Dua tahun yang panjang sudah kami berada di Anglica, atas perintah Kaisar Claudius I. Dan hari ini kami merasakan kemenangan manis atas orang-orang Briton. Kami berhasil meangkap salah satu kepala druid, yang menjadi otak pembrontakan terhadap kekuasaan Romawi. Kekuatan mereka kocar-kacir berantakan, di saat mereka semua kabur ke hutan-hutan setelah pertempuran yang sengit di Wintanceaster. Kami hanya perlu waktu seminggu untuk menangkap semua druid-druid itu.
Orang-orang Briton yang bodoh, mereka pikir mereka siapa, berani- beraninya menetang kedisiplinan tentar Romawi. Tak lama, seluruh orang Briton akan berlutut di hadapan Kaisar Claudius I. Dan setelah itu semua Anglica ada di bawah kekuasaan Romawi. Setelah itu seluruh Keltik akan tak berkutik melawan kami.
"Ave, Caesar! Keperluan apa Caesar memanggil hamba?"
"Bawa orang seperlumu wahai Crassus! Dan berjaga di sini, dalam dua hari kami akan menyerang Wealas dari utara, dan menggiringnya ke arahmu. Bunuh semua Briton dan Keltik yang datang ke arahmu!"
Kaisar memberi aku pasukan sebanyak empat kompi infantri. Dan menjadikan aku Centurion. Sementara sisa batalyon bergerak ke utara. Kami hanya diberi sedikit dari sisa jatah ransum, dan senjata. Sungguh sebuah pekerjaan yang berat, bahkan untuk bertahan sekalipun, meski hanya sekedar berhadapan dengan orang-orang Briton yang primitif dan tak terorganisir.
Diantara empat kompi tersebut, mereka kebanyakan adalah legiuner asing, yang belum lama mendapat kedisiplinan militer Romawi. Diantara legiuner asing tersebut sepertiga berasal dari Germania, kaum barbar yang susah diatur, mereka terbiasa beradu satu sama lain. Tak heran Romawi dapat menaklukkan Germania dengan mudah. Ada juga yang berasal dari Galia, agak lebih cerdas, dan lebih mudah bersosialisasi dengan orang Romawi, namun mereka kurang dalam strategi militer, dan kebanyakan dari mereka bukan serdadu. Sekedar penerjemah, penunjuk jalan, dan medis. Dan yang paling banyak berasal dari Mauretania, mereka terbiasa hidup kasar dan punya naluri perang tinggi. Bahkan diantara mereka banyak yang veteran, terutama saat Romawi melawan Germania di Judea dan Thrace. Tapi karena faktor inilah yang membuat mereka susah bekerja sama dengan orang Germania.
"Saya perintahkan semua pasukan yang loyal terhadap Romawi, untuk membawa persediaan makanan, bunuh dan bakar semua desa bila perlu!"
Begitulah perintah pertamaku sebagai Centurion. Dan tak lama, satu persatu pasukan membawa pulang babi hutan dan rusa liar. Bahkan tak sedikit dari mereka yang membawa pulang wanita-wanita dari desa terdekat, sebagai hiburan. Namun diantar suka cita itu ada yang membawa pulang ketakutan yang luar biasa.
Teriakan itu menembus keriangan malam. Tak lama seorang Mauretania muncul dari balik kegelapan, dengan nafas terengah-engah, dan lari yang pontang-panting, seperti melihat Pluto tatap-bertatapan.
"Penerjemah! Tanyakan dia apa yang ia lihat!"
Penerjemah pun mulai bertanya dengan bahasa Mauretania yang aneh bagi telinga orang Romawi seperti Crassus. Penerjemah itu tercengang mendengar jawaban, begitu juga semua orang Mauretania teman-temannya. Lalu penerjemah itu menjawab sebisanya dalam bahasa latin.
"Furi…Furi, wahai Crassus yang perkasa!"
Furi, tak terbayangkan bahwa di Anglica juga ada furi. Makhluk jadi- jadian yang kerjanya hanya menteror kehidupan manusia fana. Orang berkata bahwa furi adalah dari bangsa peri yang jiwa tersisksa.
"Tanyakan lagi, dimana ia melihatnya! Dan tanyakan seperti apa rupanya!"
Tak lama penerjemah itu mulai menanyakan lagi kepada jiwa yang malang tersebut. Dan dari jawabannya membuat semua orang Mauritania berbisik- bisik dalam teror dan ketakutan.
"Di dalam gua, satu mil kearah utara. Matanya lebih seram dari Gorgon, badannya lebih besar dari Cyclop, dan suaranya lebih menakutkan dari Sersie."
Akupun bangkit, dan beranjak menuju kudaku. Aku naik diatas kudaku dan kuhunuskan pedang menebus udara malam.
"Aku pergi untuk membunuh makhluk itu. Siapa berani ikuti aku."
Dari empat kompi hanya lima orang Germania yang menjawab tantangan itu. Orang Galia memang tak bisa diharapkan, dan orang Mauretania semuanya ketakutan, mungkin karena mereka punya gambaran apa yangmereka hadapi.
Inci demi inci kami telusuri lansekap britania yang berkabut ini, sampai akhirnya kami sampai di gua yang digambarkan. Dengan perasaan berdebar kami masuki gua itu. Tak tahu apa yang menanti di dalam sana. Gua itu hitam kelam tak bercahaya, dan bau busuk menghiasi di setiap sudutnya. Tak sedikit pula kami lihat sisa-sisa manusia, yang mati sia-sia. Dilihat dari pakaiannya, sebagian dari mereka adalah druid. Gua itu seperti labirynth di pulau Minos. Penuh jalan berliku dan menyesatkan. Kami memutuskan untuk berpencar agar dapat lebih mudah menemukan makhluk itu.
Tak berapa lama setelah kami berpencar. Kutemukan makhluk itu sedang tidur. Ternyata ia adalah seekor naga. Naga yang masih sangat muda mungkin baru 190 tahun umurnya. Namun kehadiran diriku dapat diciumnya, dan sesegera itu ia terjaga.
Lalu ia berkata padaku dalam bahasa keltik yang tidak aku mengerti. Namun dari gelagatnya ia menanyakan siapa diriku. Dan ku jawab saja dengan bahasa latin
"Aku Crassus, panglima Romawi!"
Lalu dengan spontan sang naga itu menjawab, kali ini tidak dalam bahasa keltik seperti sebelumnya. Tapi dalam bahasa latin sepertiku.
"Oh…Anda dari Romawi? Saya sangat mengagumi bangsa Romawi, apakah anda mengenal teman saya anak diplomat? Atau anda mengenal Ovid? Dewi Minerva, itu salah satu sahabat saya."
Ia tak segan-segan mengumbar-umbar tentang dirinya sendiri, berkoar- koar sendiri tanpa arah tujuan pembicaraan. Bagaikan teriak di padang pasir. Hilang sudah di benakku tentang semua mitos yang ada tentang kehebatan dan kesaktian naga. Naga muda ini jauh sekali dari menyeramkan, bahkan cenderung menyebalkan.
Bosan mendengar ocehannya, kupotong saja pembicarannya.
"Kenapa kau mengintimidasi serdaduku?"
Naga itu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, benar-benar menyebalkan.
"Serdadu? Serdadu apa? Intimidasi? Intimidasi yang seperti apa? Kalau menuduh seseorang seharusnya dilengkapi dengan bukti. Kalau tidak dilengkapi dengan bukti itu namanya ngedumel."
Aku terheran-heran, kenapa seorang naga bisa begitu menyebalkan. Mayat-mayat yang bergelimpangan di mulut gua, mereka semua pasti mati kebosanan. Satu persatu minum racun, tidak tahan ocehannya.
Ia sepertinya perlu sekali lawan bicara. Karena itulah yang hanya ia lakukan, bicara-dan bicara.
"Kenapa begini, kenapa begitu? Kenapa moral? Kenapa etika? Apa itu moral dan etika? Sang kaisar semalam dan aku. Diskusi…Diskusi! Tokoh: anak diplomat. Kiamat…Kiamat! Biar sini saya rekam. Unethical itu solusinya. Mohon dijawab! Kalo ada kritik mohon diteruskan ke grup saya!"
Aku kasihan dengan dia. Dia pasti seorang bocah yang kesepian. Tak tega aku membunuhnya, walau pikiran itu sering kali terlintas. Lagipula buat apa? Aku yakin darahnya tidak akan bikin aku abadi. Malahan bisa-bisa keracunan aku dibuatnya. Lagipula aku punya urusan yang lebih penting.
Benar-benar naga muda yang aneh. Tidak ada api keluar dari mulutnya, yang ia jadikan sebagai senjata. Tetapi yang keluar hanya diskusi-dan diskusi.
"Ah, aku tidak punya waktu untukmu! Bunuh kamu itu percuma. Pendekar satu jurus, tidak lama hidupnya. Dibiarkan saja juga mati sendri."
Tapi naga itu cuma tambah berisik.
"Tunggu mau anda mau kemana? Saya sudah menerbitkan buku. Teman saya para pujangga dan anak diplomat. Saya punya grup sendiri. Bergabunglah dengan grup saya!
Demi Jupiter…! Istilah orang briton yang aku pahami "So what gitu lho…?!"
Feb 17, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment