Lho, kok dikunci? Aneh, biasanya gak dikunci. Bahkan semua laci di rumah ini gak ada yang pernah dikunci. Kenapa dikunci? Kami bukan orang kaya, yang menimbun harta benda, mengisi rumah dengan uang, atau perhiasan emas dan berlian. Cincin yang mengikat kasih kami, mungkin satu-satunya perhiasan yang kami miliki. Betapa tidak, kulkas dan televisi bagi kami adalah barang mewah.
Kalaupun ada perhiasan di rumah ini, siapa yang akan mencurinya. Rumah tidak pernah kosong dan selalu ada aku, melakukan pekerjaan rumah tangga seperti layaknya seorang istri. Lagipula kami hanyalah pasangan muda yang takberanak dan tak berpembantu.
Laci itu hanyalah satu dari sekian banyak laci di rumah mungil ini. Dan tak satupun yang pernah ditinggal dalam keadaan terkunci sampai dengan hari ini. Laci itu adalah laci meja yang mengawal tempat tidur kami. Lebih tepatnya di sisi suamiku. Tetapi kenapa dikunci? Apa istimewanya laci ini? Rahasia apa yang menungguku di laci itu? Dan yang lebih penting, siapa yang ngunci? Farid? Siapa lagi kalau bukan dia?
Masa sih Farid yang ngunci? Di rumah ini dia tidak pernah mengunci apapun. Kerap kali ku marahi dia karena selalu lupa mengunci pintu pagar bila ia pulang, atau mengunci pintu masuk bila sudah larut malam. Ia bukan tipe yangceroboh, tetapi karena ia terlalu percaya kepada orang. Baginya kunci adalah simbol ketidakpercayaan. Dia selalu bilang, kalau kita akan membangun rumah tangga, modal awalnya adalah saling percaya. Karena itu ia tak pernahmengunci apapun di rumah ini, sebagai pertanda bahwa ia tidak menyembunyikan apa-apa dariku. Tak heran aku sering memergokinya mandi, karena ia tidak mengunci pintu kamar mandi.
Tapi kenapa ia mengunci laci ini? Apakah ia sudah tidak percaya lagi padaku? Kalau iya kenapa ia nggak bilang. Kami selalu saling terbuka, dan selalu saling berbagi. Dia tidak pernah bilang, “Rumah-ku” selalu “Rumah kita”.Suatu hari ia menelfon dari kantor untuk menanyakan keadaan “Rumah kita”. Lain hari ia mengundang temannya untuk datang ke “Rumah kita” dan bersantap di “Rumah kita”. Ia selalu bilang “Rumah kita” ke siapa saja, bahkan keteman-temannya yang dia gak begitu akrab. Ia selalu bilang “Rumah kita” kapan saja, bahkan ketika aku tidak ada di sampingnya.
Tapi tidak laci ini. Ini bukan “laci kita”. Ini “laci Farid”. Entah kenapa aku begitu mudah larut dalam kesedihan, hanya karena sesuatu dugaan. Kenapa aku gak bisa kayak Farid sekali-sekali. yang selalu berfikir dengan nalar dan logika. Selalu hadapi hidup dengan tenang, walaupun ia bukan seorang periang.
Padahal banyak alasan yang bagus kenapa laci itu terkunci. Mungkin di dalamnya ada tikus? Mungkin di dalamnya ada virus Flu Unggas? Mungkin di dalamnya ada setan? Atau mungkin di dalamnya adalah pintu menuju neraka?Atau dari dalamnya keluar Doraemon dan mesin waktunya. Logikaku memang begitu, berfikir terlalu banyak, dan tidak pernah jernih, Irasional. Beda dengan logika Farid. Kalau menurut logika Farid pasti “Ah, paling lacinyamacet.” . Begitulah semua penjelasan baginya, sederhana, dan tak pernah kompleks.
Eh, itu mobilnya Farid! Ah, pokoknya aku pura-pura gak tahu aja. Entar dia tersinggung lagi, kalo aku ungkit-ungkit masalah laci. Entar aku disangka nuduh dia macem-macem lagi. Siapa tahu emang dasar lacinya macet aja, gakbisa dibuka. Atau memang dia nggak sengaja. Duh Gita...positive thinking dong awww!
“Sayang...! Cup!” Uh...bibirnya bau rokok. Memang ini kebiasaan buruknya yang paling nggak aku tahan.
“Capek, Mas ?” kataku sambil kulihat dia menghempaskan dirinya ke sofa. Dia orangnya memang agak anti basa-basi. Gak pernah ngomong yang gak perlu. Ngomong aja musti diajak, musti dipancing. Ia diam saja mendengarpertanyaanku, Cuma menghela nafas keras-keras supaya aku tahu yang ada di pikirannya.
Ia longgarkan dasinya, dan melepas kedua sepatunya menggunakan kaki. Ia memang gak pernah mau repot. Segera saja ku ambilkan segelas air dingin untuknya. Setelah beberapa teguk, barulah kesuntukan yang terpancar dimukanya perlahan memadam.
“Gimana tadi di jalan? Macet ya?”
“Aduh Git, macet di mana-mana, sana-sini bikin fly over. Di tambah semua orang ngambil jalur alternatif ngehindarin three in one. Jakarta! Jakarta!”
“Gak usah dipikirin, mas! Makan sana! Abis makan, mandi!
“Kamu temenin aku ya nanti!
“Temenin ngapain mas?”
“He...he...Mandi!”
Malam itu pun kami mandi bersama, lalu di kamar kami bercinta. Namun betapapun mesranya kami malam itu, Farid tidak dapat memuaskan keingintahuanku tentang laci yang terkunci itu. Hanya ku pandangi terus laci itu, saat ia menyetubuhiku. Sambil beberapa kali aku pura-pura orgasme agar ia tidak curiga. Namun beberapa kali juga aku tidak pura-pura.
Selesai bercinta, pikiranku tetap tertuju pada laci itu. Farid juga belum tidur mesih sibuk dengan Bram Stoker-nya. Kupejamkan mataku dan berpura-pura tertidur pulas seolah semua kepuasanku telah terlayani. Tetapi tidak semuakepusanku terlayani olehnya. Aku masih penasaran, dan aku harus membongkar rahasia laci sialan itu.
Tak lama setelah ku menutup mata, Farid menurunkan Bram Stoker-nya, dan melihat wajahku dengan cermat. Setelah ia benar-benar yakin aku sudah tertidur, barulah ia dengan cepat mengambil sesuatu dari dompetnya. Benarseperti dugaanku, kunci. Dan bila firasatku benar, kunci itu adalah kunci laci meja di sampingnya saat ini. Persis! Sekilas dapat kulihat dia membuka laci itu dengan kunci yang selama ini berada di dompetnya. Ia tidakmengambil apa-apa, cuma melihat kedalam dan diam sejenak sambil sebuah senyuman lebar datang dan menghiasi wajahnya. Agak lama ia melihat ke dalam laci itu, sampai akhirnya dengan pelan-pelan dan hati-hati menutupnyakembali. Dan tak lupa ia kunci kembali.
Rahasia apa yang terdapat di dalam laci itu? Rahasia...tidak biasanya Farid mempunyai rahasia. Hei, aku ini istrimu, masa kamu tidak mau kasih liat aku? Jangan-jangan isinya surat dari selingkuhannya. Atau foto. Duh, bisa matiaku. Oh, jangan-jangan isinya surat PHK, pantas saja ia terlihat kuyu begitu. Pasti, dia khan paling ngerti kalo aku orangnya khawatiran, makanya dia umpetin. Tapi bisa juga dia sekarat, secarik surat dari dokter memberitahukan berapa lama ia akan hidup. Jangan, Farid jangan! Aku tak mau melihat kamu mati.
Tanpa kusadari bantal ini sudah tergenang oleh air mata ku. Dan jeritan hati ini tak bisa aku bendung lagi. Aku pun tak kuasa dan menangis terisak-isak seperti bayi yang tak berdaya.
“Lho, Git...kamu kenapa?”
“Kamu gak boleh mati!”
“Lho, memangnya siapa yang mau mati?” ia agak terkejut dengan perkataanku, dan mukanya kontan kebingungan.
“Kamu, kamu sekarat kan?”
“Hah, siapa bilang? Kok, aku sendiri baru tahu.”
“Terus yang di laci yang selalu kamu kunci itu, bukan surat dari dokter?”
“Bukan!” Aku bernafas sedikit agak lega. Bahwasanya ia tidak sekarat sudah cukup untuk menghentikan air mataku.
“Jadi kamu di PHK?”
“Ya, enggak lah! Darimana kamu kepikiran seperti itu?
“Isinya bukan surat PHK?”
“Bukan” Aku bangun dan menatap matanya, mencoba melihat apakah ia berkata jujur. Namun apa yang tadi merupakan air mata, kelak akan berubah menjadi amarah.
“Jadi isinya foto selingkuhan kamu?” Tanpa sadar kulempar bantal yang tadinya ada di genggamanku sekuat tenaga ke arahnya.
“Bukan! Bukan itu isinya!” Suaranya juga menjadi keras, sama seperti suaraku saat ku lemparkan bantal itu ke arahnya. Ini seingatku pertama kalinya kita berbicara sekeras itu sejak kita married.
“Jadi apa isinya? Bilang sekarang juga!”
“Kosong, sama sekali kosong.” Mukanya langsung berubah menjadi murung. Ia memang seorang pemurung, tapi tak pernah semurung itu, bahkan saat kami pacaran dulu. Dengan mengalah ia buka juga laci itu.
Dan terbukti, selain sarang laba-laba, laci itu sama sekali tak berisi. Mukanya sedih sekali, sepertinya ia benar-benar terpaksa membuka laci itu. Aku pun merasa sangat bersalah, dan juga sangat kasihan kepadanya. Sepertinya aku telah khianati cinta yang selama ini kami coba bangun.
Aku hanya bisa bersuara dengan sangat lemah, seolah suara keras beberapa saat yang lalu tidak benar-benar terjadi
“Tapi, tapi kenapa kamu kunci?”
Ia tersenyum dan mengusap air mata yang menetes di pipiku. Ia mencium keningku pertanda semuanya akan baik-baik saja, dan aku tidak boleh bersedih.
“Aku cuma butuh sedikit ruang untuk diriku sendiri.”
Feb 8, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment