-tanduknyaberusaha mengikuti sunnah rasul. Mulai dari memelihara jenggot,memakai celak mata, berbaju gamis, bahkan ia pun lebih memilihbersiwak daripada bersikat gigi. Bahkan aksen yang ia keluarkan sudahhilang dari bau Indonesia. Aksen itu berbau kurma yang ia dapatkandari kunjungan berulang ke mesjid kebun jeruk yang sarat akan imigrandari negara timur tengah yang terkoyak oleh perang.Imigran itu juga bertanggung jawab dengan perbendaharaan kata-kataEmil, "antum" dan "ana", "astaghfirurullah" dan banyak lainnya.

Turun minum Emil tidak sedang berhasrat untuk menggunakan kamarmandi. Ia sedang sibuk menyiapkan makanan-makanan kecil untuk dicemilsemasa pertandingan nanti. Ia juga sedang membuat minum untuk dirinyasendiri. Dapur itu tidak berjauhan dari ruang tamu, dan bersebelahanpersis dengan kamar mandi. Maklum ini kos-kosan yang kecil.
Terlihat Bayu masih mondar-mandir di depan WC. Ia menjadi plin-plankarena masih ada urusan yang belum terselesaikan di sana. Ia bingungmemilih antara menggunakan kamar mandi atau tidak. Karena sebetulnyaia tidak terlalu berhasrat untuk ke belakang, tetapi di lain pihak iatidak ingin hasrat itu timbul di tengah-tengah pertandingan. Ia tidakdapat membuat keputusan. Karena keputusan yang salah bisa berakibatsemprotan dari Mukti. Atau lebih parah lagi membuat ia kehilangandetik-detik yang paling menentukan dalam pertandingan ini.
Mukti hamper menabrak Bayu yang masih mondar-mandir di depan kamarmandi saat ia keluar dari kamar mandi. Ia terlihat semakin kesaldengan kelakuan Bayu yang plin-plan membuat ia tak sabaran untukmemarahinya. Dengan nada keras dan galak dan mata terbelak iamembentak Bayu.

"Nape…?"

Bayu tak berani melihat langsung ke wajah Mukti yang semakin galakitu. Ia hanya terdiam mentap lantai seperti sedang mencari kecoa.Tubuhnya tertutupi oleh kedua tangannya seolah melindungi sesuatu danberpaling dari tubuh gelap dan gendut itu. Bayu memang selalu begitutiap kali hadapi kekesalan orang terhadap tingkahnya yang plin-plan.Dan gerakan itu tercipta sebagai reaksi walau terhitung lambatsebagai aksi yang spontan. Melihat itu Emil yang selalu bijak melototke arah Mukti, mengingatkan ia akan dosa orang yang menzalimi pihakyang lebih lemah.

"Mukti! Masya Allah!"

Mukti cuma merangut, memasang muka masam saat ia membalas tatapanEmil yang bijak dengan sebuah lirikan. Lalu dengan sengaja ia tabraktubuh Bayu yang semakin erat terselimuti kedua tangan.

Tiba-tiba dari televisi terdengar riuh sorak penonton. Dan langsungdapat terlihat penyebab keriuhan itu. Gianluca Pagliuca berjalanmengambil posisnya yang persis di bawah mistar itu. Tim Samba sedangbersiap untuk mengeksekusi tendangan. Keriuhan dan suara komentatorseolah memanggil mereka. Dan seketika mereka langsung berlarianmengambil posisi tempat duduk. Mukti yang pertama kali sampai dikursi sofa, walaupun tubuh gemuk itu terbatasi gerakannya olehsehelai sarung. Ia langsung saja mengambil tongkat kendali danmembesarkan suara televisi.

Emil segera menyelesaikan urusan makanan kecil dan minumannya danbergegas menyusul Mukti. Saking buru-burunya ia hampir menumpahkanminumannya ke pangkuan Mukti.
"Astaghfirullah! Hampir minuman Ana jatuh di sarung Antum."
Mukti lagi-lagi pasang muka masam ke arah Emil. Emil hanya tersenyummalu. Bayu yang terakhir mengambil posisi. Lari tubuh bungkuk itukecil dan kikuk. Gerakannya memang kikuk dan lambat kecuali saatmemencet tuts komputer. Ia duduk lamabat saat melihat muka Mukti,berjaga-jaga untuk tidak lebih menambah kesal Mukti pada dirirnya.
Brazil menyarangkan si kulit bundar ke belakang jaring gawang. Sorak-sorai seketika mereka bertiga yang memang menggandrungi tim sambaini. Mukti melambung tinggi sementara Bayu tersenyum lebar bertepuktangan yang setia membungkus badan itu. Sementara Emil seperti biasamelantunkan puja dan puji untuk Yang Maha Kuasa.

"Alahamdullillah!"

Itali juga berhasil mencetak gol. Lalu Brazil kembali mengeksekusidengan sempurna.

"Cihui!" teriak Mukti

"Horree!" sahut Bayu

"Alhamdullillah!" seru Emil

Kiper Brazil gagal menahan tendangan dari Del Piero

"Adu…hhh!" Teriak Mukti kesal. Bayu hanya terdiam. Dan Emil sepertibiasa

"Masya Allah!"

Kedudukan empat tiga untuk keuntungan Brazil. Saat ini Roberto Baggiomenjadi algojo tendangan terakhir ini. Bila bola ini ditepis kiperBrazil maka tidak ada kesempatan lagi untuk Itali mengejarketertinggalan mereka, dan otomatis Brazil menang. Beban berada dipundak Baggio sekarang. Seluruh orang menahan nafas saat ia mulaigerakan menedang.
Dalam sepersekian detik kaki Baggio menyentuh bola, seketika itu pularuangan itu menjadi gelap gulita karena kehilangan energi. Laluterdengar teriakan dari sesorang saat dua yang lain terdiam.

"Ngentoooo….tttt!"

Suara itu adalah suara Emil. Mulut itu terbiasa mengucapkan kata-katamulia. Adalah hal yang ganjil bila ia mengeluarkan kata-kata yangbegitu kotor, bahkan tak berani diucapkan Mukti sekalipun. Ternyatasepak bola bisa menyebabkan orang suci bisa jadi lupa diri.

Mar 25, 2004

No comments: