Ia berkokok di tengah malam. Seolah mengganti semua mitos bahwakokokan ayam menjadi pertanda menyingsingnya fajar. Seratus tahunyang lalu memang barang yang aneh bila ada seekor ayam berkokok ditangah kesunyian malam. Namun tidak demikian di jaman moderen ini.Sepertinya semua manusia terus berlomba-lomba membuat malam samaterangnya dengan siang.
Ayam itu bukan ayam yang bodoh, atau kualat menentang mitos. Ia hanyatak mengerti soal jam, dan konsepsi AM atau PM. Ia bergerak sesuainaluri. Nalurilah yang mendorong dia untuk berkokok. Sama sepertiketika ia menjatuhkan semua lawan-lawannya. Ia bertarung sesuainaluri.
Namun pak Haji tak mau mengerti. Untuk kesekian kalinya ia terbangunoleh kokokan ayam itu. Tanpa pikir-pikir lagi ia keluar dari rumahnyadengan busana seadanya. Ia ambil sembarang bongkahan batu yangberserakan di beranda rumahnya, dan ia sambit kandang ayap itu. Batuitu jitu mengenai dan menggores sayap ayam itu, hingga ia terdiammenahan laju darah yang mengucur dari sayapnya itu. Ayam itu tidakmelawan, tegar dengan nasibnya itu, seperti layaknya petarung sejati.
Di dalam hati si ayam jago terletak hati petarung, hati pejuang.Walaupun ia sudah lama tidak menggunakan cakarnya lagi. Tapi tiapkesempatan yang ia temui ia mengasah cakar-cakar itu dengan mengais-ngais tanah. Begitu juga mengasah paruhnya. Paruhnya sudah lama tidakmencicipi darah, walaupun sebenarnya dari dulu ia tidak suka. Baginyabiji jagung itu lebih nikmat ketimbang darah. Bukan karena ia ayampengecut. Namun baginya semua ayam adalah saudara.
Tetapi jika ia sudah naik keatas ring dan kehormatannya merasaditantang. Itu lain cerita. Bukan kesehariannya yang cinta damaimenyertai tingkah lakunya. Tetapi naluri untuk bertarung yang jadiandalannya. Saat itu ayam jago tidak punya saudara. Tiap naik ringnalurinya berbisik
"Selesaikan dengan cepat! Lebih cepat lebih baik. Datang! Lihat! K.O.kan! Jangan ulur-ulur waktu! Gak usah pake `foreplay'! Biar berbekasdibenak lawanmu ini dan semua calon penantangmu, `Jangan main-maindengan aku! Aku tidak tinggal diam bila kau usik ketentramanku.' Ayamjuga punya harga diri, Bung."
Tapi itu semua di masa lalu. Dan ini adalah masa sekarang. Goresantajam hiasi dahi. Luka dan memar yang tak mau pergi. Hari-hariditemani pincangnya kaki kiri. Ligamen terkoyak yang urung sembuh.Dislokasi sayap. Iga yang remuk. Fraktura tiga tempat. Batoktempurung yang bolong sebesar biji jagung makanannya, menunjukkanotak yang kecil tak seberapa, yang selama ini disembunyikannya.Penglihatan buruk, tak tahu mana fajar dan mana lampu. Luka lecet,oleh-oleh pak Haji.
Masa depannya: ayam jago pensiunan. Tidak lagi jagoan. Mungkin hanyajadi pejantan. Atau berakhir di penggorengan. Walaupun daging ayamjago alot. Tapi kucing pak haji pasti suka.
Pagi ini pak Haji tidak melakukan semua ritual pagi harinya dahulu.Memandikan ayam jago dan motor kesayangan. Motor itu sudah dijual,untuk membayar hutang. Kemarenan pak haji kalah besar gara-gara siayam jago. Karenanyalah pak Haji tidak memandikan si ayam jago. Iamasih dendam kepada ayam jago itu.
"Ini semua gara-gara kamu. Kalau ayam pincang seperti kamu ada yangmau, akan kujual kamu daripada motor kesayanganku" Sambil mengacung-acungkan jarinya.
Ayam itu tak menggubris. Lagipula buat apa? Karena dialah pak Hajimampu membeli motor itu. Uang itu adalah hasil taruhan yang ia dapatdengan mempertarungkan ayam itu dari kampung ke kampung. Namun pakHaji tidak sudi berbesar hati. Merasa diejek, pak Haji menendangkandang ayam keras-keras, walau tidak sampai terguling, namun cukupuntuk membuat kegaduhan di tempat tinggal ayam itu.
Yang seharusnya menjadi terdakwa adalah pak Haji. Salah sendirikemarenan memasang taruhan pada ayam pensiunan. Pak Haji terlalupercaya diri. Ayamnya memang selalu juara dari kampung ke kampung.Namun pada saat pertarungan terakhir si ayam sedang tidak fit.Paginya saja ia diam dan tidak seaktif biasanya. Harusnya pak Hajicuriga, ada yang tidak beres dengan ayamnya itu. Namun tetap saja pakHaji memaksa. Walhasil ayamnya disikat habis oleh lawannya.
Ayam yang malang itu terkapar hampir tak bernyawa. Hati pejuangnyalahyang bisa membuat dia bertahan. Namun pak Haji tidak peduli soal hatipejuang, bahkan ia tidak peduli kalau ayam punya hati sama sekali. Ialebih peduli sama berapa besar kekalahannya saat itu.
-Penulis kasihan pada ayam pensiunan itu. Menghela nafas sejenak.Lalu mulai menulis lagi.-
Masih merasa kesal. Semena-mena pak Haji menggusur rumah ayampensiunan itu. Memindahkannya dari kandang mewah, singasana. Jauh kebelakang bersama ayam-ayam yang lain. Ia bukan lagi jagoan, tetapiayam pejantan biasa. Tidak berstatus atau berkedudukan. Tak ada lagimandi pagi. Atau pijat full body. Makanan tersaji diatas piring. Ataupanggilan kesayangan. Kini ia hanyalah seekor ternak, yang makanuntuk hidup dan hidup untuk makan.
Kandang ayam setengah kosong menurut pandangan ayam pensiunan saatini. Bisa juga setengah penuh menurut pandanagan ayam optimis. Memangsudah begini beberapa bulan ini. Setengah dari mereka sudah jadi ayambakar yang tak ada mau memakan. Semua bermula saat beberapa ayammulai bersin-bersin. Dan kini ayam pensiunan untuk pertama kalinyaakan tidur bersama mereka tak ubahnya sebagai ternak. Hanya soalwaktu ia mulai bersin-bersin juga.
Sebagai pejantan, ia kalah produktif, maklum usia senja. Taksebutirpun telur yang ia hasilkan selama ini. Tapi pak Haji cumangerti marah-marah. Mana ngerti dia bahwa jamu yang selama ini iacekoki ke ayam jagonya itu juga punya efek samping. Kalau sudahbegini opsi yang tersisa hanya penggorengan. Jadi hidangan buatkucing pak Haji.
Di suatu malam keresahan timbul di antara ternak-ternak. Semua ayamberkok tidak karuan, dipicu oleh sebuah kecemasan. Di atas tanahsebuah ular kelaparan, meliuk-liuk mencari makanan. Siapa yang jadisantapannya malam ini? Tentunya ia mencari ayam yang tergemuk danterlemah. Selera ular itu persis. Ayam itu tak akan pergi jauh,gerakannya yang lambat, bobot berlebih penuh lemak, akan menjadisasaran yang empuk bagi ular itu.
Liukan ular pun terhenti, dihadang oleh hadirnya ayam pensiunan. Danayam itu tidak sedang sendiri. Ada naluri petarung yang masih setiamenemaninya. Naluri itu sudah kangen akan pertarungan. Dan sepertisebelumnya naluri itu berbisik
"Datang! Lihat! Dan K.O. kan! Gak usah banyak `foreplay'! Selesaikandengan cepat! Lebih cepat lebih baik. Kalau perlu sampai mati. Biarular itu memahami, ayam juga punya harga diri."
Dan segera kedua makhluk itu memasang kuda-kuda. Dan mereka salingbertatapan sejenak. Bukan sembarang tatapan, tapi tatapan penuh arti.Dari kedua tatapan tersebut lahir sebuah kesepakatan yang taktertulis, salah satu dari mereka harus mati malam ini.
Ular pemangsa sekarang ular pensiunan. Terseok-seok meninggalkan ayam-ayam itu dengan sekujur tubuh penuh dengan luka cakar dan paruh. Ularitu terluka parah, namun masih tetap bisa bernafas. Dan sesuaiperjanjian ayam itu harus mati. Dua lubang taring penuh bisamenghiasi leher ayam itu. Dua lubang itu menjadi pertanda betapasengitnya pertarungan mereka.
Persis disaat bisa ular itu merenggut denyut terakhir ayam itu,seluruh kampung gelap gulita. Tak ada tanda sedikitpun hebatnyarekaan manusia yang bernama lampu itu. Semua ayam di kampung itu takada yang bersuara. Menghormati kepergian seorang petarung yang hebat.
Ayam itu mati seperti layaknya seekor petarung sejati. Ayam itu bukanmati oleh usia. Atau mati oleh sebuah epidemik. Atau kelalimanpenguasa yang tidak tahu diri. Apalagi berakhir di atas wajan, jadihidangan buat kucing pak Haji. Tetapi oleh lawannya sendiri. Di dalampertarungan yang teramat akbar. Pertarungan yang bersandar kehormatanseluruh bangsa ayam.
Feb 19, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment