Sore sore si bungsu baru pulang. Maklum sehabis les matematika ia les piano. Tanpa basa-basi ia langsung masuk kamar, melepas letihnya yang luar biasa. Terlalu banyak beban bahkan untuk orang dewasa, apalagi untuk anak seusia itu, yang belum lagi kepala satu.
Sang ibu tak banyak bicara bahkan ke anaknya sendiri. Seharian ia menonton opera sabun. Ditemani tumpukan tisu, basah oleh air mata. Kotak gambar seolah menyihirnya. Membuatnya buta akan dunia yang nyata. Membuatnya lumpuh akan tugas rumah tangga. Dan tuli akan suara anak kecil yang baru saja pulang ke rumahnya.
Si sulung muda belia. Primadona di sekolahnya. Hari itu saja sudah tiga pria yang menelponnya mengajaknya berkencan. Dari pulang sekolah ia tak keluar kamar. Hanya berbual lewat telpon. Sambil diiringi lagu R&B, yang tidak ada hubungannya dengan "R" apalagi "B".
Malam sekali ayah baru pulang. Biasanya juga begitu, semua orang juga begitu. Apalagi di bulan promosi seperti ini. Ia harus mempesiapkan bahan presentasi, besok pagi rapat penting. Hanya itu yang ada di kepalanya. Mana sempat ia memikirkan hal-hal tak penting seperti "apa kabar anak-anakku hari ini?".
Lampu pun padam. Tidak ada pendingin ruangan yang menemani tidurnya si bungsu. Tidak ada komputer yang menyita waktu ayah. Tak ada opera sabun yang menyihir ibu. Tak ada telpon dan "R&B" si sulung. Semuanya kebingungan. Ibu langsung sekejap mengintip tetangga lewat jendela, siapa tahu saja TV mereka masih menyala. Semua sinyal telpon mati seketika. Seluruh kota gelap gulita.
Mereka pun keluar dari mikro kosmosnya masing-masing, kesal dan kebingungan. Cuma ada satu saja lilin yang tersisa di rumah itu. Cuma itu satu-satunya penerangan mereka untuk malam itu. Cahaya lilin menjadi sumbu, saat semuanya duduk melingkar di ruang keluarga. Mereka saling bertatapan. Menatap muka-muka yang kian hari semakin asing bagi mereka. Untuk pertama kalinya mereka mereka bukan individu.
Satu persatu mereka mengungkapkan kekesalan mereka atas matinya lampu. Dan bagaimana mati lampu ini memisahkan mereka pada benda-benda kesayangan mereka. Benda-benda pengganti kasih sayang keluarga. Perdebatan semakin seru, semua orang punya cerita, semua orang punya pendapat. Dan mereka semuamenyadari betapa sedikitnya yang mereka tahu tentang satu sama lain. Untuk pertama kalinya mereka bertukar kepala, untuk pertama kalinya mereka mulai saling mengenal.
Keluh kesah telah berubah menjadi cerita, dan cerita pun berubah menjadi gelak tawa. Untuk pertama kalinya mereka punya dunia bersama. Tidak ada bahan presentasi, tidak ada televisi, tidak ada telepon dan tidak ada lespiano. Yang ada hanya hangatnya kasih sayang.
Malam semakin larut anak-anak pun tidur terlelap. Tidak di kamar masing-masing tapi di pangkuan ayah dan ibu. Ibu merebahkan kepalanya di pundak ayah. Seiring dengan berakhirnya cahaya satu satunya di rumah itu.
Malam itu malam yang bahagia untuk mereka. Untuk pertama kalinya mereka adalah sebuah keluarga.
Nov 29, 2003
Friday, July 11, 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment