Friday, July 11, 2008

MatiLampu#9

Yang ditunggu-tunggu datang juga hari ini. Terbungkus rapi sampulputih bertuliskan "express". Tidak cuma itu tulisannya. Ada jugaalamat pengirimnya, yang berada di belahan lain dunia, "Gibson GuitarCo. Custom Shop Division". Akhirnya gitar pesanan itu datang juga.
Maestro membuka sampul putih itu dengan cepat dan tergesa, sepertianak kecil di hari natal. Gitar itu tersembunyi dalam peti kerasplastik tahan banting berwarna abu-abu. Didalam cangkangnya masihdilapisi lagi oleh kayu yang keras dan rangka besi. Melindungi gitarpesanannya dari bahaya gravitasi bumi, dan gaya-gaya lainnya yangmungkin bekerja pada gitar itu.

Seperti perompak dan harta karun Maestro membuka peti itu. Perlahandan berharap cemas apakah gitarnya akan seperti yang selalu iaidamkan, ataukah akan cacat dan mengerikan, layaknya ibu yang sedangmelahirkan. Namun dari saat pertama ia layangkan pandangannya ia tahubahwa gitar pesanannya benar-benar sempurna.

Gitar itu tak ada duanya di muka bumi ini. Benar-benar unik, dibuatkhusus sesuai keinginan dan kebutuhannya. Dipahat dari mimpi. Petiitu seperti lubang dan anak kunci. Begitu pas mengikuti setiaplengkungan gitar itu. Membalutinya dengan beludru warna ungu, warnaraja-raja. Berkilatan di bawah lampu dan mentari. Sepucuk suratmenandakan keotentikannya. Menyiratkan keringat para empu gitar dalampembuatannya. Mahal, namun kebanggan memang tidak dijual murah.

Tinta emas terpahat di kepala gitar itu menuliskan kebanggaan apayang ia bawa. 50 tahun tradisi, nama yang tidak asing lagi di telingamusisi papan atas dunia, "Gibson".Kepala itu hitam legam sangat glossy oleh vernis. Di kanan kirinyaberjejer tiga buah tuner berlapiskan emas, seolah berbicara ini bukangitar sembarang gitar. Persis di tengah kepala gitar terdapat lambangyang hanya diketahui oleh sebagian orang-orang beruntung, bentuknyabulat bertuliskan "Custom Shop". Persis dibawah lambang itu, adatulisan lain, juga terpahat dalam tinta emas. Nama seorang empu gitarternama, seorang master luthier, seorang maestro sepertidirinya, "Les Paul".

Leher gitar itu juga hitam legam, tetapi tidak glossy sepertikepalanya. Di bagian atas leher itu, terbuat dari kayu eboni tua, danmahal, hitam seperti kopi. Dibagi menjadi 22 oleh lempengan logamtipis. Dibagian ketiga, kelima, ketujuh, kesembilan, dan keduabelasdari 22 bagian leher tersebut, diebri aksen bentuk trapezoid, terbuatdari seratus persen mutiara asli. Di atas mutiara di bagiankeduabelas terdapat inisial pemiliknya, inisial dirinya sendiri,inisial seorang maestro.
Di bagian bawah leher juga hitam, tetapi glossy seperti kepalanya.Menyatu dengan kepala dan badan gitar itu. Dan bukan dari eboni,tetapi dari kayu maple nomor satu yang sangat tua, sangat eksklusif,kualitas "AA". Sangat tua, sangat nyaring, dan sangat mahal. Benar-benar halus tanpa cela, dibuat khusus untuk mengikuti ciri-ciritangan kiri Maestro.

Badannya dicat perak menyala, divernis hingga berkilatan. Benar-benarmerata menyembunyikan guratan kayu watak asli kayu maple. Di balikcat itu dua lapis kayu maple kulitas "AA" mengapit satu lapisan kayumahogani. Empat buah knob plastik warna hitam legam menghiasi bagianbawah lekukan buntut gitar tersebut. Namun mereka bukan hiasan,apalagi mainan. Aksi tarik dorong dari dua knob itu mengontrolpotensio dan volume gitar, sedangkan yang dua lagi mengontrol tone.

Pickup asli Gibson beroutput tinggi 490R dan 498T hunbucker keramikklasik menjadi nyawa gitar itu. Dan hardware berlapis emasmenunjukkan kelas. Stop tail tuner non tremolo mengontrol ketinggiandan ketegangan keenam dawai D'Addrio 0.10 yang terpasang di gitar itu.
Seperti Alladin dan lampu ajaib, Maestro membelai setiap inci gitartersebut. Seperti ibu memegang bayinya, dipegangnya gitar itu ditelungkup leher dengan tangan kiri sangat pelan dan hati-hati. Iaterus memanjakan matanya dengan melihat gitar barunya itu penuh decakkagum, sambil tangan kanannya membelai mesra seluruh permukaan darikepala hingga buntut dengan cepat namun sangat hati-hati. Ia angkatgitar itu tinggi-tinggi seraya ia berdiri. Dengan pose patunglapangan banteng ia memegang gitar itu, dan berputar perlahanmenunjukkan gitar barunya dengan bangga ke seluruh penjuru dunia.Gitar itu seperti trofi pemburu, senjata perang, keris keramat, batumulia, piala oscar kesenangan dan kebanggaan pemiliknya.

Maestro langsung menyambungkan gitar itu ke seuntas kabel ¼ incispectraflex berbalut kain model setrika. Ini gitar bukan untuk matasemata, tapi untuk menjakan telinga. Maestro ingin menjajalkemampuannya. Di ujung lain kabel terdapat, begitu banyak elektronikpemroses gitar. Benteng pertama adalah pre amp eventide, rack systemtentunya. Bukan yang sederhana, tetapi yang paling canggih, denganbanyak tombol dan lampu yang menyala yang memusingkan gitariskacangan yang levelnya jauh daripada Maestro.

Belum lagi benteng kedua, yang lebih rumit lagi. Sebuah pemroses DSPLexicon model terbaru juga rack system tak berbeda dengan bentengpertama. Namun kemungkinan menjadi tak terbatas oleh kehadiran Boss.Tapi ini bukan efek Boss mobil-mobilan kacangan gitaris kampus punya.Atau multi efek basa-basi ala gitaris café. Ini mbahnya efek. Racksystem seperti yang dimiliki studio-studio rekaman kelas satu dunia.Ketiga benteng suara ini diatur oleh pedal pengatur MIDI. Dan belumwah kalau belum ada pedal Wah-Wah, merek Jim Dunlop, dan pedal Volumemerek Boss. Benteng terakhir sebelum masuk ampli adalah compressoruntuk antisipasi melemahnya sinyal. Bukan yang digital suarapabrikan, tetapi tabung suara dewa-dewa gitar seperti dirinya.

Suara yang meraung, padahal Maestro hampir-hampir tak menyentuh dawai-dawainya. Raungan suara itu tercipta oleh head cabinet sebelastabung, dan speker dua ratus watt 8x12 stack cabinet. Tapi ini bukanmatematika, 8x12 bukan 96 hasilnya, tetapi 30. Lebihtepatnya "Marshal JCM 6100 30th Anniversary series".

Dan bukan itu saja yang mencipta raungan tersebut. Satu ampli belumcukup untuk seorang maestro. Pemain lain boleh bermimpi memilikiampli sekaliber Marshall, tetapi tidak cukup memuaskan telingaMaestro. Agar lebih gahar ia pakai dua ampli sekaligus. Dan iamemakai Mesa Boogie Rectifier cabinet, dengan delapan speakerCelestion dua belas inci dalam dua banjar empat baris atas kebawah.Dibagi dalam dua kabinet yang terpisah. Barulah bisa dikatakbahwasanya gitar barunya itu diperlakukan secara adil.

Jari-jari menyelusuri tiap dawai dan tiap fret yang ada di gitar itu.Dalam berbagai posisi dan inversi. Mayor, minor, augmented, dandiminished. Semua skala dalam tiap nada dasar menjadi eksplorasi.Semua nada, semua formula, semua teori yang penah diajarkan kepadanyasemuanya dijajalnya. Mixolydian, Lydian, Eolian, semua dicobanya.

Tapi itu baru permulaan, kini Maestro mulai serius. Ia melupakansemua repertoir yang biasa ia mainkan. Dan mulai bereksperimen semuabentuk, dan semua suara yang mungkin tercipta dari gitar dan benteng-benteng suara. Mendadak seluruh ruangan terisi oleh dinding suarayang diciptakan oleh bertubi-tubi efek yang dihantarkan. Dari yangpaling manis sampai ke yang paling cadas, dari yang paling umumsampai ke yang paling absurd.

Hingga akhirnya dawai-dawai, gitar baru, benteng suara, dan dua ampliseolah menyatu dengan sang Maestro. Tidak ada lagi experimentasi, inisaatnya mematangkan semua konsep, menjadi kesatuan irama. Begitupiawai jemari Maestro menari-nari diatas dawai gitar itu. Dan gitaritupun begitu garang menyetubuhi jemari Maestro. Sehingga jemari itudihamili oleh inspirasi. Kehamilan tersebut menyebarkan virus yangmenyebar begitu cepatnya ke dalam darah, dan hampir seketika seluruhtubuhnya terinfeksi virus-virus inspirasi. Tubuhnya mulai melemah,melarut dalam emosi, terhanyut dalam melodi. Persetan dengan semuayang terjadi.

Tiba-tiba semua irama itu terhenti. Dan dinding suara itupun runtuhrata dengan bumi. Kerlipan lampu warna-warni yang menari di benteng-benteng suara kini tiba-tiba saja menghilang. Dan yang dapatterdengar hanyalah kebisuan, saat seluruh kota kehilangan energi.Maestro kebingungan, dengungan inspirasi berteriak ingin keluar. Dikepala terngiang semua konsep yang belum matang. Dalam darah masihmengalir virus-virus inspirasi. Masih banyak emosi berdesakan, mintadikeluarkan, minta diendapkan apapun medianya.

Maestro tidak ambil pusing. Bagi jemarinya yang terampil semua gitarsama bagusnya. Semua gitar semata media. Tanpa kepiawaiannya gitarmahal sekalipun tiada bernyawa. Diambilnya gitar akustik yang tua,hampir sama dengan umur Maestro, menemaninya selama seperempat abad.Dan mulai derasnya inspirasi yang selama ini tertampung, perlahaan-lahan dialirkan dalam alunan gitar akustik. Bendungan itu akhirnyadipecahkan dan lahan-lahan kering pun terairi, dan menjadi asrikembali.

Kesederhanaan gitar akustik itu membuat Maestro bereksplorasi ke arahyang lain, berbeda dengan sebelumnya. Bukan kearah yang absurd,permainan benteng-benteng suara, dan mengandalkan teknologi. Tetapike inti sebuah lagu, nada-nada yang menggugah, cerminan kedewasaan.

Kota kembali terisi oleh energi. Namun maestro tidak lagi peduli. Iaterus bermain dengan gitar tuanya. Ia cukup materi untuk albumberikut, yang besar kemungkinannya bertahtakan platinum.

Feb 22, 2004

No comments: