Friday, July 11, 2008

MatiLampu#6

Umur ternyata bisa dibeli, kalau uangmu segunung. Apalagi bila dosamu segunung juga. Mungkin dapat dimengerti mengapa dirimu begitu takut akan mati. Takut kehilangan harta benda, takut akan hilangnya kekuasaan, atautakut bahwa tidak ada orang yang akan datang ke pemakamanmu. Takut bila di batu nisanmu tertera "DISINI BERISTIRAHAT KORUPTOR TERBESAR DUNIA". Takut orang yang dahulu kau tindas menari-nari di atas kuburanmu.

Tak usah takut, kawan! Pasti ada yang menangisi kepergianmu. Orang-orang rumah sakit itu pasti bersedih kehilangan pasien utamanya. Rumah sakit itu semakin maju berkat uangmu. Mungkin mereka akan menamakan rumah sakit itu dengan namamu. Betapa tidak, semua bilik pernah kau inapi, semua obat pernah kau cicipi, semua operasi pernah kau jalani, dan dokter dari segala jenis pernah merawatimu. Orang-orang itu akan datang dengan mobil sport mereka, jam tangan emas, dan sepatu itali. Semua itu mereka dapat dari uangmu.

Seharusnya dulu uangmu kau tabung saja! Pasti bisa kau beli jatahmu di surga. Atau menyogok penjaga pintu neraka. Sebaliknya kini kau gadaikan hartamu dan hidupmu untuk menunda kematian.

Lihat parutan di tubuhmu! Hampir sama banyaknya dengan umurmu.
Kamu juga menggadaikan identitasmu. Kamu sudah tidak pantas lagi disebut anak bangsa. Lihat saja jantungmu! Jantung impor, "Made in Japan".

Kamu menggadaikan harga dirimu. Bernafas saja harus dibantu. Binatang saja tidak begitu.

Kamu menggadaikan kebebasanmu. Gerak-gerikmu diatur oleh panjangnya kabel mesin-mesin yang menyokong hidupmu.

Malam itu kamu gelisah sekali. Terbaring lumpuh di tumpukan mesin dan kabel. Tak mampu sekejap saja kau pejamkan mata, di tengah bisingnya suara monitor jantung, tetesan cairan infus, dan respirator.

Kau mencoba menerawangkan anganmu dari ruangan itu, mencoba kembali ke masa lalu, masa jayamu. Namun hanyalah kenangan pahit yang kau dapati. Hanya luka dan dosa lama yang akan selalu setia menghantuimu.

Detak jantungmu dan nafasmu semakin cepat, oleh hantu-hantu di kepalamu. Suara mesin-mesin penyelamatmu berteriak lebih kencang, mengiris-iris otakmu, memekakkan telinga, membuatmu gila. Di dalam hati engkau mengumpat dan menyuruh mereka diam. Dan tak lama kemudian diam lah mereka semua.

Seluruh kota gelap gulita, namun bilikmu masih terang benderang. Bukan oleh lampu, tapi oleh terowongan putih yang ada di hadapanmu. Dari terowongan itu aku menjemputmu. Kau pun terkejut melihat diriku, terselimuti oleh rasa takut. Engkau tidak menyadari bahwa engkau terbangun meninggalkan jasadmu. Dengan usaha yang keras kau coba menyalakan kembali mesin-mesin itu, seraya ku dekatimu langkah demi langkah. "Percuma saja kau lakukan itu. Semua kuasa di dunia tak dapat menyelamatkanmu" Kataku, Sang Malaikat Kematian.

Jan 13, 2004

No comments: