Friday, July 11, 2008

MatiLampu#5

Pagi belum habis di suatu siang yang panjang di musim panas Jepang, Toko ikan itu sudah pasrah menunggu pengunjung. Hari itu mungkin hari terakhirnya. "Sudah ada yang beli?" kata seorang tua pada isterinya. "Belum,dan mungkin tak akan ada lagi." sahut istrerinya dengan suara yang halus. Suara sng isteri memang dari dulu halus, namun tak sehalus hari itu, sudah tak ada semangat lagi yang keluar dari mulut itu. Sang suami menjawabnyadengan senyum. Senyum itu hanyalah senyum yang kecil. Tak cukup untuk menutupi kegelisahan hatinya. Apalagi menenangkan keresahan isterinya.

Gerak mereka lambat dikekang usia, seraya mereka membereskan jualan mereka. Satu persatu mereka masukkan ikan-ikan jualan mereka ke dalam kotak garam. Garam, itulah yang mereka gunakan untuk mengawetkan dagangan mereka. Toko itu toko kecil, mereka tak mampu membeli kotak pendingin, kalaupun bisamereka tak bisa membeli gas sejuk (*Ether) untuk kotak itu. Toko itu toko kecil tidak seperti toko seberang jalan.

Dari jendela mereka masih bisa melihat antrean panjang di toko seberang. Mereka pun saling bertukar pandangan untuk sejenak, lalu empat mata itu melihat ke arah ikan terakhir yang ada di genggaman sang isteri. Sang isterimenyimpan ikan yang terakhir itu di letakkannya dengan rapi di tumpukan ikan ikan yang lain. Sang suami melihat toko seberang itu lagi dan dengan kepala yang tertunduk menutup tirai jendela, mungkin untuk yang terakhir kalinya.

"Mau kemana kamu?" sang isteri bertanya ketika melihat suaminya memasangkan topi di kepalanya. "Jalan-jalan, kamu kalau capai tidur sajalah!" jawabnya. Sudah lama ia tidak melakukan hal itu. Sejenak ia ingin mengalihkanperhatiannya dari toko kecil itu. Isterinya hanya berdiri di anak tangga dan melihat ke lantai, di saat suaminya menutup pintu dan pergi.

Langkah kecil sang suami mengantarkannya ke toko seberang. Besarnya luar biasa, 3 lantai dan hampir memakan sepertiga blok. Segala jenis ikan dapat ia temukan, bahkan ikan yang sama sekali asing baginya. Semuanya rapitersusun di atas rak dan lantai yang mengkilap. Begitu masuk kau langsung dijamu oleh orang-orang berpakaian eropa dan senyuman di muka mereka.

Di samping toko itu adalah gudang yang semuanya memakai pendingin. Kotak pendingin, membelinya saja kamu harus ke Tokyo, uang kesana pun ia tak ada. Perawatannya pun tak kalah mahalnya, gas sejuk tak dijual di sembarang tempat.

Separuh ikan di laut pasti ada disana pikirnya. Luasnya saja sepuluh kali toko kecilnya. Di lihatnya truk masuk berisi ikan dari setengah pasifik jauhnya. Truk itu disambut oleh bos toko itu. Bos dari Yokohama dari keluarga pengusaha keluar sambil menghitung labanya hari itu. Bos dari Yokahama datang setahun yang lalu, bersamaan dengan kembalinya burung-burung dari selatan. Burung-burung itu pergi suatu musim dingin dan tak pernahkembali. Mungkin asap dari pabrik menghalau mereka tuk tak kembali, atau ikan makanan mereka habis ditangkap Bos dari Yokohama. Nasibnya mungkin akan sama dengan burung-burung itu, terhempas dan tenggelam oleh tingginya ombak teknologi.

Langkah kecilnya itu membawanya ke tepi sungai. Dilihatnya arus hitam pekat mengalir di sungai itu, asalnya dari pabrik besi. Limbah pabrik itu menyebabkan ikan-ikan tak pernah mendekat muara lagi. Kalau mau tangkapanyang banyak ia harus berlayar ke jantung lautan pasifik. Suatu hal yang mustahil bagi orang seusianya. Suatu hal yang mudah bagi Bos dari Yokohama dan puluhan kapalnya.

Malam itu ia tidur dengan gelisah memikirkan nasibnya. Orang kecil sepertinya memang ditakdirkan untuk mengalah. Mungkin ia akan menutup usahanya dan bekerja di pabrik besi, atau pindah ke gunung dan bertani.Pengorbanan itu memang perlu, kata Kaisar semua rakyat harus berkorban, Jepang sedang bersiap untuk perang. Bahkan seluruh desa pada malam itu. Listrik terpaksa dipadamkan karena pabrik besi sedang butuh energi lebih.

Pagi sekali ia terbangun oleh ketukan kuat di pintunya. Ia membangunkan isterinya dan bergegas kebawah. Dilihatnya banyak orang sedang menunggu untuk membeli ikan. Ia pun membuka pintu tokonya sementara sang isteri mengeluarkan semua ikan yang mereka punya. Semua orang berebut masuk, dan toko kecil yang kemarin sepi, hari itu menjadi gaduh. Mereka berdua kewalahan mengahadapi langganan walaupun ia sudah menaikkan harga ikan lipat dua dan tiga. Bos dari Yokohama hanya bisa gigit jari semua ikan-ikannya busuk akibat padamnya lampu semalam. Semua pelanggannya pergi ke toko kecil yang hanya bermodalkan kotak garam itu.

Tiba-tiba terdengar suara kapal, begitu bisingnya hampir memekakkan telinga. Tidak hanya satu tetapi banyak, banyak sekali. seluruh pelanggan bahkan seluruh desa keluar ke jalanan dan melihat ke arah pantai. Kapal-kapalperang Jepang berlayar menuju cakrawala. Yang membuat kapal-kapal itu pasti raksasa, besarnya 100 kali kapal nelayan, dan jumlahnya pun banyak sekitar tiga puluhan. Ada yang besar, ada yang sangat besar, bahkan ada yangmengangkut pesawat2. Mereka bergegas dalam iringan membentuk sebuah parade unjuk kekuatan. Berbaris menuju Pasifik, lebih tepatnya kearah Hawaii. Mengukir nama dalam sejarah dalam peristiwa bernama Pearl Harbour.

Dec 25, 2003

No comments: