Wati mengira ia telah mengenal kedua mata itu begitu lama. Ia tidakpernah begitu salah. Kedua mata itu mengundang begitu banyakpertanyaan. Ada yang lain dari mereka. Ada api yang menyala-nyala.Siap untuk membakar semua keindahan dunia. Begitu terang api itumenyala, menyilaukan siapapun yang berani menatapnya. Api itu bukanterbakar oleh cinta atau semangat jiwa muda. Tetapi oleh amarah dandendam. Wati telah menatap neraka. Dan neraka selama ini ada di keduamata itu.
Wati menggigil tiada henti. Ingin ia sembunyikan rasa takut itu.Namun semuanya berakhir dengan percuma. Mata itu terlanjur menatapdirinya. Mulut tak perlu bicara, tatapan itu menjelaskansegalanya: "Aku lapar, dan engkau makan malamku."
Perlahan kedua mata itu mulai mendekati tubuh Wati yang molek danmuda. Seperti macan mendekati buruannya. Wati Cuma bisa menggigil,lebih hebat dari sebelumnya. Ia tidak bisa lari, walau kakinya sudahmengambil ancang-ancang untuk pergi. Lagipula mau kemana ia lari.Wati sudah lama berada di cengkraman kedua mata itu, dari haripertama ia injakkan kakinya di rumah itu. Wati hanyalah orang bodohyang tersesat di negeri asing, sama seperti ribuan saudaranya yangalami nasib sama.
Mata itu semakin mendekat, waktu seolah berhenti berjalan. Mendadakseisi ruangan menjadi pekat oleh udara yang jahat. Begitu berbedadari ketika pertama kali ia berkenalan dengan kedua mata itu. Dulumata itu dapat dipercaya. Sekarang tidak lah demikian. Ia sudah taktahu lagi apakah mata itu dapat dipercaya lagi. Ia tidak tahu lagiapa yang bisa ia percaya. Perkataan orang tua? Kitab suci? Matamenyala?
Ia terdiam, benar-benar tak bergerak, tidak lagi menggigil. Sepertipatung berhala yang tak dapat menolong dirinya sendiri saatdihancurkan Ibrahim. Seperti batu kali yang pasrah ditempa deras arussungai. Ia hanya berpikir apa lagi yang dapat ia lakukan. Ia cumaingin agar udara jahat ini tidak lagi harus dihirupnya. Tapi apadaya, mata itu semakin mendekat, langkah demi langkah.
Terakhir kali ia bertemu dengan kedua mata itu. Ia datang sebagaiteman. Tidak sedikitpun ia curiga ada neraka di dalamnya, menungguuntuk keluar. Mata itu coba memangsanya dengan tipu daya. Tetapi Watidapat segera mencium segala gelagatnya, menepis semua hasutan tipudaya, agar ia tidak menjadi mangsa. Namun secepat Wati berkata tidak,secepat itulah kedua mata itu berubah.
Mata itu melayangkan sebuah tamparan tepat di mukanya. Dan Wati puntersungkur jatuh ke sudut ruangan, membentur tembok keras dari marmerCarera. Belum sempat ia bangun, berdiri dan melawan, kembali sebuahtamparan, lebih keras dari sebelumnya, terlayangkan ke pipinya. Mataitu menyebut Wati sebagai pelacur, yang tak tahu terima kasih.Berkata bahwa ia beruntung dapat bekerja di rumah yang mewah sepertiini. Dan alasan-alasan yang lain untuk membenarkan tindak-tanduknya.Ciri khas sebuah tirani.
Wati ingin sekali memberontak waktu itu, lebih dari apapun di dunia.Namun semuanya telah terlambat. Mata itu sudah mengusainya,menurunkannya dari tempat yang terhormat, mencabik-cabik hartanyayang paling berharga, hingga habis tak tersisa.
Rahim itu berarti kasih sayang. Dan mata itu telah menodai kasihsayang Wati, denga perlakuannya malam itu. Dari semua bangsa didunia, harusnya bangsa darimana mata itu berasal-lah yang pelingmemahami arti kata kasih sayang. Karena dari merekalah kata rahim ituberasal.
Kedua mata itu meninggalkan tubuhnya yang molek dan muda, sambiltersenyum lebar, tertawa keras dan terpuaskan birahi pemburunya.Namun Wati tidak menangis. Ia terlalu bingung untuk meangis. Kejadianini terlalu cepat menimpa dirinya. Ia terlalu takut untuk berbuat apa-apa. Lari? Lari kemana? Semua surat-surat yang menunjukkan bahwadirinya ada, sudah lama menjadi kekuasan kedua mata itu. Mengadu?Mengadu kemana? Wati hanyalah orang bodoh yang buta hukum, tersesatdi negeri orang. Bisa-bisa nasibnya lebih terpuruk dari sebelumnya.
Ingin sekali dirinya kembali ke masa silam, jauh sebelum ia menatapkedua mata itu. Jauh sebelum ia menginjakkan kakinya di rumah ini.Jauh sebelum ia diinterogasi pihak imigrasi. Jauh sebelum ia melayang-layang di angkasa setengah hari penuh lamanya. Jauh sebelumkarantina, asrama, ditumpuk-tumpuk seperti ikan sarden. Jauh sebelumia membayar sekian juta demi impian yang palsu. Jauh sebelum ibunya,dan seluruh orang kampung mengfatwakan kepergiannya dan beberapateman sebayanya. Jauh kemasa ia masih sekolah menengah yang taksempat diselesaikannya. Waktu itu semuanya masih sederhana, dan iamasih bisa tertawa dan bercanda.
Ingin sekali ia mengikuti nasib saudara-saudaranya, yang mati ditangan mereka sendiri. Semata-mata agar kedua mata itu tidak dapatlagi memangsanya. Agar ia terbebas dari udara yang jahat yang selamaini mencekiknya. Agar ia dapat kembali sebagai arwah yang penasarandan menghantui kedua mata itu.
Ia juga ingin sekali mengikuti saudara-saudaranya yang lain, yangmati di tiang gantungan, atau mati dengan cara dipisahkan secarapaksa tubuh dan kepalanya. Agar kedua mata itu tidak lagi dapatmenjamahnya. Ia yakin akan pilihannya. Tekadnya sudah bulat. Matidengan cara ini lebih mulia daripada hidup di bawah bayang-bayangketakutan.
Ia tidak boleh hanya tinggal diam, demi almarhum ayah yang selalumengajarkannya kejujuran. Demi ibu yang selalu menyayanginya walauapapun. Demi adik-adiknya agar tidak terjerumus ke liang yang sama.Demi teman-teman sekampung yang beradu nasib di negeri orang. Demisaudara-saudaranya yang bernasib sama. Atas nama keadilan ia tidakboleh tinggal diam. Salah satu dari mereka harus ada yang berhentibernafas, dirinya atau mata itu, bagi Wati kini sama saja. Apapunhasilnya, mata itu tidak boleh lagi menyentuh tubuhnya. Wati yakinmalaikat pencatat keburukan akan menutup mata, hidung dan telinga,saat ia menutup mata neraka itu untuk terakhir kalinya.
Kali ini kedua mata itu sudah tinggal beberapa langkah lagi daritubuhnya yang molek dan muda. Tapi kali ini ia tidak menggigilketakutan. Kali ini ia bukan patung tak berdaya. Hanya ketenanganyang berbahaya, yang absen dari cinta, dan belas kasih. Tangisan danketakutan sudah sirna, hanyalah lubang hitam tak berdasar yangtinggal di hatinya. Ada api yang sama kini terpancar dari mata Wati.Siapa berani tataplah mata itu, dan akan terlihat olehmu kejahatanyang sama! Wati kini telah menjadi buas seperti kedua mata itu,bahkan lebih buas lagi.
Kedua mata itu telah sampai di hadapan Wati. Lalu mata itu memasangmuka yang garang, dan menghardiknya tanpa alasan. Mata itumelancarkan serangan bertubi-tubi, terus-menerus menuduh Wati atassesuatu yang tidak ia lakukan. Mata itu mencari-cari alasan demialasan untuk kembali memangsa Wati. Wati hanya menjawabnya dengantenang, sebuah ketenangan yang berbahaya. Ia tidak takut lagi, karenakali ini Wati tidak sendiri. Kali ini ada sebilah pisau yang menemanitubuh Wati yang molek dan muda. Namun nafsu kedua mata itu untukmemangsa dirinya, telah membutakan mata itu dari teman barunya Wati.Ia hanya asik menghardik
"Kamu yang memecahkan vas bunga saya?"
Suara mata itu sungguh menggelegar, penuh amarah, penuh tipu daya,penuh nafsu untuk memangsa. Namun tidak sedikitpun mampu membuatgentar hati Wati dan teman barunya.
"Tidak tuan! Nyonya tidak pernah mengijinkan saya mendekati vas bungaitu. Lagipula vas itu beratnya luar biasa, saya sendirian tidak mampuuntuk sekedar menggesernya, apalagi menjatuhkannya."
"Kalau begitu kamu yang mencuri emas-emas saya?"
Lagi-lagi mata itu mencari-cari alasan, ciri khas sebuah tirani.
"Tidak tuan! Di rumah ini tidak pernah ada emas. Tuan sendiri yangpernah bilang bahwa orang Islam tidak pernah boleh menyimpan emaswalau secuil."
Lagi-lagi kujawab dengan tenang, namun ketenanganku membuat iasemakin geram.
"Kalau begitu kamu mencuri uang saya?"
"Tidak tuan! Uang tuan tidak laku di negara saya."
Ia bertambah geram, sudah habis semua alasannya, yang tinggalhanyalah keinginan polos untuk memangsa.
"Diam kamu! Beraninya kamu melawanku. Dasar pelacur tidak tahu terimakasih."
"Saya bukan pelacur tuan. Saya calon pembunuh."
Feb 23, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment