Friday, July 11, 2008

MatiLampu#3

Seorang janda tua dan ikan-ikannya, sudah seperti anak sendiri. Tiap hari ia mengasuh mereka, karena tinggal merekalah yang benar-benar ia punya.

Tiap hari ia bangun, ia pergi ke mesin penjawab , lalu pergi ke ikan-ikannya, ucapkan selamat pagi. Selesai mandi, ia pergi ke mesin penjawab , lalu pergi ke ikan-ikannya untuk berbincang bincang . Selesai belanja ia pergi ke mesin penjawab, dengan penuh harapan akan suatu suara yang ia rindukan, suara anak semata wayang.

"You have no messages at this time" seru si mesin penjawab. Sedikit kecewa ia pergi ke ikan-ikannya danmemberi mereka makan.

Sisa sore itu dihabiskannya dengan berbincang dengan ikan-ikannya. Dia hanya bercerita tentang satu hal, anaknya semata wayang. Tentang anaknya yang mengadu nasib di utara. Tentang anaknya yang sudah lama tak menelpon, tiga natal ia sendiri. Tentang menantu, dan cucunya yang ingin ia lihat sekali lagi sebelum mati.

Malam itu seluruh kota gelap gulita, ia bersandar di kursi samping jendela favoritnya. jendela itu jendela istimewa, karena ia menghadap ke utara, tempat anaknya berada. Malam itu tenang sekali tak ada suara televisi, tak ada suara tetangga, dan sayangnya tak ada suara mesin akuarium.

Janda tua terlelap, dibuai heningnya kegelapan malam. Tak sedikitpun ia sadar akan nasib ikan-ikannya. Di akuarium itu, semua ikan menjadi lasak, semuanya berebut udara. Dan lama kelamaan semakin sepi, semua ikan kehilangan akalnya, semua ikan kehilangan harapannya.

Tak lama satu persatu ikan ikan itu mulai naik ke permukaan, seolah-olah diangkat oleh kekuatan yang lebih besar. Dan satu persatu mengambang di permukaan, diam tak bernyawa.

Pagi sudah menjelang. Janda tua terbangun oleh suara mesin penjawab. Ia bergegas ke arahnya. Di angkatnya gagang telpon dan disambutnya suara yang ia rindukan itu. Anak semata wayang, rindu ingin pulang. Ia gembira,meneteskan air mata bahagia. Dan ingin segera ia bercerita sebuah kabar bahagia, kepada ikan-ikan di akuarium.

Nov 23, 2003

No comments: