Seorang pengacara muda di tengah kasus penting. Dari kasus ini ia berharap menjadi mitra. Ini kasus yang dia idam-idamkan.
Jam sembilan malam, ia tinggal sendirian di kantor. Tumpukan buku dan kitab perdata di mejanya. Besok sidang. Besok sidang, tip tanpa nama belum juga menelpon. Semua bukti, berkas dan kitab perdata tak ada artinya tanpa telpon ini.
Besok sidang, kasusnya di ambang kehancuran. Tanpa nama belum menelpon, mungkin dia tidak hapal nomor kantornya. Biasanya dia langsung ke ponsel, takut disadap katanya.
Besok sidang, karirnya di ambang kehancuran. Tanpa nama belum menelpon.
Baterai ponsel tinggal satu strip. Pengacara tak mau ambil resiko, segera ia mengisi ulang baterainya.
Seluruh kota gelap tiba-tiba. Tak satu watt pun sempat mengalir ke ponselnya. "sh!@, m%^$#rf^%k..!" dan sumpah serapah lainya meluncur dari bibirnya.
Pengacara duduk lemas di lantai, berharap ia sedang bermimpi. Besok sidang, karirnya di ambang kehancuran. Dia berteriak dan menutup kupingnya tiap kali ponselnya, menjerit minta energi.
Telpon masuk, baterai habis, kota gelap, karir pengacara lebih gelap lagi.
Nov 22, 2003
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment