Friday, July 11, 2008

Laba-Laba perajut

"Ayo...Ayo! Datanglah dan buktikan sendiri, bahwasanya tak ada makhluk yang dapat merajut sehebat Laba-laba!"

Laba-laba itu berteriak dengan lantang, suaranya terdengar ke seluruh penjuru hutan. Ia mengangkat topinya dan menepuk dada, lalu berteriak lebih kencang lagi.
"Ayo...ayo! Datanglah dan akan kubuatkan baju yang selalu kau idamkan, yang kerap mengusik mimpimu! Ayo...ayo!"

Tak lama satu persatu makhluk hutan pun keluar atas rasa ingin tahu mereka. Mereka mengahmpiri toko baju sang laba-laba, dan melihat dengan penuh decak kagum saat Laba-laba itu melayani pelaggan pertamanya. Kedelapan tangannya bekerja merajut secepat kedipan mata. Secepat itu pula sang beruang sudah terbungkus rapi dengan baju buatan Laba-laba.

Seluruh hutan pun bergegas memasuki toko kecil itu, dan tak satu pun yang keluar tanpa senyuman menghiasi wajah mereka. Toko itu untung besar. Tak percuma ia disebut "Laba" dua kali.

"Ini adalah pekerjaan mudah bagi Laba-laba, baju seluruh penghuni hutan pun dapat kukerjakan dengan sekejap." Katanya seraya seorang pengunjung memuji keindahan dan kecepatan kerjanya.

Ia pun menepuk-nepuk dadanya lagi, kali ini lebih keras. Ia layangkan pandangan setengah menantang keseluruh penjuru hutan. Dan ia berteriak lebih lantang dari sebelumnya.
"Ayo...Ayo! Tak ada makhluk yang terlalu kecil, dan tak ada makhluk yang terlalu besar. Semua pesanan akan ku layani."

Ia berteriak begitu lantangnya suaranya dapat terdengar oleh penghuni-penghuni langit.

Tiba-tiba rembulan muncul dari balik pepohonan. Mendekat seolah hendak jatuh ke Bumi. Seluruh penghuni hutan pun ketakutan bahwa Bulan akan jatuh menimpanya. Kocar-kacir minggalkan toko itu, dan bersembunyi ke gua-gua.

Belum sempat Laba-laba berlari, Bulan menunjukkan mukanya dan berkata.
"Jangan Biarkan ketakutan menipu akal sehatmu, hai Laba-laba! Aku datang meminta jasamu."
Suaranya menggelegar menggetarkan tanah tempat laba-laba itu berdiri. Dicoba ditelannya rasa takut itu, dan terlempar senyuman hangat ke arah sang Rembulan.

"Dan jasa apa makhluk sekecil laba-laba bisa lakukan untuk sang Rembulan."
"Terdengar olehku bahwa engkau teramat piawai dalam membuat baju. Namamu tersohor bahkan di pelosok langit sekali pun. Bila engkau sebagus katamu, maka buatkanlah aku baju yang dapat melindungiku dari dinginnya malam ini dan malam-malam lainnya."

Laba-laba itu pun tersenyum, terbuai oleh sanjugan yang diberikan oleh makhluk semulia Rembulan. Dan tanpa pikir panjang ia langsung menyetujui tawaran itu. Dengan menepuk dada ia membalas

"Pintamu aku dengar, dan akan segera terlaksana. Namun apa balasan untukkubila segala pintamu terlaksana?"

"Aku adalah Rembulan, penguasa cahaya malam, dan pengendali pasang-surutnya air di laut. Tidak ada kuasa di Bumi ini yang dapat mengganggumu bila Rembulan menjadi sekutumu."
Laba-laba itu tersenyum dan menepuk dadanya. Segera mereka berjanji dua malam berikutnya.

Tanpa basa-basi kedelapan tangannya langsung bekerja merajut pesanan yang teramat akbar ini. Seluruh pesanan lainnya langsungditinggalkannya. Kedelapan tangannya bekerja siang dan malam tanpa henti meskipun letih menghampiri tangan tangan itu satu-persatu. Perutnya memintal benang yang keluar tanpa henti-henti siang dan malam meskipun berkali-kali ia hampir menyerah.

Menjelang datangnya tenggat waktu, saat Laba-laba itu hampir kehabisan benangnya, dan hampir kehabisan tenaganya, baju itu selesai. Bukan main besarnya, dua kali luas daratan. Menutupi daratan dan lautan, gunung-gunung dan lembah-lembah.

Bulan tak sabar ingin melihat hasilnya sehingga datang lebih awal dari seharusnya. Terlihat olehnya baju barunya itu, segera ia mencomot baju itu dan memasangkannya.

"Akh...tidak muat! Baju ini terlalu kecil untukku."

"Maafkan aku Rembulan. Cobalah mengerti! Dua malam yang lalu engkau hanyalah sebuah bulan sabit. dan sengkarang engkau hampir purnama."

"Buat apa baju yang hanya dapat kuapakai sebulan sekali?" kata bulan seraya mencampakkan baju itu ke arah bintang bintang. Dan pergi menjauh dari Bumi.

Laba yang sekarat, hampir tak berbenang itu menyesali perbuatannya.

"Aku menjadi korban kesombongan dan kebodohanku sendiri. Ini sama saja kalah dua kali."

Jan 22, 2004

No comments: