"Maaf mas udah mau tutup."
Dengan sopan seorang karyawan toko buku berkata kepadaku. Ia terlihat sangat letih dan tak sabaran ingin melihat ku pergi. Kututup buku yang setengah jam ini kubuka-buka, dan menaruhnya rapi ke dalam rak. Benar juga, toko ini mau tutup. Hanya setengah lampu toko ini masih menyala.
Belum sampai depan, aku langsung disodori tas yang sudah lama aku titipkan. Kulihat ia sudah tidak lagi berseragam, menggenggam erat kunci tirai besi di depan.
"Mari mas!" Ucapku basa-basi, terlempar senyumnya yang juga basa-basi
"Huh lagi enak-enak baca!" sambil kukeluarkan jaket yang setengah basah dari tasku yang terlalu penuh.
"Akh, Tamrin masih penuh..!"
"lebih baik ku tunggu sampai ia agak kosong."
"Di kontrakan juga gak ada apa-apa."
"Eh tapi entar gak dapet TransJakarta."
"Duh pulang gak ya...?"
Akhirnya kunaiki juga TransJakarta itu, proyek ambisius yang super kontroversial. Duh jam segini masih penuh, mungkin karena hari terakhir gratis. Atau mereka juga enggan pulang sepertiku?
Aku turun di halte sisingamangaraja. Tidak ada orang disana. Hanya ada bapak penjaga, dan kedinginan Jakarta sehabis badai. Dingin sekali malam ini, kemeja dilapis jaket setengah basah tak mampu menahannya. Ataukah dada ini yang terlalu hampa. sepanjang jalan pulang kosong tak bernyawa. Lampu jalan pun setengah hati bercahayamenyambut kepulanganku. Keterawangkan saja pikiranku jauh dari jalan itu, jauh dari tujuan langkahku. Setidaknya lebih banyak kehidupan disana.
Tapi tidak disana, diketerawangan ku bertemu sosoknya. Tapi di lantai tiga, jendela ketiga dari kiri, tiga gedung sebelum gedungku. Tubuh sempurna itu seolah menanti kepulanganku. langkahku pun terhenti enggan beranjak. Kepada hati ku bertanya
"Siapakah pemilik siluet tubuh yang sempurna ini?
Hatiku hanya diam saja, namun khayalanku yang menjawab, membisikkan namanya.
"Dewi..! Namanya Dewi Aphrodite. Teman-temannya memanggilnya Dedit."
"Akh, tau darimana kamu?" kataku tak percaya.
"Pokoknya aku tahu. Dia anak tari IKJ, makanya tubuhnya begitu terolah
"Pantas saja! Tiap gerak-geriknya sarat akan makna."
"So pasti! Gerakannya berbicara akan kesedihan, bertutur akan cinta yang hilang."
"Kenapa ia belum menutup mata? Sudah selarut ini, namun enggan menyudahi malam?"
"Ia takut bermimpi. Bermimpi adalah bersiap untuk kecewa. Ia lelah akan kecewa. Ia takut tidur 100 tahun dan tak ada pangeran yang membangunkannya."
Anehnya kupercaya setiap perkataan khayalanku. Mungkin itu bukan kebenaran, namun kebenaran yang aku harapkan.
Siluet itu diculik, ditelan oleh kegelapan saat seluruh kota mendadak gelap gulita. Tak ada sekilas lampu pun terlihat di jalanan. Anginpun berhembus semakin kencang meneriakkan kesunyian. Awan hitam menyelimuti malam ini seperti malam-malam sebelumnya dari bulan dan bintang. Dan menyelimuti hati dari cinta dan pengharapan.
Hati yang gelap ini memohon sekuat tenaga untuk sedikit cahaya. Terangilah kamar itu dan mungkin akan terterangi pula hati ini. Namun tidak berhasil. Penantian ini terlihat semakin percuma, seperti penantian lain yang pernah kujalani. Dengan kepala tertunduk ku lanjutkan perjalanan pulang.
Gubrak, aku menabrak seseorang.
"Sori Mbak, gak kelihatan!"
sambil tersenyum malu ia membalas.
"Ga pa pa mas! Aku juga gak kelihatan."
"Mati Lampu sih mbak, jadinya gak ngelihat mbak jalan keluar."
"Iya nih, aku keluar juga gara-gara mati lampu. Habis daripada gelap- gelapan di kamar."
"oh, mbak ini ngekost di sini?"
"Iya, aku di lantai tiga, jendela ketiga dari kiri."
Feb 3, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment